Tuesday, September 30, 2014

What kind of parents are you?

What kind of parents are you?

SITUASI 1: Anak 3 tahun lagi main-mainin bola. Dia lempar-lempar dan coba masukin ke keranjang basket mini yang memang ditaroh di ruang keluarga. Suatu saat salah sasaran dan kena gelas kesayangan anak di atas meja, pecah gelasnya.

Ortu A: “ADDEEEKKK!!!!!! Kan mama udah bilang berkali-kali kalau main ati-ati! Denger ga sih?! Ampun deh ini anak nakal bener sih, susah banget sih dinasehatin. Coba itu gelas jadi pecah kan. Kamu nyusahin mama aja, bahaya tau. Kamu mau kakinya luka? Udah sana masuk kamar (sambil dorong anak dengan kasar).  Ga jadi mama beliin es krim!”

Ortu B: ”Aduh sayang, awas-awas jangan disana nanti kena pecahan. Maafin mama lupa tadi naroh gelas di situ, ga langsung dibawa ke dapur abis adek minum tadi. Jadi kena bolanya adek deh. Cup cup sayang jangan nangis. Adek mau apa? Oh mau gelas kayak gitu lagi? Oke oke..nanti mama beliin lagi ya, kita cari yang  sama persis ya.”

Ortu C: ”Aduh adek.. mainnya lebih hati-hati dong, apalagi kalau di dalam rumah. Sekarang gelas adek pecah kan jadinya, berarti adek tidak punya lagi gelas Pooh ya.  Sini bolanya mama simpan, kita beresin dulu ini. Tapi karena banyak pecahan, nanti adek bisa luka. Jadi mama beresin dulu pecahan-pecahan gelasnya, nanti adek bantu buang ke tempat sampah aja. Deal?”

Ortu D: ”Mba..adek pecahin gelas tuh. Tolong beresin. Si adek suruh main kamar lain dulu aja waktu kamu beres-beres.”


----------------------------------------------------------------------------------------------------

SITUASI 2: A usia 8 tahun, sedang antri dokter dan di ruang tunggunya ada mainan-mainan. Ia main pesawat-pesawatan, lalu ganti ke puzzle. Ga berapa lama B datang dan ambil pesawat-pesawatan yang tadi dimainin A. A langsung rebut dan bilang ”Ga boleh. Aku belum selesai mainnya. Aku cuma mau main puzzle sebentar kok terus main pesawat lagi.” B ga terima, dan tarik-tarikan sampai akhirya sayap pesawatnya patah.

Ortu A: “A! Main yang bener kenapa sih? Heran..ga bisa ya kalau ga pake berantem kalau main? Udah sini diem, duduk! Awas kamu ya, kalau ga bisa dikasih tau besok-besok ga mama beliin mainan lagi!”

Ortu B: “A mau main pesawatnya ya? B, kasih pinjem ya ke A, kan kamu udah besar…ngalah ya sama adek? Ga mau? Hmmm, ya udah A..nanti mama beliin lagi ya pesawat-pesawatan yang lebih bagus dari ini. A main ini aja dulu nih yang lain banyak.”

Ortu C: ”A, itu kan bukan mainan punya A. Ini punyanya pak Dokter, dipinjemin buat main sama-sama. Jadi mainnya harus gantian ya. Itu sekarang sayapnya patah, harus bagaimana dong? Nah iya bener, A nanti harus minta maaf sama pak Dokter. Dan..nanti kamu pilih 1 mainan kamu buat gantiin pesawatnya, itu namanya tanggung jawab.”

Ortu D: (terokupasi baca majalah, anggap A dan B toh nantinya akan diem sendiri)
----------------------------------------------------------------------------------------------------

SITUASI 3: C (14 tahun) bawa pulang tugas dari sekolah, diminta untuk buat project  tentang berbagi kebaikan.

Ortu A: ”Ini ada waktu 5 hari buat kerjain kan. Tiap malam laporan ke mama pas mama pulang kerja. Kalau ga ada kemajuan, Sabtu ga usah pergi ke rumah temen! Inget ga project lalu kamu dapat nilai jelek, gara-gara malas belajar kan? Ikutin kata mama biar pinter, belajar yang bener.”

Ortu B: ”Wah kita punya waktu 5 hari nih buat bikin projectnya. Tugas terakhir kan nilai kamu kurang bagus ya, sekarang mama bantuin buat ya biar bisa dapat nilai yang lebih tinggi.”

Ortu C: ”Kita buat plan yuk. Kamu mau buat project yang seperti apa? Coba kamu pikir beberapa ide, coba googling, nanti kita diskusi mana yang kira-kira paling kamu suka dan bisa dilakuin. Nanti tiap malam kita bahas sama-sama ya, mama liat kemajuan kamu sampai mana.”

Ortu D: ”Kamu kan sudah besar, bisalah pikir ide sendiri. Di internet juga banyak bahan buat bantu.”


----------------------------------------------------------------------------------------------------

Kalau kita sebagai orang tua di ketiga situasi tadi, kira-kira reaksi kita seperti ortu yang mana ya?
Apakah seperti ortu A, yang gampang teriak-teriak main ancam? 
Apakah seperti ortu B, yang cenderung menuruti keinginan anak?  
Apakah seperti ortu C, yang bersikap tegas namun tanpa pakai kekerasan?  
Apakah seperti ortu D, yang ga terlalu peduli sama anak? 

Pada dasarnya, ada 4 gaya pengasuhan, berdasarkan kombinasi dua dimensi yaitu kontrol dan kehangatan.
  


Ortu A gayanya cenderung otoriter (authoritarian), kontrol tinggi tapi tidak terlalu hangat. Selalu ingin ngontrol anak, menuntut, tapi ga mau libatin anak dalam buat keputusan, dan ga buka ruang bagi anak untuk nanya, kasih masukan, atau nego aturan. Komunikasi cenderung satu arah. Because I said so! Do what I say! Titik. Dampak jangka panjangnya, anak cenderung kurang punya inisiatif, bisanya ikut-ikutan dan tergantung sama orang lain, diliputi rasa takut atau kemarahan terpendam. Ia bisa jadi anak yang rendah diri dan pencemas, atau sebaliknya jadi agresif, berontak, dan sneaky ’asal ga ketauan aja’. Hubungan dengan orang tua cenderung kurang dekat dan kaku, anak jarang diberi kesempatan ekspresiin dirinya.
 



Ortu B tipe permisif, hangat namun kurang kontrol. Tipe ini kurang memberi aturan dan batasan perilaku bagi karena sangat ingin menjaga hubungan baik dengan anak. Ortu juga punya kepercayaan bahwa kebebasan sepenuhnya akan menghasilkan anak kreatif dan percaya diri. "Whatever you say honey ..." Dampak jangka panjangnya, anak cenderung kurang mampu mengontrol dirinya, egois, dan manja. Ia biasa hidup di lingkungan yang semua keinginannya dipenuhi, padahal dunia nyata tidak seperti itu. Akibatnya sulit untuk coping saat terjadi hal-hal di luar keinginannya. Hubungan dengan ortu dekat, jarang ada pertengkaran, dan berpusat pada kebutuhan dan kemauan anak.


Ortu tipe C bergaya autoritatif, kontrol dan kehangatan sama tinggi. Tipe ini paham kalau perlu kasih aturan dan batasan buat anak, tapi ga main asal kontrol. Anak dikasih penjelasan kenapa ada yang boleh dan ga boleh. Anak juga boleh urun rembuk dan ortu suportif biar anak jadi mandiri. Prinsipnya "lets figure it out together...."  Ortu tipe ini nerapin disiplin positif (lengkapnya bisa dibaca di post disiplin positif ini). Dampak jangka panjangnya, anak punya self-esteem yang baik, bisa kontrol perilakunya, bisa lihat sudut pandang orang lain, dan kompeten secara sosial. Hubungan anak dengan ortu hangat dan terbuka, anak bisa kasih tau pendapat dan keinginannya tanpa takut, tapi juga sadar kalau ortunya ga akan main bilang oke aja. 



Ortu tipe D adalah ortu yang neglect (kontrol dan kehangatan sama rendahnya). Tipe ini lebih berpusat sama dirinya sendiri, kurang tertarik dengan apa yang terjadi pada anak, dan menganggap anak bisa berkembang tanpa bimbingan. Anak bebas mau ngapain aja, ga ada aturan. "Whatever, I dont care." Hubungannya cenderung dingin, jarang ada komunikasi antara orang tua dan anak, masing-masing urus kehidupannya sendiri-sendiri. Dampak jangka panjangnya, anak dapat merasa terabaikan dan ga diinginkan, hingga self-esteemnya pun rendah.


Ga ada orang tua yang sempurna, tapi saya yakin kita semua pasti mau yang terbaik buat anak-anak kita. Gambar berikut ini merangkum hasil penelitian tentang efek pola asuh terhadap perkembangan anak di berbagai aspek.



Jadi..ingin anak kita jadi seperti yang mana?

We, as parents, can control our parenting styles. 
We, as parents, have a very huge part in how our children will turn out. 

Seperti yang ditulis Dorothy Law...


It's all up to us, dear parents!

Discipline is never about punishment

Sekitar 2 minggu lalu ketemu teman yang jadi psikolog konsultan di satu sekolah. Baru kejadian ada kasus, anak yang lebam-lebam di beberapa bagian tubuhnya. Ternyata ibu si anak 7 tahun ini ’hobi’ memukul. Huff... kasus kekerasan anak tampaknya masih banyak ya :’(

”Disiplin itu perlu, biar anaknya ga manja dan ga seenaknya.”
”Itu emang anaknya harus digituin, biar disiplin. Kalau ga, nakalnya minta ampun, jadi kurang ajar sama orang tua.”
”Itu tanda saya sayang sama dia, karena saya mau dia belajar melakukan sesuatu dengan benar.”
”Dulu orang tua saya juga didiknya seperti itu, dan saya baik-baik saja. Malah jadi disiplin dan  tangguh.”

Itu segelintir alasan yang biasanya diutarain orang tua untuk jadi pembenaran kenapa mereka sampai membentak,cubit, jewer, tampar, atau memukul anak. Berbaik sangka, mungkin hanya pada belum tau cara lain didik anak ya...

Kuncinya ada di kata disiplin itu tuh yang sering disebut-sebut. Sepertinya banyak yang menyamakan antara disiplin dengan hukuman dan kekerasan…padahal disiplin ≠ hukuman dan pastinya disiplin ≠ kekerasan.

Kalau kata Jane Nelson (praktisi pendidikan yang fokus pada praktek disiplin positif):
 Where did parents ever get the crazy idea that in order to make children do better, first we have to make them feel worse????”

Disiplin itu sebenarnya kan cara untuk mengajarkan dan mengembangkan anak melalui pemberian instruksi, umpan balik, dan batasan. Kalau disiplinnya tepat, anak akan paham apa yang kita harapkan dari mereka dan bagaimana perilaku yang sesuai aturan/ norma, paham konsekuensi kalau mereka lakuin hal yang ga semestinya (misbehave), dan jangka panjangnya,  mereka akan bisa kontrol perilakunya sendiri (self discipline). Sebaliknya, hukuman dan kekerasan ampuh sih buat menekan/menyetop perilaku yang ga baik, tapi cenderung cuma buat jangka pendek aja dan malah buat anak jadi takut sama ortu. Karena ga sedikit orang dewasa yang terlanjur salah kaprah antara pengertian disiplin dengan hukuman, sekarang ini jadi dipakai istilah disiplin positif untuk mengacu ke praktek disiplin yang diharapkan dari orang tua.

Orang tua yang nerapin disiplin positif, mereka mengajarkan dan mendidik dalam suasana yang penuh rasa respect (yup, respect itu ga cuma ke orang dewasa), empati, dan kasih sayang, disertai batasan yang adil, tegas, dan konsekuensi yang masuk akal. Disiplin positif akan mendorong berkembangnya keterampilan hidup, disiplin diri, tanggung jawab, kerjasama, keterampilan berpikir sebab akibat, dan keterampilan pemecahan masalah, tanpa mengabaikan kesejahteraan psikologis anak. Mau tau kita tipe ortu yang seperti apa? Baca post what kind of parents are you? ini ya :)

Elemen disiplin positif: 5C
Buat saya, disiplin positif itu bisa dirangkum dalam 5 elemen ini.
1.    Connection before correction
Anak coret-coret dinding, anak  ngebaret laptop, anak pecahin barang, anak rusakin mainan, anak berantakin kamar...Banyak banget ya kelakuan anak yang bisa ortu esmosi. Saya nerapin disiplin positif, bukan berarti ga boleh atau ga bisa marah. Hanya aja, saya berusahaaaa banget untuk kontrol diri supaya ga marah-marah (paling susah kalau lagi cape banget atau lagi bad days yang buat ga mood @_@). Saya selalu coba ingetin diri sendiri kalau self esteem dan hubungan dengan anak lebih penting daripada dinding yang bersih, laptop yang mulus, barang dan mainan yang terawat, atau kamar yang rapi…inget-inget kalau yang mau kita ubah itu, yang kita ga suka itu, adalah perilaku (bukan pribadi) si anak… inget-inget kalau pas Ara salah, yang saya mau adalah supaya kejadian itu jadi ajang belajar buat dia dan bukan ajang pelampiasan emosi saya…makanya itu, saya usaha mikir-mikir cara lain supaya Ara tetap tau batasan dan ga seenaknya. Kalau lagi kesel banget, saya milih ninggalin dia sebentar, titipin ke papa atau mbanya, daripada saya lakuin hal-hal yang ga semestinya.

2.    Compliments
Kita aja sebagai orang dewasa seneng yah kalau dipuji atau hasil usaha kita diapresiasi. Anak-anak apalagi. Tapi kasih pujian juga ada triknya biar lebih efektif. Bayangin deh, kalau dikit-dikit orang muji  kita (“kamu jago banget masaknya deh” padahal cuma buat mie rebus atau “keren bener ini power pointnya” padahal cuma poin-poin biasa ditambah satu gambar aja) saya malah bakal mikirnya ‘ah ini orang lip service aja nih. Atau jangan-jangan malah ngeledek’.  So don’t overuse compliment and praise, biar anak ga jadi praise junkie.. hehehe... Kasih pujian dengan tulus dan spesifik ke perilaku (“wah rajin ya sudah mau beresin mainan “ atau “anak mama hebat mau coba makan sendiri, ga disuapin lagi”) karena bisa lebih efektif untuk mempertahankan/ mengembangkan perilaku, daripada pujian umum kayak “good girl/ good boy”. Sekali-sekali puji anak di depan orang lain supaya harga diri dan percaya dirinya meningkat. Banyakin pujian terhadap usaha daripada hasil. “Kakak tadi usaha keras ya buat bikin gambar kupu-kupunya, kakak coba pakai banyak warna…Indah..”  alih-alih “gambar kakak indah sekali, kamu memang berbakat!” Tidak apa-apa hasil karya tidak sempurna, tapi anak mau nuntasin dan ga cepat nyerah waktu nemu kendala. Ada hasil penelitian kalau anak-anak yang cenderung dipuji berdasarkan bagus tidaknya hasil akhir, akhirnya justru menghindar dari tugas-tugas yang menantang karena takut ga bisa selesaikan itu dengan sempurna. Mereka merasa bahwa orang tuanya bangga dan sayang hanya jika hasil kerja mereka baik.


Hukum perilaku: perilaku akan diulang kalau dapat penguatan. Penguatan ini bisa macam-macam bentuknya. Paling baik dan natural itu penguatan sosial (senyuman, pelukan, pujian verbal, tepuk tangan, tepukan di pundak, jempol). Kadang kita ingin dan nuntut anak bisa ini bisa itu tapi kitanya sebagai orang tua lupa kasih penguatan, atau lebih parah lagi, yang dikasih penguatan malah perilaku kurang baik. Misalnya nih, kalau anak-anak main anteng, ortu cuek. Nah giliran anak berantem, ortu langsung marah-marah. Marah-marah ini bisa lho dianggap anak sebagai bentuk perhatian. Jadi kita sebagai orang tua memang mesti hati-hati untuk kasih perhatian dan penguatan ke perilaku yang positif, bukan perilaku negatif.

Untuk beberapa perilaku, boleh kok dibantu penguatannya dengan pakai rewards token. Setiap anak nunjukin perilaku yang sedang jadi fokus (misal, minta sesuatu dengan kata-kata bukan tangisan, atau sikat gigi sebelum tidur, atau baca buku setiap hari 30 menit) kasih satu token. Token ini bisa berupa gambar bintang, stiker, koin, cap, tanda centang, dsb. Terusnya buat kesepakatan deh, misal, kalau sudah dapat sekian bintang, stiker, atau koin, boleh ditukar sama sesuatu (tambahan 30 menit nonton di akhir pekan, buku baru, boleh tidur lebih malam di hari sekolah, boleh nonton bioskop di akhir pekan, dll). Perilaku yang ingin dikuatkan harus disesuaikan sama usia anak, begitu juga dengan bentuk token dan rewards. Kalau penerapannya tepat, token masih efektif kok hingga remaja, bahkan sampai dewasa. Sistemnya sama seperti kalau kita main di timezone (dapat sekian tiket bisa ditukar hadiah) atau kalau belanja (sekian ratus ribu dapat hadiah langsung) atau ke restoran (beli 10 gratis 1).




Mungkin ada yang mikir ”ah tapi gimana kalau nanti jadi ketergantungan sama rewards?” Dari penelitian dan pengalaman tangani kasus, kebanyakan sih kecemasan orang tua ini ga terbukti kok. Biasanya token ini berguna banget untuk awal-awal pembentukan/pengubahan perilaku. Nantinya, ketika perilaku sudah jadi kebiasaan atau terinternalisasi dan anak dapat rewards internal (oh memang bener ya kata mama kalau banyak baca jadi lebih banyak tau, jadi bisa lebih nyambung ngobrol sama banyak orang), banyak yang bahkan lupa untuk minta rewards. Lagipula token bisa kok dikurangi secara bertahap. Jadi misal awalnya dapat 1 token setiap kali anak mau sikat gigi, berikutnya baru dapat 1 token kalau mau sikat gigi 2x sehari, berikutnya baru dapat 1 token kalau sikat gigi sendiri 2x sehari berturut-turut selama 2 hari, dan seterusnya. Dan jangan sampai lupa, pemberian token itu wajib kudu mesti harus dibarengi sama penguatan sosial.

Untuk saat ini, saya belum terapin sistem token ke Ara karena menurut saya belum perlu. Perilakunya masih bisa dibentuk dengan penguatan sosial dan elemen-elemen C lainnya.

3.    Consequences
Gimana ya caranya supaya anak disiplin tanpa ortu kasih hukuman? Ini dia fungsinya konsekuensi natural dan konsekuensi logis. Contoh konsekuensi natural: anak ga mau makan, lama-lama dia pasti lapar sendiri. Anak banting-banting barang, barang rusak dan akhirnya dia ga bisa mainin lagi. Anak colok-colok stop kontak, kesetrum. Anak jajan sembarangan, sakit. Anak manjat-manjat, jatuh. Masalahnya, ga selamanya kita bisa nerapin konsekuensi natural. Kalau sudah diingatkan berkali-kali tapi tetap manjat juga dan akhirnya jatuh, mungkin gpp kalau hanya kursi pendek. Nah kalau di tangga? Kan gawat. Terus ya masa kita mau biarin anak rusak mainan-mainannya? Cekak di dompet itu mah *.* So, hindari konsekuensi natural kalau memang membahayakan keselamatan, atau membuat sakit, atau secara etika kurang baik. Apa dong gantinya? Kita bisa pakai konsekuensi logis.


Konsekuensi logis itu konsekuensi yang relevan dengan kesalahan anak, masuk akal (sesuai usia dan perkembangan anak), tetap menghargai anak, dan mendidik. Saat kasih konsekuensi logis, ortu perlu jelasin alasan kenapa anak dikasih konsekuensi tertentu dan apa yang bisa dilakuin untuk ’nebus’ kesalahan. Ortu juga ga marah-marah pas kasih konsekuensi, lebih ke pernyataan. Contoh dari pengalaman sehari-hari:
þ  Ara lempar-lempar mainannya dengan sengaja à kehilangan hak mainnya. Ambil mainan yang dilempar, simpan sementara waktu. Ara boleh pilih mainan lainnya, tapi kalau masih dilempar-lempar juga, ambil lagi.
þ  Ara tumpahin air à bantu bersihkan sebisanya, ambil tisue dan lap-lap.
þ  Ara jambak rambut à minta Ara minta maaf dan elus-elus rambut.
þ  Ara coret-coret tembok à minta Ara bantu bersihkan sebisanya. Kalau masih coret-coret lagi setelah beberapa kali dikasih tau, stop kegiatan.
þ  Ara lepeh-lepeh makanan à dilepeh satu sendok, tambahin lagi satu sendok. Khusus makanan ini harus liat-liat sih, apa dilepeh karena iseng atau memang sudah kenyang atau ga suka makanannya.

Apa bedanya dengan hukuman? Hukuman biasanya ga relevan sama perilaku (contohnya ga boleh main ke taman gara-gara coret-coret dinding), ga mendidik (misalnya suruh berdiri satu kaki sambil jewer telinga karena rebutan mainan), disampaikan secara negatif (sambil teriak, menggertak, membentak, menyindir, merendahkan, mengejek), dan seringkali tanpa disertai penjelasan (because I said so!).

4.    Consistency
Konsistensi ini penting banget. Kalau ortunya ga konsisten nerapin konsekuensi, yang ada anak malah bingung. Misal anak coret-coret dinding, kadang dikasih konsekuensi tapi kadang dibiarin. Atau sama mama ga boleh, tapi sama papa boleh. Beda penerapan aturan juga buat aturan dan konsekuensi itu jadi ga efektif. Lebih kacau lagi kalau misal sudah ancam kasih hukuman, tapi ga dijalanin. Kayak ngomong“kalau makannya ga abis, ga mama ajak pergi-pergi lagi!” It’s such an empty threat. Ga mungkin juga kan ya anak ditinggal di rumah terus? Jadi jangan buat janji atau konsekuensi yang kita tau ga bakal bisa ditepati. Kalau ada situasi khusus, katakanlah anak lagi sakit jadi minta disuapin makannya atau minta makan di kamar, ya gpp asal dikasih penjelasan kalau ini perlakuan spesial.  

5.    Creativity             
Jadi orang tua mesti belajar kreatif juga ternyata ya. Di samping empat elemen C yang udah dijabarin, beberapa trik ini juga bisa dicoba.
þ      Jam dinding
”Ra.. nontonnya 5 menit lagi selesai ya. Kalau jarum panjangnya ini udah di angka tiga, artinya waktu nonton selesai. Mama matiin videonya.”  Ara sudah kenal konsep panjang pendek dan tau angka 1-5, jadi instruksi gitu cukup untuk dia. Kalau yang belum kenal konsep panjang pendek, jarum panjang dan jarum pendeknya bisa dikasih warna beda, dan di angka yang mau jadi patokan waktu bisa dikasih tanda (misal ditempel post-it notes). Kalau pakai teknik ini, anak dikasih waktu antisipasi, ga ujug-ujug kita stop kegiatannya. Cara lain yang serupa, bisa pakai jam weker. ”Misal alarmnya udah bunyi, artinya mainnya udahan ya, dan Ara mesti mandi.”  Kalau mau buat Ara beresin mainannya, bisa juga pakai games. ”Ayo ra, mama hitung sampai sepuluh ya. Bisa ga ya semua masuk ke keranjang pas sampai hitungan sepuluh?”


þ    Caught being good
Bosen denger anak berantem sama kakak atau adiknya dan ngadu ini itu? Balikin supaya mereka laporan yang baik-baik aja. Jadi daripada ngadu ”mamaaa....kakak nih injek-injek sofa pakai sepatu” atau ”papaaa...adek robekin buku nih” , kita mau biasain mereka fokus ke perilaku baik. Laporannya jadi macam”mama....kakak tadi bantuin aku ambil buku di rak” atau ”papa, tadi adek kasih pinjem mainannya ke aku”. Setiap laporan positif, kasih mereka koin (100-500 rupiahan aja) untuk ditabung. Nanti kalau penuh, dipakai sama-sama deh buat jajan atau beli mainan. Trik ini bisa buat anak terdorong untuk lakuin yang baik-baik dan ubah suasana di rumah jadi lebih positif.  

þ      Ubah lingkungan supaya anak bisa minimalisasi perilaku yang kurang oke
Misalkan anak lagi mau tuang sendiri susu dari karton susu ke mangkok serealnya, tapi malah jadi tumpah kemana-mana, bisa diakalin dengan kita pindahin dulu ke botol/ gelas yang lebih kecil. Kemandirian ini bisa didorong, tapi kemungkinan tumpah mengecil. Contoh lain, anak suka banget mandiin boneka-bonekanya, ngabisin sabun deh. Bisa diakalin, tiap hari dikasih botol kecil aja. Kalau sudah habis ya sudah, tunggu besok lagi.

þ     Kode Warna
Emak-emak biasanya sering ngomel karena rasanya rumah kok ga pernah rapih. Baru aja diberesin eh udah berantakan lagi, mainan berserakan dimana-mana. Coba terapin aturan, kalau satu mainan belum diberesin, ga boleh ambil mainan baru. Terus trik ini bisa dicoba untuk minta bantuan anak beresin barang-barangnya. Kasih kode warna, di mainan dan di tempat penyimpanannya.


þ       Whataver that works!
Apapun deh, selama itu ga tabrakan sama aturan yang ada. Kayak akhir-akhir ini nih, Ara kan lagi susah disuruh mandi, beberapa kali bahkan mandi sambil nangis. Trik yang berhasil: 'mandiin binatang-binatang dan 'berendam di ember sama bola-bola'. Situasi khusus, trik khusus :D 


Ini dulu ya yang bisa saya share. Semogaaaa aja makin banyak orang tua yang sadar pentingnya dan mau nerapin disiplin positif ^^ 

Tuesday, September 2, 2014

Ya ampun, susah amat sih disuruh nurut?!

 “Ra..cobain deh ini enak,susu kedelai..”
“ GA MAU!” (–sambil malingin mukanya–)

“Ra..ini sapinya masukinnya kemana ya? Coba cari yang bentuknya sama.”
”GA MAU! Mama aja..” (–sambil kasih mainannya ke saya–)

”Wah berhasil masukin satu kaki ke celana. Sekarang kaki yang kiri masukin juga.”
”GA MAU!” (–malah lepas celananya–)
 
“Hmmm…bau-bau apa nih ya. Ara pup ya? Cebok yuk..”
”GA MAU!” (–malah ngeloyor pergi–)

”Ra..dah malam nih. Ngantuk mamanya. Ayo sikat gigi terus bobo.”
”GA MAU! Ara mau main!” (–tetap asyik main boneka binatang–)
------------------------------------------------------------------------------------------

Familiar?

Sehari mungkin bisa ada puluhan versi percapakan kayak di atas, yang direspon sama Ara dengan satu jawaban ” GA MAU” itu. Siapapun yang punya anak/ponakan/adik usia toddler/preschooler, atau kerja di PAUD/ daycare, pasti deh alami hal yang sama, iya kan? *cari temen*. ’Ga mau!’ atau ’No no no’ itu memang lagi jadi kata favorit ya kayaknya…

Di post kali ini saya mau sharing  soal gimana supaya anak jadi lebih nurut, dari dua referensi ini: kultwit ’Suruh vs Nurut’  oleh @AnnaSurtiNina dan buku ‘From No to Yes without Bribing or Threatening’  oleh Jerry Wyckoff & Barbara Unell.

Kenapa sih toddler/preschooler  suka banget bilang ‘Tidak’?
Well..mereka itu masih self-centered, mau lakuin apa yang mereka mau saja dan kapanpun mereka maunya. Itu fase perkembangan yang memang jadi salah satu ciri utama toddler/preschooler (selanjutnya pakai kata istilah batita/balita aja yah, lebih gampang :D). Jadi nih, kalau ada balita/batita yang malah nurut-nurut aja, justru  harus agak curiga. Kita juga jangan terlalu senang kalau anak nurut banget, nanti kalau sudah besar malah jadi bingung lho, karena mereka cenderung ga punya pendapat sendiri, mudah dipengaruhi dan diintimidasi, gampang terbawa arus, bergantung sama orang lain, dan kurang asertif.  

Batita/ balita butuh konsistensi dan hal-hal yang bisa mereka prediksi. Makanya mereka suka bilang tidak: untuk menghindar.  Menghindari dari apa? Dari hal-hal yang mereka ga tau, dari perubahan, dari kegagalan, dan dari hilangnya kontrol. Bener banget nih. Si Ara juga gitu tuh. Kalau lagi ditanya sesuatu atau diminta coba mainan yang dia belum tau, pasti langsung nolak.

Batita/ balita belum bisa mikir jangka panjang dan belum punya sense waktu. Jadi seringnya mereka ga ngerti alasan dibalik request/ suruhan orang tua. Kenapa sih harus pakai baju, kan panas? Kenapa sih ke daycare, kan aku maunya main sama mama? Kenapa sih harus salim, kan aku ga kenal sama orang itu? De el el.  Balita juga belum punya sense waktu. Walau kita lagi buru-buru karena sudah telat mau ada rapat dan minta tolong mereka siap-siap, mereka masih dengan santainya menggambar dan mewarnai.

Orang tua juga bisa loh jadi penyebab anak suka bilang tidak? Hah.. kok bisa? Yup. Kalau kita sering cuekin anak pas mereka lagi jadi ‘anak manis’, tapi cerewet banget pas mereka lagi ga bisa behave, anak dengan cepat belajar bahwa cara mudah dapat perhatian orang itu adalah dengan ’ga nurut’. For some kids, negative attention is better than no attention at all.

Baru aja kejadian nih. Ara lagi main-main sendiri, sementara saya sibuk ngetik dan diskusi sama suami tanpa libatin Ara. Beberapa kali Ara manggil ”ma, ayuk main..” atau ”papa ngapain? Sini pa.. ” tapi tanggapan kita cuma komen singkat ”ntar dulu” atau bahkan ga ngerespon ocehan Ara. Ga berapa lama Ara bilang ”ma, pipis..”  Saya langsung samperin dia (lagi ga pakai popok soalnya dan dia di atas kasur). Pas dicek ternyata ga pipis. Balik kerja lagi, Ara bilang lagi ”pup..pup..”. Saya langsung gendong dia mau ke kamar mandi, eh pas dicek lagi ternyata ga pup. Hmmmm... jadi mikir, apa iya si Ara sengaja ya? Biasanya memang kalau dia bilang pup atau pipis, saya akan secepat mungkin nyamperin dia. Exactly what she wants. Ada lagi ulah lain si Ara di waktu-waktu lalu – yang kejadiannya mirip-mirip cerita barusan itu – misalnya pencet-pencet dispenser atau coba-coba masukin tangan ke colokan listrik. Entah sengaja untuk narik perhatian atau memang cuma sekedar ingin tahu, who knows?

Kenapa sih ada anak yang gampang nurut ada yang ga?
Hmmm.. coba cek dulu poin-poin ini kalau ngerasa anak kita susaaah banget nurut padahal sudah disuruh berkali-kali dan stok kesabaran mulai terancam habis :D
þ  Anaknya umur berapa?  Sesuaiin ekspektasi sama umur anak. Anak <1 tahun seringkali belum paham instruksi kita karena keterbatasan bahasa, usia 1-3 tahun memang lagi fase ’pembangkangan’ jadi ya mesti sabar-sabar, 3-6 tahun lebih nurut tapi punya cara sendiri untuk nyelesaiin masalah, 6-12 tahun cenderung lebih nurut sama idola dan guru, sementara remaja lebih nurut sama apa kata teman teman.

þ  Seberapa jauh jarak antara ortu-anak? Kalau nyuruh dari jarak jauh, kemungkinannya lebih besar si anak ga dengar instruksi kita, dan kita jadi cenderung ninggiin suara yang trus malah buat anak jadi bete. Kalau jauh, bisa jadi ortu ga sadar kalau perhatian anak lagi ke hal lain. Kalau jauh, kesempatan kita untuk sentuh/gandeng/ tatap mata setinggi anak jadi berkurang, padahal itu sebenarnya cara yang kongkrit dan efektif. Bener lho, sering banget Ara bilang ga mau kalau disuruh salim sama orang, tapi kalau saya pegang tangannya dan ulurin ke arah orangnya dia mau-mau aja.

þ  Timing-nya pas ga? Kalau kita nyuruh sesuatu, liat-liat juga kondisi anaknya lagi gimana / anaknya lagi apa. Kalau lagi cape atau baru bangun tidur, kasih waktu buat istirahat atau kumpulin nyawa dulu. Kasih waktu juga buat anak cerna apa yang kita suruh, jangan buru-buru marah. Kalau anak lagi asyik main, jangan juga langsung disuruh lakuin kegiatan lain. What important for us is not always important for them, try to see from their point of view.  Misal anak lagi fokus main lego / boneka terus kita suruh stop untuk mandi tanpa kasih waktu transisi, ya wajar dong kalau anak nolak? Lagipula itu malah bisa buat konsentrasi anak buyar, padahal kita maunya anak belajar konsen kan?

þ  Minat anaknya gimana? Sama kayak orang dewasa, pastinya kita males ya kalau disuruh lakuin sesuatu yang ga kita suka? Yang ada kita lama-lamain, tunda-tunda, atau kalau bisa ngeles dan kabur. Anak yang ga suka air mungkin males banget mandi, tapi ya bukan berarti kita cuma boleh nyuruh hal yang diminati anak doang. Mereka juga perlu belajar kok untuk adaptasi dengan beragam tuntutan lingkungan.

þ  Yakin anaknya mampu? Kalau nyuruh sesuatu, harus pastiin anaknya memang sudah bisa lakuin. Misal kita suruh gosok gigi atau pakai baju sendiri tapi belum pernah ajarin mereka caranya, ya ga bakal berhasil. Perhatiin juga seberapa besar kemampuan anak ikuti instruksi, apa anaknya mudah kedistraksi atau ga. Mulai dari satu instruksi dulu (’ayo gosok gigi’), baru gabung dua-tiga instruksi (gosok gigi, ganti piyama, terus matiin lampu ya).

þ  Ekspresi & bahasa tubuh ortu seperti apa? Kalau ortu nyuruhnya sambil marah-marah, anak sebetulnya ga suka (ya iyalah..). Kalaupun nurut, mungkin lebih karena takut, tidak berdaya, atau terpaksa karena ga punya pilihan. Dampaknya? Anak cuma nurut kalau ortu marah, padahal kan maunya karena mereka sadar ya.

þ  Ortu pakai kata positif atau negatif? Pengunaan kata / instruksi positif lebih disaranin karena lebih tepat sasaran. Misal kita bilang ”jangan lompat-lompat di kasur!”  , ini lebih multi-interpretasi. Anak mungkin mikir ”oh bolehnya lompat-lompat di sofa/tangga” atau ”kalau gitu aku coret-coret kasur aja deh”.  Bingung kan kalau gitu hehehe.. Jadi lebih baik langsung aja bilang maunya gimana ”kalau lompat-lompat di trampolin atau di lantai, hati-hati ya”.  Boleh sih pakai kata jangan, tapi jangan harap anak langsung paham.  Ini masalah kebiasaan aja kok. Mungkin kita memang lebih refleks bilang ”jangan lari” daripada ”jalan pelan-pelan” , ”jangan rebutan!” daripada ”mainin mainannya tunggu giliran ya” .

þ  Apa ortu sudah jadi model yang baik? Saya belum bisa nih jadi model yang oke dan konsisten.  Minta Ara makan sambil duduk, tapi saya pernah juga beli es krim di mall trus dimakan sambil jalan. Sehari-hari sering banget saya makan sambil baca buku / nonton televisi, padahal saya mau dia makan tanpa main atau nonton. Saya nyuruh dia beresin mainan, tapi kadang  saya juga lupa rapih-rapih pas selesai kerja. Dududududu.... *toyor kepala sendiri*

þ  Apa ada reward yang memotivasi anak? Reward  terutama dibutuhkan anak batita/balita, untuk penghargaan terhadap perilaku nurut mereka. Apresiasi akan buat senang, dan kalau senang mereka cenderung mau ulangi lagi. Sebisa mungkin, reward-nya lebih ke tepuk tangan, pujian, aktivitas, atau kebersamaan dengan ortu aja, supaya anak ga ’banci kado’. Kalau pun mau reward yang sifatnya lebih tangible, bisa pakai sistem token –misalnya kasih stiker untuk tiap perilaku baik dan nanti setelah jumlah tertentu stikernya bisa ditukar barang–. Ini bisa melatih anak untuk perlahan nunda kepuasan (delay gratification).

þ  Gimana kedekatan ortu dengan anak? Nah poin ini penting banget nih. Kita pasti lebih mau nurut sama orang yang punya hubungan positif dan dekat dengan kita kan? Anak juga gitu. Kalau kita mesra sama anak, pasti dia juga mau kok buat kita senang.

Jadi harus gimana dong biar anak mau nurut?
Hmmm…Kalau anak ga mau nurut itu memang jadi uji kesabaran banget ya buat ortu. Sayangnya, seringkali kita terjebak untuk lakuin hal-hal yang justru counter-productive, misalnya:
v  Nagging  (Berapa kali sih harus dikasih tau? Haduh kamu ini kok susah banget sih dibilangin? Kenapa sih ga pernah mau lakuin yang mama suruh
v  Labeling  (Kamu ini memang pemalas, nakal, cengeng…)
v  Begging  (Ayo dong..bantuin mama. Do it for mommy okay?)
v  Blaming  (Gara-gara kamu kan tuh mama jadi telat. Kamu tuh bisanya buat malu mama aja!)
v  Shaming  (Mama kecewa banget sama kamu. Kamu tuh kalau ga ada mama ga bisa apa-apa tau, makanya nurut aja kenapa sih!)
v  Bribing  (Kalau kamu mau nurut, nanti mama beliin permen deh)
v  Threatening (Kalau ga nurut nanti mama jewer nih ya..atau ga mama panggilin pak satpam lho ntar)

Dengan kita seperti itu anak memang bisa jadi nurut sih, tapi lebih karena takut, malu, rasa bersalah, atau dijanjikan sesuatu yang spesial. Mereka ga belajar keterampilan yang sebenarnya dibutuhkan untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan, ga belajar gimana jadi orang yang bertanggung jawab dan tidak egois sama keinginannya sendiri. Kalau ortu selalu respon dengan cara-cara di atas setiap kali anak ga nurut, anak malah belajar cara intimidasi dan manipulasi orang lain untuk dapat yang dia mau.  

Setiap kali anak ga nurut, itu kesempatan bagus untuk ajari mereka tentang aturan dan konsekuensi. Easier said and done, I know. Saya pun masih terus belajar dan membiasakan diri untuk merespon setiap ‘penolakan’ dan ‘pembangkangan’ secara lebih positif. Kalau kita mau anak belajar untuk menunda kepuasan, berempati sama kepentingan orang lain, punya toleransi terhadap frustrasi, dan buat keputusan yang bertanggung jawab, kita pun harus mau susah payah kasih pelajaran itu ke mereka…sedari mereka kecil J

Some helpful ways to motivate your children to do what you told them to do:
þ  Empati
Kasih liat ke anak kalau kita coba pahami sudut pandang, keinginan, dan perasaan mereka. Kalau mereka tau bahwa kita hargai mereka, percaya deh mereka lebih punya motivasi untuk nurut.

þ  Buat perjanjian dengan teknik Grandma’s Rule  (jangan tanya kenapa namanya begini ya hehe..)
Grandma’s rule: “When you’ve done what I’ve asked you to do, then you’re free to do what you want to do.”  Intinya sih kerjakan kewajiban sebelum nuntut hak. Boleh main kalau sudah beresin kamar, boleh nonton kalau sudah selesai makan, boleh jalan-jalan kalau sudah mandi. Win-win solution deh! Cara ini bisa bantu ngembangin motivasi internal untuk nuntasin apa yang memang harus anak kerjakan sebelum bisa senang-senang. Bayangin kita aja deh, pasti liburan terasa lebih asyik dan relaks kalau kerjaan semua udah kelar kan? Nah.. mungkin pada mikir ini ya ”Apa bedanya sama bribing?” Hmm…Kalau suap itu lebih ke “If you do what I ask, I’ll give you special prize..”  Dengan cara ini motivasi ini selalu eksternal dan bergantung sama besarnya hadiah.

þ  Beri pilihan ke anak
Latih kemampuan anak untuk buat keputusan dan pahami konsekuensi. Kalau kita pakai ancaman, kita seolah ga kasih pilihan ke anak. ”Do what I say or else!”  Ancaman ngarah ke rasa takut, yang malah buat anak maunya ngehindar atau berontak daripada nurut. Oh ya, kasih pilihannya yang kita siap jalanin ya. Kalau kita bilang ”Kamu mau ikut mama pulang atau main di sini sendirian?”  Misal dia pilih main sendirian? Nah loh! Beneran siap ga kita untuk ninggalin anak?  Atau kita bilang ”Kamu pilih tutup pintu kamar pelan-pelan, atau mama cabut pintunya supaya ga bisa dibanting?”  Misal dia pilih cabut aja pintunya, beneran kita mau cabut?


Di buku From No to Yes , sukanya adalah dia kasih contoh-contoh konkrit tentang perkataan-perkataan yang tidak tepat dan tepat untuk hadapin “GA MAU” dari anak di berbagai setting dan situasi (nyangkut soal berpergian, pakai baju, makan, sopan santun, bermain, kebersihan, belajar, tidur, tumbuh besar, dan kesehatan). Kalau ditulis semua banyaakk... jadi saya foto aja yah beberapa contohnya J












Sudah lebih terbayang pastinya ya.. Yuk kita sama-sama coba, awalnya mungkin susah tapi lama-lama jadi biasa. Semoga anak-anak juga jadi lebih kooperatif dan kita pun makin jarang frekuensi marahnya hihihi.. semangat parents!