Wednesday, November 23, 2016

Ara jadi Kakak! Tips mempersiapkan kelahiran adik baru :)



Dari awal menikah, saya dan suami memang ingin punya dua orang anak. Saat Ara sudah usia 3 tahun, kami pikir ini saat yang tepat untuk mulai program kehamilan. Pertama, Ara sudah disapih, sudah lumayan mandiri, bisa main dan menyibukkan diri sendiri (tidak melulu harus ditemani), serta mulai bisa sharing. Dia juga sudah punya pengalaman sosialisasi di luar keluarga (Ara mulai masuk kelompok bermain), jadi ga lagi terlalu nempel mamanya. Kedua, jika sesuai rencana, saat adiknya lahir jaraknya sekitar 4 tahun. Kami bisa dibilang sengaja ‘menghindari’ jarak 3 tahun biar pas sekolah nanti ga pusing sama uang pangkal karena masuknya berbarengan (pengalaman saya dan kakak ^^). Alhamdulillah, tak lama setelah program, saya positif hamil.

Buat orangtua, kelahiran anak tentu jadi momen yang menyenangkan dan dinanti-nanti. Tapi buat anak yang lebih tua dan akan jadi kakak, ini bisa jadi suatu perubahan yang membingungkan. Di satu sisi mereka mungkin mengagumi dan menyayangi adiknya, serta takjub mengamati proses dari adik di perut sampai benar-benar bisa mereka lihat. Tapi mungkin juga ada saat-saat mereka merasa cemburu atau kesal. Bagaimanapun juga, kehadiran adik membuat perubahan besar dalam dinamika keluarga. Rutinitas jadi berbeda, perhatian dan waktu untuk bermain dengan mereka menjadi berkurang.

Kecemburuan kakak ke adik baru rasanya sih ga bisa dielakkan ya (analoginya, bayangin suami atau istri kita punya pasangan baru dan semua orang mengaguminya), bahkan jika sang kakak sendiri yang meminta pada orangtua untuk punya adik (tapi kalau ini sih ga bakal ada yang request suami atau istrinya punya pasangan baru yah hihi). Namun bisa kok diminimalisasi. Ini yang mau saya share di tulisan ini, cerita tentang apa yang saya dan suami coba lakukan untuk menyiapkan Ara menyambut kelahiran adiknya.

Selama Masa Hamil
Persiapan pertama, kasih tau Ara kalau dia akan jadi kakak, kalau di perut saya sedang ada adik. “Nanti makin lama adik akan makin besar, dan perut mama akan semakin besar. Terus lahir deh. Dulu Ara juga di perut mama loh..”  Kapan sebaiknya kakak dikasih tau? Kurang lebih memasuki trisemester dua, di saat resiko keguguran sudah menurun. Saat ini pun perubahan tubuh ibu sudah mulai terlihat, jadi anak lebih mudah paham, dan nunggunya pun ga terlalu lama sampai adik lahir. Apalagi kalau kakaknya masih usia toddler / preschooler, dikasih tau mau punya adik bisa-bisa dipikir saat itu juga (atau besok) hehehe… Ara pernah komentar “Kenapa sih ma adik ga lahir-lahir? Kan di dalam ga ada mainan..Adik boleh kok pinjem mainan Ara..”  

Persiapan kedua, Ara mulai pisah kamar dengan saya dan suami. Ini dari jauh-jauh hari sebelum adik lahir, biar ga kesannya dia ‘diusir’ karena adik lahir. Kami mulai ajak Ara untuk pilih hiasan kamarnya, dan pelan-pelan pindah tidur disana (masih saya temani sih, sampai sekarang juga). Pukpuk suami yang jadi sering tidur sendirian hee… 

Persiapan ketiga, baca-baca buku cerita seputar kelahiran adik, biar mulai kebayang situasinya. Diceritain kalau adik nanti lahir, belum bisa langsung diajak main. Mungkin berisik, karena adik baru bisa nangis, mau apa-apa pasti nangis. Belum bisa makan minum, baru bisa nenen. Terus kita tekenin deh, “nanti kakak Ara ajarin yaaa.. dulu kan Ara juga gitu, apa-apa nangis, blm bisa ngomong, blm bisa makan sendiri, blm bisa jalan.. tapi lama-lama bisa. Nah nanti bantuin mama papa ajarin adik yah”  Oh iya, sama dibilangin, karena adik baru bisanya sedikit, jadi masih akan butuh banyak bantuan orang dewasa dan akan sering digendong.

Persiapan keempat, kami ajak Ara untuk ikut memilih nama adiknya. Waktu itu kami nanya ke Ara, kalau di antara nama Farabi, Yoda, Yudhistira, Abimanyu, Ara suka siapa. Dia pilih Yoda. Udah dibilang “Oh oke.. Ara suka nama Yoda ya. Tapi belum pasti loh ya ra.. masih milih-milih dan cari-cari lagi..”  Tapi Ara kekeuh dan ini bertahan sampai menjelang lahir. “Pokoknya harus Yoda ya ma!” Akhirnya beneran deh.. adiknya Ara namanya Aksara Langit Yoda Dharmawan, dipanggil Yoda.

Persiapan kelima, waktu perut saya makin besar dan udah mulai gerak-gerak, saya sering ajak Ara untuk pegang dan ngomong ke adik. Pernah juga diajak ikut ke dokter pas kontrol, supaya lebih real dan kasih Ara waktu untuk mencerna kalau adiknya beneran ada.

Persiapan keenam, ajak Ara milih baju, mainan, dan barang-barang dia yang bisa dan boleh dipakai sama adiknya.

Setelah Lahir
Sebagian anak waktu ada adik baru lahir, bisa terjadi regresi (perkembangannya tampak mundur, misal yang tadinya sudah ga ngompol atau sudah berhenti ngemut jari jadi begitu lagi). Atau ada yang jadi agresif ke adiknya. Kalau Ara? Perubahan yang keliatan itu, dia terkadang jadi ngomong ala bayi lagi, agak cadel gitu (entah kenapa, padahal kita juga ga baby talk ke Yoda). Terus ga mau pergi kemana-mana kalau mamanya ga ikut. Dan yang jelas jadi suka cari perhatian, lebih demanding dan suka tiba-tiba rewel ga jelas. Pura-pura kaki atau badannya sakit lalu merengek, padahal ga ada apa-apa.




So.. what do we do?

Kalau untuk urusan baby talk-nya Ara, kita diemin aja. Pas Ara begitu, kasih tau “ngomong biasa aja Ra.. kan Ara sudah bisa ngomong jelas.” Kalau masih lanjut, ga kita tanggepin omongannya selama seperti itu.

Untuk urusan cari perhatian, nah ini yang agak sulit dan suka buat geregetan (walau sesuai ekspektansi tetap aja ngadepinnya mesti stok sabar). Beberapa cara yang saya dan suami coba lakukan:

Buat Ara senang
Kasih Ara kado juga, supaya ga terlalu jealous liat Yoda dapat banyak hadiah. Senang deh dia dapat baju dan buku baru.

Libatkan Ara dalam pengasuhan Yoda
Jadi saat saya gantiin popok atau mandiin, atau nenenin, dia tetap bisa dekat saya. Biasanya saya minta tolong dia untuk ambilkan baju, popok ganti, minyak telon, atau tissue. Kalau lagi massage Yoda, Ara boleh ikut pijit-pijit (walau suka deg-degan takut terlalu kencang). Atau pas lagi nenenin, Ara suka ikut pijit payudara saya (katanya biar air susunya lebih cepat keluar hehe). Kalau lagi mau ke kamar mandi, minta tolong Ara untuk jagain dan kasih tau misal Yoda nangis. Kita juga ga ngelarang Ara kalau dia mau sentuh atau gendong Yoda, biar dia merasa dipercaya dan dilibatkan. Cuma ya memang harus tetap diawasi…



Pertahankan rutinitas sebisa mungkin
Alhamdulillah karena kemarin lahiran normal, pemulihan terbilang cepat. Seminggu saya sudah bisa lancar jalan, berdiri, jongkok, dan sudah bisa nyetir. Jadi saya bisa antar / jemput Ara ke sekolah, Yoda ngikut tapi di mobil aja. Kalau lagi riweh banget baru pakai uber/ taksi. Untuk rutinitas harian, mandi masih sama saya, begitu juga tidur masih saya temani. Nah tapi susahnya kalau tidur malam ini. Ara selalu minta dikelonin, dan suka ga bolehin saya nenenin Yoda walau udah nangis-nangis. Sampai pernah saya yang hilang kesabaran “Ra, kalau Aranya main terus ga bobo-bobo, mama nenenin adik ya. Kalau mau mama nemenin Ara, ayo bobo. Ga usah main main lagi”. Suami saya yang ingetin untuk ubah cara bicara, biar ga kesannya nenenin adik itu jadi seperti hukuman untuk Ara. Nanti malah jadi bete dia sama Yoda. Uuppss.. maaf ya ra… sumbu sabar mama lagi jadi agak pendek nih memang huhuhu...

Ara sudah besar ya!
Kalau mau request Ara sesuatu, misal makan sendiri tanpa nonton atau beresin mainannya, kita tekankan itu karena memang dia sudah besar, bukan karena dia sudah jadi kakak. Makanya kita suka ga setuju kalau ada yang ngomong ke Ara “ayo dong makan sendiri. Kan udah jadi kakak, malu nanti sama adiknya.” Menurut kita perkataan seperti ini bisa memicu kekesalan “ih gara-gara ada adik jadi makin harus ini itu.”  Jatohnya banding-bandingin, padahal ini yang mau dihindari. Daripada itu, mending memang kita fokus ke Aranya aja. Arti besar yang kita ajarkan “sudah bisa makan sendiri ga disuapin, mandi sendiri, tidur sendiri, beresin mainan sendiri, mau salam dan menyapa jika bertemu orang lain.” Kita jelasin juga kalau dia bisa melakukan hal-hal itu, artinya sudah bertambah besar dan boleh mendapat lebih banyak hak juga, seperti boleh nambah snack, waktu nonton lebih lama, dan bisa naik lebih banyak jenis-jenis permainan kalau ke timezone atau tempat main lainnya.

Tumbuhkan rasa bangga sebagai kakak dan rasa sayang ke adik
Kalau Yoda melakukan sesuatu yang lucu, kita bilang “hihihi siapa dulu dong kakaknya”. Kalau Ara bersikap manis, misal saat Yoda bangun dia menyapa “hai Yoda..ini kakak Ara!!” kita puji dia “wah kakak Ara baik sekali…sayang adik ya”. Kita juga suka nyanyi lagu-lagu tema keluarga dan ubah sedikit kalimatnya. “Satu-satu, Ara sayang mama. Dua-dua, Ara sayang papa. Tiga-tiga, sayang adik Yoda.. satu dua tiga…sayang semuanya…”

Quality time
Tetap sediakan waktu main sama Ara, waktu adiknya lagi tidur dan lagi bangun. Ini supaya Ara ga mikir kalau mama papanya baru mau main sama dia kalau adiknya bobo aja. Pas adiknya bobo, kita juga ga terlalu minta Ara untuk diam biar Yoda ga kebangun. Dia boleh main seperti biasa, tapi kita minta supaya ga sengaja ganggu Yoda (misal sengaja dikitik-kitik atau diuyel-uyel). Ini juga sekalian latian biar Yoda ga terlalu sensitif. Susah juga kalau suasana rumah harus selalu tenang biar dia bisa tidur. 
Waktu Yoda umur dua minggu dua hari, bertepatan sama acara family day di sekolah Ara. Tadinya mikir Ara datang sama papanya aja, tapi akhirnya kita putuskan untuk datang berempat walau ga sampai selesai. Yang penting Ara happy, dan dia ga merasa dinomorduakan. She knows we make an effort for her.

Perlu juga quality time sama Ara berdua atau bertiga aja sama papanya, tanpa Yoda. Minggu lalu sempat ajak Ara ke pasar malam. Yoda ditinggal di rumah omanya, ditinggalin asip. Ara keliatan senangggg sekali. Kita jadi trenyuh liatnya.
.
.
.
Sampai tulisan ini dibuat, rengekan-rengekan Ara yang ga jelas masih berlangsung. Dia juga sepertinya masih gundah dan mix feelings ke Yoda. Baru aja tadi siang saya ajak ngomong, saya yakinkan lagi bahwa walaupun waktu saya atau papanya mungkin berkurang untuk dia karena ada adik, tapi rasa sayangnya ga akan berubah. We love you both so much!!!

Pas Yoda lebih besar nanti, pasti akan ada kejadian-kejadian berantem antara Ara dan Yoda yang buat elus dada dan kepala spaneng. Akan mulai terdengar komen-komen “It’s not fair!” atau pengaduan-pengaduan “mama…..adik gini nih…” atau “kakak duluan kok yang mulaii…”  tapi itu masalah nanti. We deal with it later haha

Untuk sekarang, karena Yoda masih piyik dan masih mau sama siapa aja, perhatian saya dan suami lebih condong ke Ara, untuk bantu dia menghadapi salah satu adjustment terbesar dalam hidupnya.You can do it, Ara!!