Tuesday, September 30, 2014

Discipline is never about punishment

Sekitar 2 minggu lalu ketemu teman yang jadi psikolog konsultan di satu sekolah. Baru kejadian ada kasus, anak yang lebam-lebam di beberapa bagian tubuhnya. Ternyata ibu si anak 7 tahun ini ’hobi’ memukul. Huff... kasus kekerasan anak tampaknya masih banyak ya :’(

”Disiplin itu perlu, biar anaknya ga manja dan ga seenaknya.”
”Itu emang anaknya harus digituin, biar disiplin. Kalau ga, nakalnya minta ampun, jadi kurang ajar sama orang tua.”
”Itu tanda saya sayang sama dia, karena saya mau dia belajar melakukan sesuatu dengan benar.”
”Dulu orang tua saya juga didiknya seperti itu, dan saya baik-baik saja. Malah jadi disiplin dan  tangguh.”

Itu segelintir alasan yang biasanya diutarain orang tua untuk jadi pembenaran kenapa mereka sampai membentak,cubit, jewer, tampar, atau memukul anak. Berbaik sangka, mungkin hanya pada belum tau cara lain didik anak ya...

Kuncinya ada di kata disiplin itu tuh yang sering disebut-sebut. Sepertinya banyak yang menyamakan antara disiplin dengan hukuman dan kekerasan…padahal disiplin ≠ hukuman dan pastinya disiplin ≠ kekerasan.

Kalau kata Jane Nelson (praktisi pendidikan yang fokus pada praktek disiplin positif):
 Where did parents ever get the crazy idea that in order to make children do better, first we have to make them feel worse????”

Disiplin itu sebenarnya kan cara untuk mengajarkan dan mengembangkan anak melalui pemberian instruksi, umpan balik, dan batasan. Kalau disiplinnya tepat, anak akan paham apa yang kita harapkan dari mereka dan bagaimana perilaku yang sesuai aturan/ norma, paham konsekuensi kalau mereka lakuin hal yang ga semestinya (misbehave), dan jangka panjangnya,  mereka akan bisa kontrol perilakunya sendiri (self discipline). Sebaliknya, hukuman dan kekerasan ampuh sih buat menekan/menyetop perilaku yang ga baik, tapi cenderung cuma buat jangka pendek aja dan malah buat anak jadi takut sama ortu. Karena ga sedikit orang dewasa yang terlanjur salah kaprah antara pengertian disiplin dengan hukuman, sekarang ini jadi dipakai istilah disiplin positif untuk mengacu ke praktek disiplin yang diharapkan dari orang tua.

Orang tua yang nerapin disiplin positif, mereka mengajarkan dan mendidik dalam suasana yang penuh rasa respect (yup, respect itu ga cuma ke orang dewasa), empati, dan kasih sayang, disertai batasan yang adil, tegas, dan konsekuensi yang masuk akal. Disiplin positif akan mendorong berkembangnya keterampilan hidup, disiplin diri, tanggung jawab, kerjasama, keterampilan berpikir sebab akibat, dan keterampilan pemecahan masalah, tanpa mengabaikan kesejahteraan psikologis anak. Mau tau kita tipe ortu yang seperti apa? Baca post what kind of parents are you? ini ya :)

Elemen disiplin positif: 5C
Buat saya, disiplin positif itu bisa dirangkum dalam 5 elemen ini.
1.    Connection before correction
Anak coret-coret dinding, anak  ngebaret laptop, anak pecahin barang, anak rusakin mainan, anak berantakin kamar...Banyak banget ya kelakuan anak yang bisa ortu esmosi. Saya nerapin disiplin positif, bukan berarti ga boleh atau ga bisa marah. Hanya aja, saya berusahaaaa banget untuk kontrol diri supaya ga marah-marah (paling susah kalau lagi cape banget atau lagi bad days yang buat ga mood @_@). Saya selalu coba ingetin diri sendiri kalau self esteem dan hubungan dengan anak lebih penting daripada dinding yang bersih, laptop yang mulus, barang dan mainan yang terawat, atau kamar yang rapi…inget-inget kalau yang mau kita ubah itu, yang kita ga suka itu, adalah perilaku (bukan pribadi) si anak… inget-inget kalau pas Ara salah, yang saya mau adalah supaya kejadian itu jadi ajang belajar buat dia dan bukan ajang pelampiasan emosi saya…makanya itu, saya usaha mikir-mikir cara lain supaya Ara tetap tau batasan dan ga seenaknya. Kalau lagi kesel banget, saya milih ninggalin dia sebentar, titipin ke papa atau mbanya, daripada saya lakuin hal-hal yang ga semestinya.

2.    Compliments
Kita aja sebagai orang dewasa seneng yah kalau dipuji atau hasil usaha kita diapresiasi. Anak-anak apalagi. Tapi kasih pujian juga ada triknya biar lebih efektif. Bayangin deh, kalau dikit-dikit orang muji  kita (“kamu jago banget masaknya deh” padahal cuma buat mie rebus atau “keren bener ini power pointnya” padahal cuma poin-poin biasa ditambah satu gambar aja) saya malah bakal mikirnya ‘ah ini orang lip service aja nih. Atau jangan-jangan malah ngeledek’.  So don’t overuse compliment and praise, biar anak ga jadi praise junkie.. hehehe... Kasih pujian dengan tulus dan spesifik ke perilaku (“wah rajin ya sudah mau beresin mainan “ atau “anak mama hebat mau coba makan sendiri, ga disuapin lagi”) karena bisa lebih efektif untuk mempertahankan/ mengembangkan perilaku, daripada pujian umum kayak “good girl/ good boy”. Sekali-sekali puji anak di depan orang lain supaya harga diri dan percaya dirinya meningkat. Banyakin pujian terhadap usaha daripada hasil. “Kakak tadi usaha keras ya buat bikin gambar kupu-kupunya, kakak coba pakai banyak warna…Indah..”  alih-alih “gambar kakak indah sekali, kamu memang berbakat!” Tidak apa-apa hasil karya tidak sempurna, tapi anak mau nuntasin dan ga cepat nyerah waktu nemu kendala. Ada hasil penelitian kalau anak-anak yang cenderung dipuji berdasarkan bagus tidaknya hasil akhir, akhirnya justru menghindar dari tugas-tugas yang menantang karena takut ga bisa selesaikan itu dengan sempurna. Mereka merasa bahwa orang tuanya bangga dan sayang hanya jika hasil kerja mereka baik.


Hukum perilaku: perilaku akan diulang kalau dapat penguatan. Penguatan ini bisa macam-macam bentuknya. Paling baik dan natural itu penguatan sosial (senyuman, pelukan, pujian verbal, tepuk tangan, tepukan di pundak, jempol). Kadang kita ingin dan nuntut anak bisa ini bisa itu tapi kitanya sebagai orang tua lupa kasih penguatan, atau lebih parah lagi, yang dikasih penguatan malah perilaku kurang baik. Misalnya nih, kalau anak-anak main anteng, ortu cuek. Nah giliran anak berantem, ortu langsung marah-marah. Marah-marah ini bisa lho dianggap anak sebagai bentuk perhatian. Jadi kita sebagai orang tua memang mesti hati-hati untuk kasih perhatian dan penguatan ke perilaku yang positif, bukan perilaku negatif.

Untuk beberapa perilaku, boleh kok dibantu penguatannya dengan pakai rewards token. Setiap anak nunjukin perilaku yang sedang jadi fokus (misal, minta sesuatu dengan kata-kata bukan tangisan, atau sikat gigi sebelum tidur, atau baca buku setiap hari 30 menit) kasih satu token. Token ini bisa berupa gambar bintang, stiker, koin, cap, tanda centang, dsb. Terusnya buat kesepakatan deh, misal, kalau sudah dapat sekian bintang, stiker, atau koin, boleh ditukar sama sesuatu (tambahan 30 menit nonton di akhir pekan, buku baru, boleh tidur lebih malam di hari sekolah, boleh nonton bioskop di akhir pekan, dll). Perilaku yang ingin dikuatkan harus disesuaikan sama usia anak, begitu juga dengan bentuk token dan rewards. Kalau penerapannya tepat, token masih efektif kok hingga remaja, bahkan sampai dewasa. Sistemnya sama seperti kalau kita main di timezone (dapat sekian tiket bisa ditukar hadiah) atau kalau belanja (sekian ratus ribu dapat hadiah langsung) atau ke restoran (beli 10 gratis 1).




Mungkin ada yang mikir ”ah tapi gimana kalau nanti jadi ketergantungan sama rewards?” Dari penelitian dan pengalaman tangani kasus, kebanyakan sih kecemasan orang tua ini ga terbukti kok. Biasanya token ini berguna banget untuk awal-awal pembentukan/pengubahan perilaku. Nantinya, ketika perilaku sudah jadi kebiasaan atau terinternalisasi dan anak dapat rewards internal (oh memang bener ya kata mama kalau banyak baca jadi lebih banyak tau, jadi bisa lebih nyambung ngobrol sama banyak orang), banyak yang bahkan lupa untuk minta rewards. Lagipula token bisa kok dikurangi secara bertahap. Jadi misal awalnya dapat 1 token setiap kali anak mau sikat gigi, berikutnya baru dapat 1 token kalau mau sikat gigi 2x sehari, berikutnya baru dapat 1 token kalau sikat gigi sendiri 2x sehari berturut-turut selama 2 hari, dan seterusnya. Dan jangan sampai lupa, pemberian token itu wajib kudu mesti harus dibarengi sama penguatan sosial.

Untuk saat ini, saya belum terapin sistem token ke Ara karena menurut saya belum perlu. Perilakunya masih bisa dibentuk dengan penguatan sosial dan elemen-elemen C lainnya.

3.    Consequences
Gimana ya caranya supaya anak disiplin tanpa ortu kasih hukuman? Ini dia fungsinya konsekuensi natural dan konsekuensi logis. Contoh konsekuensi natural: anak ga mau makan, lama-lama dia pasti lapar sendiri. Anak banting-banting barang, barang rusak dan akhirnya dia ga bisa mainin lagi. Anak colok-colok stop kontak, kesetrum. Anak jajan sembarangan, sakit. Anak manjat-manjat, jatuh. Masalahnya, ga selamanya kita bisa nerapin konsekuensi natural. Kalau sudah diingatkan berkali-kali tapi tetap manjat juga dan akhirnya jatuh, mungkin gpp kalau hanya kursi pendek. Nah kalau di tangga? Kan gawat. Terus ya masa kita mau biarin anak rusak mainan-mainannya? Cekak di dompet itu mah *.* So, hindari konsekuensi natural kalau memang membahayakan keselamatan, atau membuat sakit, atau secara etika kurang baik. Apa dong gantinya? Kita bisa pakai konsekuensi logis.


Konsekuensi logis itu konsekuensi yang relevan dengan kesalahan anak, masuk akal (sesuai usia dan perkembangan anak), tetap menghargai anak, dan mendidik. Saat kasih konsekuensi logis, ortu perlu jelasin alasan kenapa anak dikasih konsekuensi tertentu dan apa yang bisa dilakuin untuk ’nebus’ kesalahan. Ortu juga ga marah-marah pas kasih konsekuensi, lebih ke pernyataan. Contoh dari pengalaman sehari-hari:
þ  Ara lempar-lempar mainannya dengan sengaja à kehilangan hak mainnya. Ambil mainan yang dilempar, simpan sementara waktu. Ara boleh pilih mainan lainnya, tapi kalau masih dilempar-lempar juga, ambil lagi.
þ  Ara tumpahin air à bantu bersihkan sebisanya, ambil tisue dan lap-lap.
þ  Ara jambak rambut à minta Ara minta maaf dan elus-elus rambut.
þ  Ara coret-coret tembok à minta Ara bantu bersihkan sebisanya. Kalau masih coret-coret lagi setelah beberapa kali dikasih tau, stop kegiatan.
þ  Ara lepeh-lepeh makanan à dilepeh satu sendok, tambahin lagi satu sendok. Khusus makanan ini harus liat-liat sih, apa dilepeh karena iseng atau memang sudah kenyang atau ga suka makanannya.

Apa bedanya dengan hukuman? Hukuman biasanya ga relevan sama perilaku (contohnya ga boleh main ke taman gara-gara coret-coret dinding), ga mendidik (misalnya suruh berdiri satu kaki sambil jewer telinga karena rebutan mainan), disampaikan secara negatif (sambil teriak, menggertak, membentak, menyindir, merendahkan, mengejek), dan seringkali tanpa disertai penjelasan (because I said so!).

4.    Consistency
Konsistensi ini penting banget. Kalau ortunya ga konsisten nerapin konsekuensi, yang ada anak malah bingung. Misal anak coret-coret dinding, kadang dikasih konsekuensi tapi kadang dibiarin. Atau sama mama ga boleh, tapi sama papa boleh. Beda penerapan aturan juga buat aturan dan konsekuensi itu jadi ga efektif. Lebih kacau lagi kalau misal sudah ancam kasih hukuman, tapi ga dijalanin. Kayak ngomong“kalau makannya ga abis, ga mama ajak pergi-pergi lagi!” It’s such an empty threat. Ga mungkin juga kan ya anak ditinggal di rumah terus? Jadi jangan buat janji atau konsekuensi yang kita tau ga bakal bisa ditepati. Kalau ada situasi khusus, katakanlah anak lagi sakit jadi minta disuapin makannya atau minta makan di kamar, ya gpp asal dikasih penjelasan kalau ini perlakuan spesial.  

5.    Creativity             
Jadi orang tua mesti belajar kreatif juga ternyata ya. Di samping empat elemen C yang udah dijabarin, beberapa trik ini juga bisa dicoba.
þ      Jam dinding
”Ra.. nontonnya 5 menit lagi selesai ya. Kalau jarum panjangnya ini udah di angka tiga, artinya waktu nonton selesai. Mama matiin videonya.”  Ara sudah kenal konsep panjang pendek dan tau angka 1-5, jadi instruksi gitu cukup untuk dia. Kalau yang belum kenal konsep panjang pendek, jarum panjang dan jarum pendeknya bisa dikasih warna beda, dan di angka yang mau jadi patokan waktu bisa dikasih tanda (misal ditempel post-it notes). Kalau pakai teknik ini, anak dikasih waktu antisipasi, ga ujug-ujug kita stop kegiatannya. Cara lain yang serupa, bisa pakai jam weker. ”Misal alarmnya udah bunyi, artinya mainnya udahan ya, dan Ara mesti mandi.”  Kalau mau buat Ara beresin mainannya, bisa juga pakai games. ”Ayo ra, mama hitung sampai sepuluh ya. Bisa ga ya semua masuk ke keranjang pas sampai hitungan sepuluh?”


þ    Caught being good
Bosen denger anak berantem sama kakak atau adiknya dan ngadu ini itu? Balikin supaya mereka laporan yang baik-baik aja. Jadi daripada ngadu ”mamaaa....kakak nih injek-injek sofa pakai sepatu” atau ”papaaa...adek robekin buku nih” , kita mau biasain mereka fokus ke perilaku baik. Laporannya jadi macam”mama....kakak tadi bantuin aku ambil buku di rak” atau ”papa, tadi adek kasih pinjem mainannya ke aku”. Setiap laporan positif, kasih mereka koin (100-500 rupiahan aja) untuk ditabung. Nanti kalau penuh, dipakai sama-sama deh buat jajan atau beli mainan. Trik ini bisa buat anak terdorong untuk lakuin yang baik-baik dan ubah suasana di rumah jadi lebih positif.  

þ      Ubah lingkungan supaya anak bisa minimalisasi perilaku yang kurang oke
Misalkan anak lagi mau tuang sendiri susu dari karton susu ke mangkok serealnya, tapi malah jadi tumpah kemana-mana, bisa diakalin dengan kita pindahin dulu ke botol/ gelas yang lebih kecil. Kemandirian ini bisa didorong, tapi kemungkinan tumpah mengecil. Contoh lain, anak suka banget mandiin boneka-bonekanya, ngabisin sabun deh. Bisa diakalin, tiap hari dikasih botol kecil aja. Kalau sudah habis ya sudah, tunggu besok lagi.

þ     Kode Warna
Emak-emak biasanya sering ngomel karena rasanya rumah kok ga pernah rapih. Baru aja diberesin eh udah berantakan lagi, mainan berserakan dimana-mana. Coba terapin aturan, kalau satu mainan belum diberesin, ga boleh ambil mainan baru. Terus trik ini bisa dicoba untuk minta bantuan anak beresin barang-barangnya. Kasih kode warna, di mainan dan di tempat penyimpanannya.


þ       Whataver that works!
Apapun deh, selama itu ga tabrakan sama aturan yang ada. Kayak akhir-akhir ini nih, Ara kan lagi susah disuruh mandi, beberapa kali bahkan mandi sambil nangis. Trik yang berhasil: 'mandiin binatang-binatang dan 'berendam di ember sama bola-bola'. Situasi khusus, trik khusus :D 


Ini dulu ya yang bisa saya share. Semogaaaa aja makin banyak orang tua yang sadar pentingnya dan mau nerapin disiplin positif ^^ 

2 comments:

  1. Hi Ori, aku lagi mendalami terapi yg nerapin 5C ini nih utk disiplinin anak namanya PCIT parent-child interaction therapy. Nanti klo ktmu ngubril2 lagi ya. Aku devi kla 10 klo kamu masih inget, yg pernah minta tolong skoring tes heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mba devi... sekarang mba devi kerja dimana? wah nanti kalau ada seminar atau workshop PCIT mau dong infonya....wa aku ya 081310309099

      Delete