Tuesday, September 30, 2014

What kind of parents are you?

What kind of parents are you?

SITUASI 1: Anak 3 tahun lagi main-mainin bola. Dia lempar-lempar dan coba masukin ke keranjang basket mini yang memang ditaroh di ruang keluarga. Suatu saat salah sasaran dan kena gelas kesayangan anak di atas meja, pecah gelasnya.

Ortu A: “ADDEEEKKK!!!!!! Kan mama udah bilang berkali-kali kalau main ati-ati! Denger ga sih?! Ampun deh ini anak nakal bener sih, susah banget sih dinasehatin. Coba itu gelas jadi pecah kan. Kamu nyusahin mama aja, bahaya tau. Kamu mau kakinya luka? Udah sana masuk kamar (sambil dorong anak dengan kasar).  Ga jadi mama beliin es krim!”

Ortu B: ”Aduh sayang, awas-awas jangan disana nanti kena pecahan. Maafin mama lupa tadi naroh gelas di situ, ga langsung dibawa ke dapur abis adek minum tadi. Jadi kena bolanya adek deh. Cup cup sayang jangan nangis. Adek mau apa? Oh mau gelas kayak gitu lagi? Oke oke..nanti mama beliin lagi ya, kita cari yang  sama persis ya.”

Ortu C: ”Aduh adek.. mainnya lebih hati-hati dong, apalagi kalau di dalam rumah. Sekarang gelas adek pecah kan jadinya, berarti adek tidak punya lagi gelas Pooh ya.  Sini bolanya mama simpan, kita beresin dulu ini. Tapi karena banyak pecahan, nanti adek bisa luka. Jadi mama beresin dulu pecahan-pecahan gelasnya, nanti adek bantu buang ke tempat sampah aja. Deal?”

Ortu D: ”Mba..adek pecahin gelas tuh. Tolong beresin. Si adek suruh main kamar lain dulu aja waktu kamu beres-beres.”


----------------------------------------------------------------------------------------------------

SITUASI 2: A usia 8 tahun, sedang antri dokter dan di ruang tunggunya ada mainan-mainan. Ia main pesawat-pesawatan, lalu ganti ke puzzle. Ga berapa lama B datang dan ambil pesawat-pesawatan yang tadi dimainin A. A langsung rebut dan bilang ”Ga boleh. Aku belum selesai mainnya. Aku cuma mau main puzzle sebentar kok terus main pesawat lagi.” B ga terima, dan tarik-tarikan sampai akhirya sayap pesawatnya patah.

Ortu A: “A! Main yang bener kenapa sih? Heran..ga bisa ya kalau ga pake berantem kalau main? Udah sini diem, duduk! Awas kamu ya, kalau ga bisa dikasih tau besok-besok ga mama beliin mainan lagi!”

Ortu B: “A mau main pesawatnya ya? B, kasih pinjem ya ke A, kan kamu udah besar…ngalah ya sama adek? Ga mau? Hmmm, ya udah A..nanti mama beliin lagi ya pesawat-pesawatan yang lebih bagus dari ini. A main ini aja dulu nih yang lain banyak.”

Ortu C: ”A, itu kan bukan mainan punya A. Ini punyanya pak Dokter, dipinjemin buat main sama-sama. Jadi mainnya harus gantian ya. Itu sekarang sayapnya patah, harus bagaimana dong? Nah iya bener, A nanti harus minta maaf sama pak Dokter. Dan..nanti kamu pilih 1 mainan kamu buat gantiin pesawatnya, itu namanya tanggung jawab.”

Ortu D: (terokupasi baca majalah, anggap A dan B toh nantinya akan diem sendiri)
----------------------------------------------------------------------------------------------------

SITUASI 3: C (14 tahun) bawa pulang tugas dari sekolah, diminta untuk buat project  tentang berbagi kebaikan.

Ortu A: ”Ini ada waktu 5 hari buat kerjain kan. Tiap malam laporan ke mama pas mama pulang kerja. Kalau ga ada kemajuan, Sabtu ga usah pergi ke rumah temen! Inget ga project lalu kamu dapat nilai jelek, gara-gara malas belajar kan? Ikutin kata mama biar pinter, belajar yang bener.”

Ortu B: ”Wah kita punya waktu 5 hari nih buat bikin projectnya. Tugas terakhir kan nilai kamu kurang bagus ya, sekarang mama bantuin buat ya biar bisa dapat nilai yang lebih tinggi.”

Ortu C: ”Kita buat plan yuk. Kamu mau buat project yang seperti apa? Coba kamu pikir beberapa ide, coba googling, nanti kita diskusi mana yang kira-kira paling kamu suka dan bisa dilakuin. Nanti tiap malam kita bahas sama-sama ya, mama liat kemajuan kamu sampai mana.”

Ortu D: ”Kamu kan sudah besar, bisalah pikir ide sendiri. Di internet juga banyak bahan buat bantu.”


----------------------------------------------------------------------------------------------------

Kalau kita sebagai orang tua di ketiga situasi tadi, kira-kira reaksi kita seperti ortu yang mana ya?
Apakah seperti ortu A, yang gampang teriak-teriak main ancam? 
Apakah seperti ortu B, yang cenderung menuruti keinginan anak?  
Apakah seperti ortu C, yang bersikap tegas namun tanpa pakai kekerasan?  
Apakah seperti ortu D, yang ga terlalu peduli sama anak? 

Pada dasarnya, ada 4 gaya pengasuhan, berdasarkan kombinasi dua dimensi yaitu kontrol dan kehangatan.
  


Ortu A gayanya cenderung otoriter (authoritarian), kontrol tinggi tapi tidak terlalu hangat. Selalu ingin ngontrol anak, menuntut, tapi ga mau libatin anak dalam buat keputusan, dan ga buka ruang bagi anak untuk nanya, kasih masukan, atau nego aturan. Komunikasi cenderung satu arah. Because I said so! Do what I say! Titik. Dampak jangka panjangnya, anak cenderung kurang punya inisiatif, bisanya ikut-ikutan dan tergantung sama orang lain, diliputi rasa takut atau kemarahan terpendam. Ia bisa jadi anak yang rendah diri dan pencemas, atau sebaliknya jadi agresif, berontak, dan sneaky ’asal ga ketauan aja’. Hubungan dengan orang tua cenderung kurang dekat dan kaku, anak jarang diberi kesempatan ekspresiin dirinya.
 



Ortu B tipe permisif, hangat namun kurang kontrol. Tipe ini kurang memberi aturan dan batasan perilaku bagi karena sangat ingin menjaga hubungan baik dengan anak. Ortu juga punya kepercayaan bahwa kebebasan sepenuhnya akan menghasilkan anak kreatif dan percaya diri. "Whatever you say honey ..." Dampak jangka panjangnya, anak cenderung kurang mampu mengontrol dirinya, egois, dan manja. Ia biasa hidup di lingkungan yang semua keinginannya dipenuhi, padahal dunia nyata tidak seperti itu. Akibatnya sulit untuk coping saat terjadi hal-hal di luar keinginannya. Hubungan dengan ortu dekat, jarang ada pertengkaran, dan berpusat pada kebutuhan dan kemauan anak.


Ortu tipe C bergaya autoritatif, kontrol dan kehangatan sama tinggi. Tipe ini paham kalau perlu kasih aturan dan batasan buat anak, tapi ga main asal kontrol. Anak dikasih penjelasan kenapa ada yang boleh dan ga boleh. Anak juga boleh urun rembuk dan ortu suportif biar anak jadi mandiri. Prinsipnya "lets figure it out together...."  Ortu tipe ini nerapin disiplin positif (lengkapnya bisa dibaca di post disiplin positif ini). Dampak jangka panjangnya, anak punya self-esteem yang baik, bisa kontrol perilakunya, bisa lihat sudut pandang orang lain, dan kompeten secara sosial. Hubungan anak dengan ortu hangat dan terbuka, anak bisa kasih tau pendapat dan keinginannya tanpa takut, tapi juga sadar kalau ortunya ga akan main bilang oke aja. 



Ortu tipe D adalah ortu yang neglect (kontrol dan kehangatan sama rendahnya). Tipe ini lebih berpusat sama dirinya sendiri, kurang tertarik dengan apa yang terjadi pada anak, dan menganggap anak bisa berkembang tanpa bimbingan. Anak bebas mau ngapain aja, ga ada aturan. "Whatever, I dont care." Hubungannya cenderung dingin, jarang ada komunikasi antara orang tua dan anak, masing-masing urus kehidupannya sendiri-sendiri. Dampak jangka panjangnya, anak dapat merasa terabaikan dan ga diinginkan, hingga self-esteemnya pun rendah.


Ga ada orang tua yang sempurna, tapi saya yakin kita semua pasti mau yang terbaik buat anak-anak kita. Gambar berikut ini merangkum hasil penelitian tentang efek pola asuh terhadap perkembangan anak di berbagai aspek.



Jadi..ingin anak kita jadi seperti yang mana?

We, as parents, can control our parenting styles. 
We, as parents, have a very huge part in how our children will turn out. 

Seperti yang ditulis Dorothy Law...


It's all up to us, dear parents!

No comments:

Post a Comment