Saturday, May 23, 2015

Mengasah Keterampilan Prabaca Anak

Pada ingat ga sih kapan dulu pertama kali bisa baca dan gimana proses belajarnya? Saya kok ga ada memori soal itu ya. Pokoknya tau-tau udah bisa aja (padahal pastinya bukan ‘tau-tau’ ya) hehe…

Proses belajar baca itu kompleks. Kebanyakan anak bisa baca usia 6-7 tahun (pas lah sama usia masuk SD), sementara critical period saat anak sedang siap-siapnya cepat-cepatnya menyerap bahasa lisan dan tulisan itu sekitar usia 3-6 tahun. Namun keterampilan prabaca (pre-reading skills) yang jadi dasar untuk jadi pembaca yang baik, sebenarnya mulai bisa dibangun bahkan sebelum usia setahun. Keterampilan prabaca ini bisa secara alamiah berkembang seiring bertambahnya usia anak, melalui permainan, eksplorasi, serta interaksi sehari-hari dengan orang dewasa yang sayang dan responsif (saya bold nih, biar ga pada mikirnya kalau mau anak bisa cepat baca harus ikut kursus baca, apalagi terus yang pakainya metode drilling dan worksheet). Kuncinya pada pengalaman bermain dan pengasuhan yang responsif. Alhamdulillah berarti orang tua dan pengasuh saya dulu kasih bekal yang oke buat asah keterampilan prabaca, jadi pas belajar baca formalnya ga terkendala.

Apa aja sih keterampilan prabaca itu dan stimulasi apa yang bisa orangtua kasih buat anak? Yuk kita bahas..

1.     Kesadaran tulisan cetak (print awareness)
Maksudnya, anak bisa paham kalau tulisan itu mewakili kata-kata lisan dan tau gimana sih cara pegang dan baca buku yang benar (dari halaman judul/ cover sampai ke halaman akhir, baca kalimat dari kiri ke kanan, buka halaman satu per satu biar ceritanya runut).

Gimana biar anak paham? Sering-seringlah ajak anak baca buku dan pilih buku yang tulisannya besar untuk tahap awal. Mulai waktu cerita dengan kasih tau judul bukunya, pengarang, dan ilustrator. “Yuk baca buku ini. Judulnya ‘Aku Anak Jujur’. Yang nulis ceritanya namanya……, dan yang buat gambar-gambarnya itu namanya ……”. Selagi waktu cerita, tunjuk kata-kata yang sedang dibaca. Kasih kesempatan anak pegang buku dan bolak-balik halaman, jenis board book paling enak karena ga bakal gampang sobek. Coba sesekali pegang buku terbalik, sadar ga ya anaknya? Kalau tau, berarti dia udah mulai bangun kesadaran tulisan cetak tuh.

Oh iya, tulisan cetak itu ga cuma buku lho. Label makanan, resep, papan pengumuman, petunjuk jalan, atau menu restoran, juga termasuk tulisan cetak. Sambil jalan, bisa banget sambil baca macam-macam tulisan itu. Lama-lama anak paham bahwa ‘coret-coretan’ alias tulisan itu ada artinya, dan itu bisa bantu kita untuk pahami sesuatu. Di rumah, saya juga suka kasih label beberapa benda yang sering dipakai dan dilihat Ara, seperti MEJA, TULIS, serta gambar POHON dan JERAPAH di dinding. Semakin anak familiar dengan tulisan cetak di keseharian, anak pun akan lebih nyaman dengan tulisan cetak di buku.


2.     Motivasi baca (print motivation)
Sebelum anak belajar baca, lebih penting pupuk kesenangan anak untuk baca. Kalau anak bisa enjoy waktu baca buku, pasti lebih mau buat belajar baca. Alhamdulillah Ara sangat senang baca buku, tiap hari pasti dia yang nagih minta dibacakan buku. Dia juga suka pura-pura baca, nebak-nebak ceritanya dari gambar. Beberapa buku bahkan sudah mulai hapal dan bisa ikutan cerita di bagian-bagian tertentu. Gimana biar anak senang baca? Saya pernah nulis soal ini, lengkapnya bisa dibaca disini ya..

3.     Kosa kata (vocabulary)
Kosa kata disini maksudnya tau nama-nama macam-macam benda, emosi, kejadian, dan konsep (besar kecil, apung tenggelam, basah kering, dll). Jadi bukan hanya kata benda, tapi juga kata kerja dan kata sifat. Menurut penelitian, anak yang kosa katanya banyak merupakan pembaca yang lebih baik. Semakin kaya tabungan kosa katanya, lebih mudah untuk pahami apa yang dia baca. Keterampilan baca memang bukan hanya terkait 'bisa baca tulisannya' aja, tapi juga perlu ngerti apa isi bacaannya. 

Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Pertama, sering-sering ajak anak ngobrol. Narasikan apa yang kita dan dia lihat, dengar, pegang, lakukan, atau rasakan. Lagi di rumah tau-tau ada suara sirine, cerita deh “wah tuh denger ga dek ada suara nguingg…nguing…nguing… ? Ada mobil pemadam kebakaran lewat! Berarti ada gedung/ rumah yang kebakaran, kena api! Jadi apinya mau dimatiin pakai air. Disemprot, wusshhhh..padam deh…”

Kedua, perkaya cerita anak. Misal dia cerita “ada kelinci” bisa kita tambahin “wah iya, ada kelinci. Yang suka makan wortel itu ya? Kalau kelinci makan, wortelnya ga dimasak. Mentah juga gapapa..”

Ketiga, baca buku sama-sama. Menurut hasil studi, kosa kata baru itu lebih banyak didapat dari baca buku, daripada percakapan seehari-hari atau dari nonton televisi. Buku yang saya suka banget itu karangan Eric Carle (Very Hungry Catterpilar dan Turtle). Sayang bahasa Inggris sih, kadang saya juga bingung cari padanan kata Indonesianya.

4.     Kemampuan narasi (narrative skills)
Ini artinya anak bisa ‘baca situasi’ dan cerita tentang macam-macam hal dan kejadian dengan kata-katanya sendiri. Kemampuan cerita dan ceritakan ulang ini bantu anak pahami apa yang dibaca. 

Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk stimulasi? Lagi-lagi, baca buku sama-sama. Buku bantu anak ngerti sekuens, apa yang terjadi di awal, tengah-tengah, dan akhir. Tanya “apa yang kira-kira akan terjadi ya?” sebelum lanjut ke halaman berikut. Minta anak untuk gantian bacakan buku. Sering-sering ajak anak ngobrol. Tanya dia lagi lihat apa, dengar apa, main apa, mau apa, rasa apa, dan alami apa. Kalau lagi jalan-jalan, ajak anak amati sekeliling “eh itu apa ya? orang itu lagi apa ya? kenapa itu bentuknya bisa gitu ya?” Kasih waktu anak buat mikir mau jawab apa, jangan buru-buru bantu jawab.

Satu kegiatan yang ampuh juga buat latih kemampuan narasi itu dengan main pura-pura. Main barenglah sama anak, idenya dari kejadian yang dialami sehari-hari aja. Sekarang ada waktu-waktu Ara sudah bisa main sendiri, ga usah ditemani. Cuma kadang saya suka nguping, kepo mau tau dia buat cerita apa. Pernah dia pura-pura jadi dokter, lagi periksa pakai stetoskop abis itu kasih perban bonekanya, gara-gara abis jenguk kakak saya yang tangannya patah. 



Pernah juga dia tau-tau celetuk “Eeyore baru datang..dari kampung..” Saya sampai ketawa karena kepikiran aja gitu ya dia. Biasanya kalau pergi bilangnya ke pasar atau mall, cuma dia dapat ide karena mbanya lagi minta ijin pulang kampunh hihihi.

5.     Pengetahuan Huruf
Sebelum bisa benar-benar baca, anak harus tau dulu alfabet, huruf besar dan huruf kecil. Dia harus ngerti kalau tiap huruf itu beda antara satu dan lainnya, beda bentuk, beda nama, dan beda suara.

Apa yang bisa orang tua lakukan? Sebelum belajar huruf, yang lebih awal itu asah persepsi visual dan pemahaman arah. Gimana anak bedakan satu bentuk dari bentuk lainnya, anak tau itu bentuk/ pola yang sama atau beda, Ini nanti akan bantu anak untuk belajar bedakan ‘b’ dengan ‘d’ dan ‘p’. Sama-sama ada perut dan tangkainya, tapi yang satu perutnya di kanan satu di kiri, satu tangkainya ke atas satu ke bawah.

Caranya? Lewat bermain. Misalnya, sebar potongan-potongan bentuk (lingkaran, segitiga, hati, dll) di lantai. Kasih satu potongan bentuk ke anak, minta cari yang sama dengan yang dia punya. Atau kasih gambar-gambar benda (sisir, piring, kunci, dll), dan minta anak cari benda aslinya di dalam rumah. Atau kasih kertas yang ada 3 gambar sama dan 1 gambar beda, minta anak tunjuk mana yang beda. Bisa juga dengan ngobrol tentang apa yang sama dan beda dari dua benda. Berhubung anak usia dini lebih gampang belajar dari hal-hal konkret, jadi enaknya benar-benar pakai benda nyata. Contohnya melon sama semangka utuh: sama-sama bulat, tapi warna, ukuran, dan teskturnya beda.

Kalau anak sudah bisa tau mana yang sama mana yang beda beda, dan mulai tau arah, bisa deh mulai kenalin huruf. Ara paling gampang belajar huruf pakai lagu alfabet. Dia sekarang udah tau huruf, dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Sebenarnya bukan niat mau ajari Ara bilingual, cuma berhubung kebanyakan video lagu-lagu anak yang kualitasnya oke di youtube itu Inggris, ya gitu deh. Ada yang Ara suka banget lagunya: “Alphabet Train” dari seri Mother Goose Club. Cari deh di youtube. Ini lagunya memang catchy berat. Sampai saya buatin beneran kereta alfabet ini dan tempel di dinding rumah.


Mulai belajar dari huruf yang paling relevan buat anak: huruf-huruf yang bentuk namanya. Biasanya kata pertama yang bisa dibaca dan ditulis anak itu namanya. Ini saya buat papan nama dari beras warna-warni, tempel di pintu kamar.


Pakai permainan surprise eggs juga seruJadi siapkan kertas yang isinya tulisan nama anak. Masukkan potongan-potongan huruf ke dalam surprise eggs. Minta anak buka satu per satu sampai menemukan huruf yang sama. 



Aktivitas fun lain: buat cap huruf pakai cat (alhamdulillah dapat kado huruf-huruf dari bahan foam plus kartu hurufnya), buat bentuk dan huruf di pasir, atau pakai dough.

6.     Kesadaran bunyi (phonological awareness)
Kata terbentuk dari satuan-satuan bunyi-bunyi yang lebih kecil. Setiap huruf punya bunyi masing-masing. Kalau anak punya kesadaran bunyi, ia bisa lafalkan suatu kata dengan benar berdasarkan bunyinya. Dengan kata lain, menyatukan suara untuk membuat kata. Kalau kita bilang “b(euh)…u…” dia bisa bilang itu ‘bu’. Kalau kita bilang “bu…ku..” dia bisa rangkai jadi ‘buku’. Sadar bunyi juga termasuk bisa kenali suara di awal dan akhir kata. Kalau kita tanya bunyi pertama dari kata mama, bisa bilang ‘em’.  Kalau kita tanya bunyi akhir dari kata basah, bisa jawab ‘ah’.

Anak yang kesadaran bunyinya baik akan lebih mudah untuk baca tulisan, termasuk kata yang tidak tau artinya atau bahkan nonsense words. Misalnya nih, kalau kita bisa baca kata berikut “sikutujilomangu” walau sebelumnya belum pernah tau kata ini exist (memang saya cuma ngarang kok hehe), itu karena kita sudah punya kesadaran bunyi.

Lalu apa yang bisa dilakukan orang tua untuk stimulasi? Kesadaran bunyi ini adalah keterampilan prabaca yang belajar awalnya malah ga gitu berkaitan dengan aktivitas baca. Selain pilih buku yang teksnya mengandung banyak rima untuk dibaca sama-sama anak, stimulasi lain itu penekanannya lebih pada bunyi.

Bernyanyi deh. Lagu itu punya nada berbeda untuk setiap suku kata, jadi anak bisa lebih peka dengan bunyi yang berbeda-beda dalam kata. Terus, lakukan permainan kata, misalnya “Apa yang berima dengan perah: merah atau putih? atau “Kata apa yang bunyi depannya sama dengan piano: piring atau patung?” Aktivitas lainnya bisa dengan minta anak ikuti irama, pakai tepukan tangan, dentingan sendok, stik, kerincingan, atau shaker. Contoh gampangnya itu ya tepuk pramuka (pada tau kan ya?). Coba kita tepuk pramuka, dan lihat apa anak bisa ikuti irama dan jumlah tepukan degan benar. Pas pertama-tama jangan langsung sekompleks ini sih polanya. Kegiatan lain lagi, minta anak tepuk tangan sesuai jumlah suku kata. Kalau kita bilang ‘Ara’ berarti dua kali tepuk (tepukan pertama untuk ‘A’, tepukan kedua untuk ‘ra’).  Kalau kita bilang ‘piano’ harusnya ada tiga tepukan (pi-a-no). Ara loves this game, go try it with your little ones.


Itu dia enam keterampilan prabaca dan contoh kegiatan stimulasinya. Jadi sebelum ajari anak baca (atau nuntut sekolah buat ajari anak baca) sejak dini, jangan lupa kembangkan dulu keterampilan prabacanya ya….

Ada baca, ada tulis. Tunggu artikel selanjutnya untuk keterampilan pratulis dan cara stimulasinya ^^

Link & Resource:
http://www.allaboutlearningpress.com/is-your-child-ready-to-learn-to-read
http://brightonlibrary.info/prereading
Every Child Ready To Read. www.pla.org/earlyliteracy.htm
Six pre-reading skills. http://www2.westminsterlibrary.org/kids/6PRSSummary.pdf
Six pre-reading skills. www.earlylit.net/s/parguidebrochTcolor-94co.pdf
Vaughn, Sharon & Bos, Candace. 2012. Strategies for Teaching Students with Learning Problems. Pearson Education

Wednesday, April 29, 2015

Si Kecil yang Mandiri


“Oriiiii….itu anaknya dipegangin dong kalau naik tangga..”

“Ehhhh…. Gpp tuh ri si Ara makan sate langsung dari tusuknya? Ga dipotong-potongin dulu?”

“Ara jangan naik-naik kursi! Sini-sini turun. Mau ambil apa? Sini diambilin. Duh ini mama papanya kok ya cuma liatin aja? Orang tua jaman sekarang apa gitu ya..”

“Itu kok Ara dikasih sih pegang gunting?”

Itu beberapa diantara banyak komen yang cukup sering dilontarkan ke saya dan suami, kebanyakan dari kakek neneknya Ara. Katanya, kami tuh kesantaian sebagai orang tua. Lihat Ara panjat-panjat kursi, kalau eyang atau oma opanya yang lihat, pasti sudah langsung kegopoh-gopoh nyamperin dan gendong atau nurunin dia. Sedangkan saya dan suami biasanya cuma ingetin “ra, itu kalau jatuh sakit lho ya..awas, hati-hati naiknya. Kalau mau ambil sesuatu belum sampai, Ara minta tolong aja.” Kalau beneran jatuh (beberapa hari lalu baru aja kejadian, sampai bibirnya agak jontor), kami biasanya ajak dia ngobrol “kenapa tadi Ra, kok bisa jatuh? Jadi lain kali harus gimana dong?” Kami berusaha banget hindari menyalahkan orang atau lebih parah lagi menyalahkan benda mati “Sakit ya nak? Lantainya nakal ya?” Ga make sense rasanya. Buat kami, selama ga life threatening, itu kesempatan buat Ara untuk belajar sebab akibat dari tindakannya. Panjat-panjat, resikonya ya jatuh dan merasa sakit. Anak itu pintar kok, dia juga pasti ga akan sengaja lakukan hal yang buat dirinya sakit. Bukan berarti semua semua dibiarkan, ya kalau lihat Ara lari ke jalan raya pasti kami stop juga...

Kami percaya anak punya kemampuan belajar yang besar. Pertanyaannya lebih ke: apa kita sebagai orang tua sudah kasih anak kesempatan untuk belajar? Kalau ada yang nanya apa ga takut Ara ketusuk pas makan sate, kami jawab “Dikasih tau aja cara makannya yang bener gimana supaya ga ketusuk. Kasih tau aja ‘dari samping ya Ra. Kalau dari depan, ini ujungnya tajam, sakit nanti kalau kena mulut…’” Awalnya mungkin perlu beberapa kali kami contohkan dan bantu ubah posisi tangan Ara, sambil awasi proses makannya. Pas yakin dia sudah bisa, dia makan sendiri sambil kami tinggal-tinggal juga ga khawatir.

Hari Jumat lalu, saya baru ketemu dengan salah satu orang tua murid. Saya dan kepala sekolah merasa bahwa perlu ada perubahan pola pengasuhan dari orang tua, nenek, dan mba dari murid ini. Kenapa? Karena dari aspek personal kemandiriannya, anak ini (usia 2 tahun 2 bulan) tertinggal cukup jauh dari anak sebayanya. Contohnya dalam hal makan, ia belum bisa makan dan minum sendiri. Karena selalu disuapi, ia ga belajar gimana pegang sendok dan gimana kontrol tangan supaya bisa masukkan makanan ke mulut atau pindahkan makanan dari satu wadah ke wadah lainnya tanpa tumpah. Makan pakai tangan pun hampir ga pernah, karena biasanya dilarang kalau mau pegang-pegang makanan. Biskuit bisa sih, walau kecenderungannya minta orang lain yang pegangi dan ia tinggal mangap. Makanannya pun seringkali masih diblender, sehingga tidak belajar mengunyah dan menelan dengan benar. Begitu juga dengan minum. Karena selalu disendokin, belum bisa minum sendiri dari gelas. Minum pakai sedotan bisa, tapi botolnya biasanya dipegangi orang lain.

Untuk berkembang, anak harus dikasih kesempatan untuk belajar dan melakukan kesalahan. Dalam prosesnya ini, pasti bakal buat berantakan, buat kotor, buat kacau, buat elus dada, buat geleng-geleng kepala, dan buat ga sabar. Tapi percaya aja, itu bukan asal berantakan dan kotor, itu berantakan dan kotor yang perlu ^.^ Rumah selalu rapih tapi anak ga belajar-belajar mandiri, sayang juga kan. Buat beberapa orang yang perfeksionis dan organized seperti saya, sebenernya susaaahh banget buat let it go. Strong urge to jump in, but I really try hard to hold myself and just trust the process. Let them learn. Bahkan sekarang saya kayaknya lebih santai dari suami (tapi inshaallah bukannya neglect kok). Suami masih melarang Ara untuk colok listrik, kalau saya sih merasa Ara sudah bisa dikasih tau gimana cara nyolok yang bener, mana yang boleh dipegang dan mana yang ga boleh. Yang saya tekankan “kalau lagi sendiri, ga boleh mainan kabel listrik ya ra..” Alhamdulillah sampai saat ini ga ada kejadian aneh-aneh. Sudah pernah juga dibacakan buku soal bahaya listrik, biasanya Ara memang lebih nempel belajar sesuatu kalau lewat cerita dan lagu. 

Setelah ulang tahun pertamanya, anak sudah mulai lebih aware sama lingkungan dan tertarik dengan hal-hal yang dikerjakan orang dewasa, seperti menyapu, mengepel, mencuci. Anak juga mulai tumbuh rasa ke’aku’annya, ingin coba-coba lakukan ini itu sendiri walau belum bisa. Begitu dia nunjukin rasa ingin tahunya dan ikut-ikutan, saat yang tepat nih untuk mulai fokus ajari keterampilan bina diri (self help skills): keterampilan yang harus anak lakukan supaya bisa penuhi kebutuhannya dan menjalani kegiatan sehari-hari dengan baik. Pada anak-anak, yang masuk ke keterampilan bina diri itu seperti
-          Gunakan alat makan, makan secara mandiri, siapkan makanan
-          Mandi, sikat gigi, dan sisir rambut sendiri
-          Berpakaian: pasang/ lepas baju, celanan, pakaian dalam, sabuk, kaos kaki, sepatu, plus pilih pakaian (mana yang cocok buat di rumah, pergi santai atau pesta; pas hari cerah atau hujan)
-          Letakkan pakaian kotor di keranjang pakaian dan baju bersih di lemari/gantungan pakaian
-          Cuci tangan sebelum makan, setelah buang air, dan setelah main
-          Buang air di toilet dan bersih-bersih setelah buang air
-          Tutup mulut kalau batuk atau bersin
-          Beres-beres setelah numpahin sesuatu
-          Kembalikan mainan ke tempatnya
-          Rapihkan tempat tidur

Anak yang dilatih untuk mandiri, akan tumbuh jadi pribadi yang lebih percaya diri, dapat diandalkan, dan bertanggung jawab saat dewasanya. Buat orang tua juga lebih enak, bisa lebih banyak waktu ‘me time’ atau lakukan hal lain yang lebih produktif, ga terlalu dipusingin sama hal-hal yang tampaknya remeh tapi kalau diitung-itung bisa makan banyak waktu. Contohnya anak mau makan sereal campur susu. Untuk anak yang belum dibiasakan mandiri dan belum punya keterampilan bina diri, dia akan butuh bantuan untuk: ambil mangkok dan sendok, ambil botol susu di kulkas, buka botol susu, tuang susu ke mangkok, tutup botol susu, ambil sereal di tempat penyimpanan makanan, buka sereal, tuang sereal, tutup sereal, makan sereal dan susu sampai habis, bersihkan kalau ada yang tumpah di meja, letakkan mangkok kosong di rak cuci piring, dan cuci tangan.  Sementara anak yang mandiri, orang tua mungkin cukup bilang “kamu mau makan sereal? Oke serealnya ada di lemari dan susu di kulkas ya.” Sisanya bisa anak lakukan sendiri, ortu pun bisa kerjakan hal lain.

Tapi sebelum anak bisa mandiri, PR buat orang tua buat ajarkan itu. Rumah tempat yang paling cocok buat kembangkan keterampilan bina diri. Kenapa? Karena rutinitas sehari-hari yang ada merupakan seting natural yang bisa buat anak nyaman  untuk belajar. Ini beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua agar anak dapat lebih mandiri.

Bangun kebiasaan
Semakin anak besar dan motoriknya berkembang, keterampilan bina dirinya juga akan meningkat. Mandirinya anak 1 tahun pasti beda sama mandirinya anak 2, 3, 4, 5 tahun dan seterusnya. Adjust your expectation. Ini ada list yang bantu buat kita untuk tahu gimana cara libatkan anak dalam tugas-tugas rumah tangga (chores) sedari kecil, sesuai usianya.


List di atas bisa jadi patokan apa yang bisa dituntut dari anak umur tertentu. Tapi ajarkan anak mandiri sudah bisa dimulai sebelum dua tahun kok. Awalnya mulai dari aspek personal kemandiriannya, misalnya belajar pakai sendok/ garpu, bantu lepas atau pakai baju dan celana, atau latih anak kasih tahu kalau celananya basah. Teman saya yang terapkan metode baby led weaning ke anaknya sejak mulai mpasi, anaknya sudah pintaarr sekali makan sendiri walau belum umur setahun, karena selalu dikasih finger food.  Teman saya itu jarang nyuapin anaknya. Hebat ya... Di sekolah tempat saya kerja, anak-anak dibawah dua tahun pun sudah bisa ambil alas makan dan piring makannya sendiri, serta kembalikan ke tempatnya waktu sudah selesai. Ya karena memang dibiasakannya begitu.

Belajar keterampilan bina diri lebih efektif kalau dilakukan di waktu dan tempat keterampilan itu dibutuhin. Misalnya, latihan beres-beres tempat tidur pas pagi hari di kamar, latihan pakai kaos kaki dan sepatu pas mau pergi keluar rumah, latihan cuci tangan pas setelah main dan mau makan. Jadi ga perlu ajarkan di waktu khusus,  bagian dari rutinitas harian saja. Tapiii….orang tua tetap mesti spare waktu untuk ajarkan. Mungkin ada yang berpikir “ah ntar juga bisa kok dengan sendirinya..” Hmm.. nyatanya tidak selalu begitu…

Pernah ada yang bilang “duh anak saya apa-apa masih butuh bantuan.. Capek deh saya..”  Tapi terus pas saya ditanya-tanya lebih dalam, memang ternyata no opportunity untuk anak mandiri. Kalau mainan berantakan, ibunya ya langsung bereskan. Kalau mau naik ke atas, anak selalu digendong karena takut jatuh. Kapan anak belajarnya?

Step by step
Namanya belajar sesuatu, pasti ga langsung bisa dan butuh bantuan dulu. Bantunya bisa dengan breakdown ke dalam langkah-langkah yang lebih kecil, terus minta anak lakukan sendiri dari langkah yang paling belakang. Misalnya pas ajarkan Ara pakai sepatu sendiri yang ada perekatnya. Awalnya kami cuma minta Ara untuk ambil dan taroh sepatu di rak. Itu sudah ngerti, baru mulai latih dia untuk bantu pakai sepatu. Taruh sepatu di depan Ara (sudah dalam posisi benar kanan dan kirinya), dan kami masih bantu juga untuk selobokkan kakinya. Tugas Ara cuma pasang perekatnya aja. Itu sudah jago, baru minta dia selobokkan sendiri. Sampai sekarang sudah bisa pakai sepatu sendiri dan bedakan kiri kanan tanpa dibantu. Selesai? Nope. Kami masih butuh untuk biasakan Ara pakai dan lepas sepatu sendiri SETIAP KALI dia butuh pakai dan lepas sepatu. Karena kami tahu sebenarnya dia sudah bisa, cuma ya ada aja masanya dia ga mau aja gitu, mintanya dipakaikan. Belum bisa konsisten juga sih kami (ini paling susah memang ya buat ortu), kadang diturutin kalau dia minta dipakaikan, kadang kekeuh dia harus pakai sendiri. Pernah waktu itu pas lagi mau belanja, sampai nunggu di parkiran mobil setengah jam karena Ara ga mau pakai sepatu, tapi saya ga bolehin dia turun sebelum pakai sepatu. 


Beri petunjuk
Supaya anak lebih paham harus apa, ortu perlu kasih petunjuk. Petunjuk ini bisa macam-macam bentuknya. Misal mau ajari anak cuci tangan. Ada yang petunjuk fisik (anak digiring ke wastafel tiap kali harus cuci tangan), petunjuk model (anak dikasih contoh apa yang harus dilakukan), petunjuk verbal (diberi tahu apa yang harus dilakukan), petunjuk bahasa tubuh (missal menunjuk ke arah kran untuk mengingatkan anak agar menutupnya), dan petunjuk gambar (gambar langkah-langkah cuci tangan). Seiring proses belajar, petunjuk yang diberikan akan lebih minimum. Awalnya mungkin ortu perlu gandeng anak ke tempat cuci tangan tiap kali selesai makan. Lama-lama cukup diingatkan saja “Habis makan harus apa ya dek?”, atau cukup tunjuk wastafel, sampai akhirnya ga perlu beri petunjuk sama sekali.

Jangan buru-buru
Jangan memburu-buru anak, biasanya mereka cenderung nolak. Sama lah kita juga kan ya, pasti lebih malas kalau sudah disuruh-suruh, eh diburu-buru. Jadi triknya, kasih anak waktu coba-coba. Pas anak masih proses belajar, contoh tadi belajar pakai sepatu, pasti butuh waktu lebih lama. Kalau kita yang pakaikan mungkin satu menit selesai dan bisa langsung berangkat. Cuma kalau mau anak belajar, harus kasih spare waktu lebih 3-5 menit. Berangkatnya jangan mepet-mepet. Kalau kemepetan, kitanya sendiri juga biasanya jadi geregetan dan maunya langsung bantu. Tapi ini memang susaaahh banget. Saya pun masih terus belajar supaya lebih sabar dan ga selalu buru-buru bantu. Kadang berhasil, kadang ga huhuhu….

Ciptakan lingkungan yang mendukung
Anak akan bisa lebih mandiri kalau ia bisa menjangkau sendiri barang-barang yang dia butuhkan. Orang tua bisa bantu dengan ciptakan lingkungan yang mendukung. Letakkan peralatan makan, mainan, buku, sepatu, atau baju di lemari/ rak yang bisa dia buka sendiri. Letakkan air minum di botol-botol kecil yang akan lebih mudah dia tuang sendiri ke gelas, daripada harus dari jug yang besar (yang hampir pasti tumpah karena kontrol belum terlalu oke dan mungkin berat juga sih). Di rumah, saya belikan Ara undakan agar lebih mudah buat dia untuk cuci tangan. Idealnya sih ada wastafel versi anak ya, cuma ya belum ada dana buat renovasi rumah, dibantunya dengan ini dulu. Pas awal-awal belajar, pastinya mesti sambil diawasi. Benar ga dia tarik undankannya? Sudah stabil belum? Posisinya pas ga di tengah? Sampai ga tangan dia untuk buka kran dan ambil sabun cuci tangan? Setelah berkali-kali latihan, baru bisa ditinggal.


Fokus ke proses
Kalau fokus ke hasil, bisa jadi tambah stress saya karena pastinya banyak yg belum bisa dilakuin secara benar-benar benar. Bawa air di gelas atau piring makanan berkuah masih suka tumpah, mau bantu lap kadang malah buat tambah kotor, mau bantu masukin baju yang udah disetrika rapih ke lemari malah buat berantakan dan harus saya lipat ulang, ya begitulah… mantra yang saya ucapin berulang-ulang “just trust the process..just trust the process..just trust the process” . Karena fokusnya ke proses, kemajuan sekecil apapun bisa dirayain, ga perlu tunggu hasil sempurna.


Kasih pilihan

Anak akan jadi lebih mandiri dan tanggung jawab kalau dilatih untuk membuat keputusan buat dirinya sendiri, dan jalani konsekuensinya. Inisiatifnya akan jadi lebih berkembang, jadi ga perlu selalu nunggu bantuan orang lain untuk lakukan sesuatu untuknya. Biasanya anak juga lebih mau lakukan sesuatu kalau dia merasa punya kontrol/ pilihan. Kasih pilihan yang memang kita setujui dua-duanya "mau pakai baju yang gambar singa atau gajah? Bisa pakai sendiri?" "mau makan macaroni atau nasi? Ga disuapi ya tapi..." Pada prakteknya, ini ga akan mudah. Saat ini lagi struggling juga karena Ara sudah mulai jago protes dan ngeles "ga mau itu pilihannya.."  

Kesimpulannya..ajari anak untuk jadi mandiri ga mudah...but it's so worth the effort.
Just trust the process, and someday (hopefully soon) they will become independent little person.

  


Monday, March 16, 2015

Menyapih Ara: Berhasil, berhasil, berhasil, horeeee!



The days are long, but the years are short
-Gretchen Rubin-

Too short. Ga kerasa, Ara udah 2 tahun aja. Udah jadi profesor ASI.  Masih kebayang awal-awal menyusui dulu. Masih canggung, bingung cari posisi pewe, puting lecet karena pelekatan kurang mantab, riweh kalau mau nyusuin pakai apron di tempat umum… di pertengahan, sempat ngalamin payudara sakit karena saluran air susu tersumbat dan digigit Ara yang lagi tumbuh gigi (sakitnya ampuuunnnnnn sampai buat berdarah, literally. suka nangis juga jadinya deh saya). Waktu Ara 1.5 tahun, yang terbersit itu “duh gimana ya nih ya ntar nyapihnya? Bisa ga ya? secara rasanya sekarang kemana-kemana ya nempel..nangis dikit nyusu….tidur pun harus nyusu…  pernah suatu hari saya tanya

Mama: ”Ara dah ngantuk?”
Ara: “Iya
Mama: “Mau bobo?”
Ara: “Iya”
Mama: “Mau nenen?”
Ara: “Iya”
Mama: “emangnya nenen enak ya?”
Ara: IYA IYA IYA IYA IYA IYA (hahaha…cukup tau aja deh)

Proses menyapih Ara mulai waktu dia umur 20 bulan. Ara ulang tahun kan 3 Februari ya, jadi 4 bulan sebelumnya pas tanggal 3 Oktober, sudah saya niatkan untuk mulai lakuin pembatasan menyusu. Pembatasan pertama, tempat. Kalau dulu dimana aja Ara mau nenen saya kasih (di mobil, di mall), jadi hanya ketika di rumah aja. Saya bilang sama dia “Ra, mulai sekarang, Ara kalau nenen kalau di rumah aja ya…di mall ga boleh, di mobil juga ga. Kalau mau nenen, tunggu di rumah aja, deal?”  Alhamdulillah, pembatasan pertama berjalan lancar. Mungkin karena kalau di luar rumah memang banyak distraksinya, jadi ga terlalu sulit untuk ‘lupa’ kalau mu nenen. Ini sekitar 2-3 minggu. Kalau mau bobo pun, Ara bisa dibilang gampang bobo kalau lagi di stroller atau di carseat, jadi ga butuh nenen.

Pembatasan kedua, batasin waktu nenen. Kalau dulu tiap bobo siang dan bobo malam boleh nenen, sekarang hanya waktu bobo malam. Saya bilang ke Ara, “Ra, mulai hari ini, Ara nenen kalau pas waktu bobo malam aja ya…kalau bobo siang ga usah, okay? Kalau langitnya masih terang, itu artinya siang, jadi ga nenen. Kalau malam, gelap, boleh nenen. Mama nyanyiin sama peluk aja..”  Ara jawab lantang “oooo…kaaayyyyy…” pas waktunya bobo siang beneran, udah mulai rogoh-rogoh dan ndusel-ndusel dan usaha buka-buka baju sambil minta nenen, saya ingetin lagi “kan tadi udah mama kasih tau Ara, kalau mulai hari ini pas siang ga nenen.” Alhasil, nangis bombay. Ada kali 40 menitan, saya gendong dia sambil diayun-ayun terus (pegeelll), sampai akhirnya dia kacapean nangis kayaknya, tidur deh. Besoknya, mendingan. ‘cuma' nangis 20 menitan. Besoknya lagi, ga sampai 10 menit udah bisa bobo. Besok-besoknya, biasanya Ara jadi cuma nanya “nenen boleh ga?” dengan muka memelas rada berharap tapi nrimo, cause she actually knows that she cant. Kadang dia lanjut nanya “kalau dipegang aja?” dengan ekspresi jail.  Tapii, ada juga hari-hari dia kekeuh minta nenen sampai nangis-nangis. Kalau udah gitu, saya biasanya ajak dia keluar rumah untuk ngamatin langit.  

Mama: “coba lihat langitnya masih terang atau udah gelap ya?”
Ara: “terang”
Mama: “berarti kalau terang nenen ga?”
Ara: “ga”
Mama: “iya ga nenen….ntar malam aja ya, kalau udah gelap baru nenen”
Ara: “hwaaaa…mau nenen maaa…nenennnn”

Kalau udah begini, ya harus digendong lagi deh si Ara yang sesenggukan, sambil diayun-ayun sampai bobo. Biasain Ara ga bobo siang tanpa nenen, walaupun di rumah, sekitar 2 bulanan. Sampai akhirnya dia bisa bobo hanya dengan ditepuk-tepuk atau dibacain buku cerita. Ada sih 1-2 hari yang kelepasan, misalnya  pas sayanya lagi tepar berat dan Ara ga mau bobo-bobo (tapi saya tau dia ngantuk, kalau nenen pas bobo), atau pas Ara sakit. Untung kelepasan 1-2 hari ini ga buat proses menyapihnya harus ngulang dari awal lagi.

Lucunya, waktu Ara ga boleh nenen siang lagi, nenen malamnya jadi nambah frekuensinya! Kalau dulu Cuma 2x (skitar jam 9an sebelum bobo, dan tengah malam dia kebangun sekali), eh ini dari abis manghrib udah minta nenen. Begitu langit mulai gelap dia nagih! “Kan udah gelap” kata dia. Ya bener juga sih, ga bisa bantah. Kompensasi banget dia.

Pernah sempat dibilangin, “iya ra, Ara nenen kalau langitnya udah gelap, tapi pas udah mau bobo aja.” Eh bisa-bisanya dia jawab “ma, Ara mau bobo, nenen” Abis puas nenen, dia on lagi loncat-loncat sana sini. Kalau ditanya “katanya tadi mau bobooo, makanya minta nenen????” Singkat doang responnya “ga jadi ma!” Nah loh! Mama tertipu!

Dari tahun baru, sebulan sebelum dia ulang tahun, saya kasih mantra baru lagi. “Ra, nanti kalau Ara udah ulang tahun kedua, udah tiup lilin ulang tahun, berarti Ara udah ga nenen mama lagi ya. Siang ga, malam ga…” Itu saya omongin berrrrrrrulang-ulang sekian kali. Buatin nyanyian asal juga “Ara sudah besar, tidak perlu nenen.. Ara sudah besar, tidak perlu nenen lagiii….”  Tiap hari, pasti saya tanyain “eh nanti kalau Ara udah umur 2, udah tiup lilin, berarti ga boleh apa ya?” teorinya sih dia ngerti. Bisa jawab dia “Ga nenen, kan Ara udah besar….” Tapi mamanya tetep aja deg-degan.

Pas di hari ulang tahunnya, pagi-pagi, Ara kita minta tiup lilin. Wah sudah umur 2!!!!! Horeeeee…Ara sudah besarrr!! I act like it such a big deal about her turning 2 years old, because it is! Ara juga mesti dibuat senang nyambut ulang tahunnya, jadi kepikirannya yang seneng-seneng, bukan ke ‘lepas nenennya’. Hari itu, dari pagi udah di sounding berkali-kali lagi kalau malam ini udah ga boleh nenen. Dia paham itu. Malamnya, Ara kayak kelebihan energi. Seolah dia nyari penyaluran energi supaya capek, dan bisa langsung tidur. Kan biasanya kalau udah mulai ngantuk, dinenenin, langsung cepet ambalasnya ke alam mimpi. Nah sekarang, karena ga bisa nenen, jadilah dia umek sendiri. Locat-loncat, nangis turun ranjang, mindahin mainan, gertakan lemari baju. Pas udah ngantuk banget, mulai agak merengek, tapi dia tau dia ga boleh nenen. She didn’t even ask for it, cuma agak sesengukan aja, nangis sendiri. Dia minta tidur sendiri di kasur bawah “Ara mau bobo sendiri aja, mama papa sana ajah”. Saya dan suami bener-bener ga boleh deketin, kalau dideketin malah ngambek. Akhirnya, hari itu, untuk pertama kalinya, saya pisah ranjang sama Ara. Dia bobo di kasur bawah, saya di atas sama suami.

Hari pertama berhasil, kirain selanjutnya bakal kayak yang pas nyapih siang itu, pretty smooth lah. Eeeee ternyataaa, Aranya demam tinggiii sampai 39,5. Ya udah bye-bye lah menyapih kalau gitu. Sayanya yang ga tega sama Ara kalau ga dikasih nenen. Malam-malam dia nangis (lebih rewel dari kemarin) tapi dia bisa menahan diri untuk ga minta nenen (so proud of her!).  Akhirnya saya yang nawarin, “Ara mau nenen?” Langsung dijawab dengan sumringah “maaaauuuuuuu!!!”, as if dia bilang ‘dari tadi kek ma!’ dan tangannya langsung gerak cepat! @_@

Kadang saya godain..
Ara: “Ma.. mau nenen”
Mama: “Ara kalau lagi nenen kayak apa sih?”
Ara: (monyong-monyongin bibir)
Mama: “nah udah Ara gitu aja sambil bayangin nenennya mama ya”
Ara: (muka melas mau mewek) “engg…engg…ga mauuuu, mau nenen beneyaannn…” :D
Kalau liat tingkahnya lucu gini, mamanya meleleh…

Sakitnya Ara ini ternyata lamaaaa. Demam tinggi 3 hari, setelah itu batpil yang rasanya ga beres-beres, sempet rada lemes. Jarang dia sakit begini, dan saya jadi balik lagi nenenin Ara siang dan malam. Saya  bilang “Ra, ini Ara boleh nenen karena Ara lagi sakit ya. Mama bantu biar badan Ara ga lemes karena Ara makan sama minumnya suka susah. Ini bonus ya ra..kalau sudah sembuh, Ara ga butuh nenen lagi okay?” Sempet kepikiran, gimana ya kalau ternyata Ara malah demen sakit karena mau nenen, malah jadi mikir sakit tuh enak karena jadi bisa nenen lagi. Mertua juga bilang pula “ini sakit stress karena disapih kali nih” waduuh….usaha berbulan-bulan bisa buyar nih.  Counter dulu deh sama pikiran “Ra, pas sakit Ara memang boleh nenen, tapi sakit tuh kan ga enak ya… badannya rasanya ga enak, jadi ga bisa pegi-pegi..kalau sembuh enak loh!!”

Beberapa hari lanjut jadi seminggu, lanjut lagi jadi sebulan! Heeeee….. abis sembuh dari sakit, ada acara ke Jogja (susah ya  mulai nyapih di luar kota) terus ke Bandung…akhirnya pas sudah back to normal kegiatan hariannya, saya niatin lagi untuk mulai nyapih kembali. Saya ajak Ara ngobrol.. 

Mama: “ra, Ara udah bisa jalan belum?”
Ara: “udah
Mama: “udah bisa lari?”
Ara: “udah
 Mama: “udah bisa lompat?”
Ara: “udah
Mama: “kalau ngomong dan nyanyi?”
Ara: “bisa
Mama: “tau huruf-huruf?”
Ara: “tau
Mama: “bisa itung?”
Ara: “iya
Mama: “nah itu artinya Ara udah besar…kalau udah besar, lebih banyak hal yang boleh dan bisa Ara lakuin…asyik kan.. kalau anak sudah besar, sudah ga nenen ra. Inget ga cerita Sali? Sali bobonya gimana?”
Ara: “bobo sendiri”
Mama: “nenen ga?”
Ara: “ga
Mama: “hebat ya…Ara mau kayak Sali?”
Ara: angguk-angguk

Trik baru: buat kalender! Saya jelasin ke Ara. Ada 10 lingkaran, berarti cuma tinggal 10 hari lagi. Kalau lingkarannya sudah kecoret semua, artinya Ara udah ga nenen. Tiap pagi, saya ajak dia untuk liat (terakhir-terakhir dia mau coret sendiri), selalu sambil saya bilang “berarti tinggal berapa hari lagi ya nih nenennya?” Buat ‘ritual’ ini jadi kegiatan yang fun. Malah kadang dia yang ingetin, ”ma belum dicoret..ayo coret yuk ma…”




10 hari selesai… langsung sounding lagi “waahhh udah kecoret semuaaa horeeeeee!!!! Berarti nanti malam Ara bobo nenen ga ya?” Jawab dengan yakin “Ga dong, kan Ara udah besar.” Yesssss…. dan Alhamdulillah, kali ini proses menyapihnya lancaarrr…. Ada sih dia mewek-mewek dikit, tapi pas dikasih tau dia paham (dan yang mewek malah mamanya, netes nih air mata pas dia ga minta nenen dan beneran bobo sendiri dengan lumayan tenang ‘Anak mama sudah besaarr….time flies’). Jadi sekarang, setelah semua ritual tidur dia (cuci kaki-tangan, sikat gigi, ganti popok dan piyama, matiin lampu kamar, nyalain lampu tidur, doa) biasanya nenen, Ara biasanya berbaring di atas badan saya minta dielus-elus sama ditepuk-tepuk. Udah bisa spesifik mintanya “badan mama jangan miring, ke depan aja. elusnya disini aja ma… bukan gitu, di sini lho…tangan yang ini kesini…sambil nyanyi twinkle twinkle ma….” Tapi ya itu, waktu bobonya jadi lebih malam karena dia nunggu badan dia bener-bener capek baru mau tidur.

Sudah hari keempat bobo tanpa nenen. Sepertinya akan bisa berlanjuttt….
Bismillah…

Oh satu hal penting....dukungan suami itu pentiiing banget selama proses nyapih ini....dari yang tetap tenang walau Ara nangis-nangis malam-malam, bantu untuk kasih penjelasan dan support ke mama dan anaknya.


Ara sekarang punya mainan baru di rumah. Papanya kasih kado piano.. reward yang bisa dibilang mahal tapi gpp lah sekali-sekali, karena lepas nenen itu such a big accomplishment!!!! Seneng banget si Ara!!! Mamanya pun dapat traktiran. Love you wa! 






 





Monday, February 2, 2015

Surat Cinta untuk Ara

Ara sayang...

Selamat ulang tahun ya nak
Tidak terasa sudah dua tahun usiamu

Mama masih ingat dengan jelas dua tahun lalu, bulan Januari tanggal 17, Jakarta lagi tergenang terus mama kontraksi dan akhirnya usaha nembus banjir ke rumah sakit. Mana papamu waktu itu lagi mau ke Bandung. Eh ternyata sama suster dibilangnya ini kontraksi palsu dan disuruh pulang lagi!

Dari kejadian itu, mama jadi semakin tak sabar mau ketemu kamu. Baru deh tanggal 3 Februari kontraksi lagi, and now it’s all the way through! Siang-siang mama sudah di rumah sakit, awalnya masih santai dan bisa ketawa-ketawa…lama-lama tekanan darah meninggi sampai 170. Suster sampai menyangka mama minum ramuan apa gitu namanya, apalagi pas mama muntah-muntah juga. Setelah cek urin ternyata protein positif, itu istilah medisnya preeclampsia, dokter pun memutuskan untuk operasi Caesar. Tidak sampai satu jam kemudian….tangisanmu sudah membahana di ruang operasi!

Kami memberimu nama Arka Mecca Raissa Dharmawan. Arka yang berarti cahaya, Mecca untuk Mekkah, Raissa mewakili nama papa mama (Rakhmat dan Orissa), Dharmawan mengikuti jejak papamu. Doa kami, semoga kamu dapat menjadi orang yang berguna dan menyebarkan kebaikan dimana pun kamu berada, dengan tetap memegang teguh imanmu.

Kami memanggilmu dengan sebutan Ara. Seperti kembang Ara yang bunganya tertutup, mama papa ingin kamu bertumbuh dengan kecantikan dalam diri. Kembang Ara tidak peduli dengan kecantikan luar dan perhatian semu, dalam kesederhanaannya ia memberi manfaat bagi lingkungannya. Nama Ara, yang punya origin dari bahasa Arab, juga berarti ‘opinionated’. Semoga kamu memiliki kemampuan untuk berpikir dan kemauan mengejar apa yang kamu inginkan, tidak hanya serta merta mengikuti arus. Tapi ingat juga untuk ‘be considerate’ ya. Bukan hanya asal bicara yang tidak punya dasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, apalagi hanya untuk menyakiti orang lain.

Selama dua tahun ini, mama papa sering takjub melihat perkembangan kamu. Dari kamu yang cuma bisa menggeliat dan menangis, kini bisa mengungkapkan apa yang kamu mau dengan lancar dan tegas, suka menyanyi, banyak tanya mulai jago bantah dan ngeles (buat mama papa mesti putar otak terus), dan alhamdulillah mulai bisa baca doa makan dan tidur plus kalimat syahadat dan Al-Fatiha..kamu juga sudah bisa lari dan lompat kesana kemari plus semakin mandiri dalam banyak hal, termasuk ambil ipad dan utak-atik sendiri cari video/ games walau kamu tahu harusnya tidak boleh nonton kecuali lagi jamnya @_@ 

Terima kasih ya… selama dua tahun ini, kamu mengajarkan mama papa bagaimana rasanya mencintai tanpa pamrih. Kami hanya ingin kamu merasakan kenyamanan, kebahagiaan, dan kecukupan melebihi kami…

Terima kasih, karena kamu sudah mengisi hari-hari kami dengan keceriaan, kepolosan, dan kelucuanmu yang senantiasa mengundang senyum dan tawa kami..

Terima kasih, karena kamu tidak terlalu banyak menuntut (atau belum ya? :D). Kamu mau makan apa yang disediakan (well tidak selalu sih), mau pakai baju yang dibelikan, mau main dengan mainan yang ada, dan mau ikut mama kesana kesini tanpa banyak protes..  

Di sisi lain…..

Maafkan kami ya… kalau terkadang perhatian kami teralih dari kamu dan lebih melekat pada laptop atau handphone, sampai kamu perlu protes dan berteriak “Itu ga usah, tutup tutup..Ayo main aja sama Ara..”

Maaf ya… mama suka masih kurang telaten mengurus kamu. Tidak sesabar eyang dan oma opamu kalau lagi waktu makan, dan jarang sekali masak buat kamu (thank God ada mba Atun dan mba Muni @_@)

Maaf ya… kalau mama papa masih sulit mengerem nafsu makan sehingga sering jajan, yang sebenarnya uangnya bisa lebih dimanfaatkan untuk dana pendidikanmu

Maaf ya… mama papa masih belum bisa jadi role model yang patut buat kamu dalam hal ibadah

Mama papa akan terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik untuk kamu,
karena kami sangat sayang padamu

Mungkin kami tidak akan memenuhi semua permintaanmu
Mungkin kami akan membiarkanmu jatuh, merasakan sakit, dan menangis
Mungkin kami akan marah padamu dan menetapkan konsekuensi yang membuatmu sebal pada kami

Namun ketahuilah, dan percayalah…

Selama kami diberi usia dan kesehatan..

Kami akan mendidikmu menjadi pribadi tekun dan tangguh untuk mencapai cita-citamu
Kami akan ada di sampingmu dan menemanimu di masa sulit dan kegagalanmu
Kami akan memaafkanmu, membuka hati, dan memberi pelukan kami untukmu

We love you
You love us
We are happy family
With many great hugs and kisses from us to you

Won’t you say you love us too ^^

Monday, January 12, 2015

Ga boleh! Itu punyaku!



Ada yang pernah post poster ini di path, pas banget rasanya sama Ara akhir-akhir ini yang lagi agak ‘posesif’. Posesif sama mamanya, posesif sama rumahnya, posesif sama mainan-mainannya. Misalnya aja nih ya, waktu lagi kruntelan dan papanya mau ikutan, dia bilang “Ini mama Ara, papa ga boleh pinjem” (puk puk papa). Waktu ada tamu datang ke rumah, diprotes sama dia “Ini rumah Ara, om ga boleh masuk”. Kebayang kan kalau ada yang mau pinjem mainannya? “Ga boleh! Ini kan punya Ara…” Tapi terus kalau dia lihat mainan punya temannya yang dia suka, bisa jadi lupa sama apa yang lagi dia mainin dan minta yang lagi dipegang temannya (kadang malah langsung rebut uupsss). Giliran temannya ganti yang lain, lah dia ikutan mau itu juga. Hahaha…Klasik!

Kalau lagi adain playdate sesama toddler, memang harus expect bakal ada episode rebut-rebutan atau dorong-dorongan demi mainan. Yah namanya juga toddler, completely normal. Selain ke mama papa atau pengasuhnya, mereka juga mulai punya attachment  ke barang-barang. Ayo siapa yang anaknya kemana-mana harus bawa boneka atau guling atau bando kesayangan? Kemampuan untuk bangun kelekatan ini bagian dari tahap perkembangan emosi yang sehat kok, jadi jangan buru-buru dianggap sesuatu yang buruk. Apa lagi ya yang buat batita sulit sharing? Hmmm… Mereka masih egosentris, belum bisa lihat sudut pandang dan kebutuhan orang lain. Yang mereka tau cuma apa yang mereka mau. Mereka mulai paham konsep kepemilikan, tapi belum cukup matang untuk bedain ada barang miliknya, milik orang lain, dan milik publik yang bisa dipakai sama-sama. Mereka juga lagi masa-masanya ingin nunjukin ke’aku’annya dan suka ngetes batasan (“apa yang akan terjadi kalau aku begini begitu ya?”).

So adjust your expectation. Berharap toddler buat sharing itu kayak kita berharap mereka bisa baca buku atau tulis namanya sendiri. Bukannya ga mungkin sama sekali sih, tapi susaahhhh….Sharing itu bukan tugas yang sederhana. Untuk bisa sharing, anak harus punya sense of self dan paham kepemilikan, anak harus lebih dulu ngerasa kalau apa yang mereka butuhin udah terpenuhi dan baru bisa pikirin orang lain, anak harus ngerti arti giliran dan kenal waktu (“baru sebentar atau sudah lama ya aku pakai ini?”), plus anak mesti ngembangin kesabaran dan kontrol diri untuk nunggu dan ga asal rebut.    

Buat toddler, kita bisa expect mereka bermain paralel, ada di ruang yang sama dan mungkin sebelahan, tapi masing-masing sibuk sendiri. Sharing butuh empati,  yang mulai muncul di usia 3-4 tahun dan semakin berkembang di usia 5-6 tahun. Sebelum itu, anak cenderung berbagi karena memang dikondisikan begitu oleh orang dewasa.

Kalau memang toddler belum bisa sharing, mesti tetap diajarin ga? Pastinya! Kayak segala hal lain, kalau kita mau mereka jadi anak yang ……. (isi sendiri) ya harus diajarin dari kecil dan konsisten.

Jangan paksa anak buat sharing kalau memang dia belum mau. Tanya dulu “ra, temennya boleh ga pinjem mobil-mobilan Ara?” kalau dia jawab “ga boleh” ya hargai itu. Jangan direspon “ih kok Ara pelit sih”. Bilang aja “oh Ara belum mau pinjemin ya. Nanti kalau udah mau bilang ya, seru juga loh main sama-sama.” Kalau dipaksa, dia bisa mikir kalau kebutuhan dan keinginan dia ga sepenting anak lain. Itu malah nanti jadi buat dia ngerasa ga secure dan kesel. Tunggu aja sampai dia mutusin sendiri untuk kasih pinjam temannya. Sebaliknya, misal Ara mau pinjem punya temannya, saya akan minta dia ijin dulu. “Ini bukan punya Ara, jadi harus tanya dulu. Kalau ternyata ga boleh dipinjem, Ara ga boleh marah ya. Tadi juga kan Ara ga mau pinjemin mobil-mobilan Ara dan ga dipaksa kan?” So they know it works both ways. Nah kalau udah dikasih pinjam temannya, saya juga harus pastiin Ara ga monopoli dan barangnya ga dianggap ‘hak milik’ sama dia. Gitu juga kalau main di tempat publik. Saya harus nekenin bahwa ada aturan sosial yang harus dia ikuti. “Ini bukan punya Ara ya, jadi harus gantian. Kalau Ara mau pakai lagi, nanti bisa setelah kakak ini main..oke?” Yup, jadi anak yang lebih besar bukan berarti harus selalu ngalah loh.  

Pas playdate, ibu-ibunya (atau bapak-bapak) memang sebaiknya punya pandangan yang sama soal sharing. Jangan sampai nih, misalnya, X main ke rumah Y, terus karena ibunya X punya pikiran kalau “tiap anak harus sharing, apalagi tuan rumah” dia biarin aja tuh X ambil dan mainin macam-macam mainan Y..ga pakai nanya-nanya dulu dan udah gitu lama lagi pakainya. Tiap kali X liat Y mainin sesuatu terus mau, ibunya nurut dan ambil langsung dari Y (yang ga berdaya) sambil bilang “kita sharing ya, mainnya gantian oke?” Giliran ibunya Y minta balik, ibunya X jawab “tapi anaknya masih seneng nih, sebentar lagi ya..” Wkwkwk.. itu mah bukan belajar sharing, tapi X lagi dipupuk benih-benih egoisnya, berasa semua keinginannya harus dapat. Duh jadi keinget dulu sempat kesal banget  sama ibu-ibu yang cuek banget padahal anaknya monopoli mainan dan buat beberapa anak nangis karena ga mau gantian (cerita lengkap disini sharing vs calistung). Untung teman-teman saya yang biasa playdate bareng sepaham.

Biar lebih smooth, ada baiknya sebelum playdate, yang jadi tuan rumah lakuin persiapan. Ajak anaknya milih mainan mana yang mau disimpan biar ga dipegang-pegang temannya, dan mana yang boleh dipakai sama-sama. Kalau anak udah tenang karena tau barang kesayangannya ‘aman’, hopefully dia lebih bisa santai untuk sharing. Bisa juga kita minta anak yang mau datang ke rumah untuk bawa mainannya sendiri. Anak kecil suka tergoda kalau liat mainan baru dan yang bukan punya dia. Kalau saling tergoda, bisa jadi lebih gampang untuk dorong mereka buat sharing. Teknik lain, bisa juga pakai timer. Saat bunyi, itu tandanya mesti tukeran / ganti mainan, supaya tiap anak punya kesempatan coba main macam-macam mainan. Siapin juga mainan yang  bisa dipakai sama-sama (lego atau masak-masakan), walau ga jamin juga kalau piecesnya banyak terus mereka akan ga rebutan sama sekali.

Playdate itu bisa jadi ajang observasi buat ortu dan arena belajar buat anak. Kita bisa liat apa anak kita itu seringnya jadi tukang rebut, jadi korban, atau mau berbagi? Anak perlu bimbingn untuk belajar sharing…belajar bahwa kalau mereka jadi tukang rebut, lama-lama ga ada yang mau main sama mereka…belajar kalau mereka ga mau mainan mereka pindah tangan terus, maka perlu belajar bilang ‘ga’ atau ‘nanti dulu’… belajar kompromi, kerja sama, belajar kalau sharing itu bisa buat waktu bermain bisa jadi lebih menyenangkan (daripada berantem terus malah ga bisa main sama sekali kan?). Tapi misal masih rebutan juga, ortu bisa ambil mainannya dan simpan sementara. Tapi ada kalanya juga gpp kok kita biarin mereka sebentar untuk coba selesaiin konflik itu sendiri. Amati dulu, ga langsung coba nengahin  (kecuali situasi udah menjurus bahaya). Sometimes young children can surprise and amuse us.  

Supaya lebih terbiasa sharing, anak juga mesti liat dari orang-orang sekitarnya. Ortu harus jadi panutan (old news :D). Kalau kita punya makanan, tawarin ke dia. Kalau dia mau pakai kacamata kita, kasih aja tapi minta dia untuk ijin dulu. Kasih penjelasan kalau kita lagi sharing makanan dan mau kasih pinjam barang kepunyaan, karena ingin buat sesuatu yang baik dan menyenangkan orang lain. Main exchange game. Tanya ke anak apa kita boleh pinjam mainan dia, dan sebagai gantinya dia juga boleh pinjam atau mainin barang kepunyaan kita (fair enough right?). Bagi dia, bisa jadi krincingan itu sama berharganya dengan hp atau cincin kita.

Kasih pemahaman ke anak tentang kepemilikan, mana yang punya dia, punya mama papa, punya publik..dan apa artinya itu. Ini tapi kadang saya masih suka lupa sendiri. Contohnya ya, pas mau rearrange tempat simpan boneka atau mainannya dia, suka ga bilang sama Ara (berasa punya saya sendiri soalnya), atau kalau mau pakai laptop suami, saya main ambil terus ga ijin (karena mikirnya pasti boleh). Alhasil Ara (yang ternyata sangat observer), protes “Itu tempatnya ga disini mama, itu kan punya Ara” atau “itu kan punya papa, mama ga boleh pakai”. Heeeee, kena batunya deh saya. Mungkin dia bingung karena di satu sisi saya nyuruh dia selalu ijin atau bilang dulu kalau mau ambil barang orang, tapi sayanya ga gitu. Anak seusia Ara memang masih sulit melihat bahwa aturan tidak selalu hitam putih, dan memang belum saatnya sih. Jadi sayanya yang mesti aware apa yang saya ajarin ke dia, dan make sure she sees that her parents do it too.  

Kesimpulannya, jangan paksa anak buat sharing, tapi kondisikan situasi dan pupuk karakter anak jadi anak yang suka berbagi. Di samping cara-cara di atas, metode lain yang selalu jadi andalan saya ya buku cerita. ^^ Sekarang lumayan banyak kok buku-buku pengembangan karakter yang bagus-bagus, tinggal kitanya aja rajin-rajin cari. Tips supaya anak minat baca buku bisa dibaca disini




Thursday, December 11, 2014

Anak Malas Baca Buku??

Senin lalu sempat diwawancara singkat sama reporter Kompas TV, ditanya soal faktor apa yang bisa jadi sebab anak sekarang jadi suka malas baca buku.

Hm... imo, alasan utama anak bisa jadi kurang suka baca ya karena lingkungan terdekatnya ga contohin itu. Kalau orang tua, kakak, sepupu, pengasuh, atau siapapun yang sering anak lihat lebih banyak habisin waktu buat nonton tv, denger radio, main games, atau ngobrol.. daripada baca buku..ya wajar juga kan kalau anak ga biasa baca? Sekolah-sekolah di Indonesia juga belum banyak yang terapin gerakan baca, misalnya dengan dorong anak nuntasin sekian buku bacaan dalam 1 tahun dan isi reading log. Kurangnya minat baca buku bisa juga karena anak anggap aktivitas baca itu bosenin dan buat capek pikiran. Baca kurang diliat sebagai pengisi waktu luang yang nyenengin, karena diasosiasikan dengan tuntutan belajar atau akademis. Sebagian orang tua yang nuntut anak untuk bisa baca terlalu dini dan lebih fokus pada ngembangin kemampuan bacanya, bukan bentuk minat bacanya. Lanjut lagi, anak bisa jadi kurang suka baca buku ya karena perkembangan teknologi dan banyaknya alternatif kegiatan lain yang dianggap lebih menarik. Banyak anak yang anggap buku kurang asyik, karena ga kasih efek seperti saat main games di gadget/ alat elektronik atau main di arena permainan.

Lalu…apa ya yang bisa orang tua lakukan buat ningkatin minat baca anak?  


Baca cerita sama-sama
Mulai dari keluarga, mulai dari rumah. Jadiin kegiatan baca sebagai bagian dari rutinitas keseharian. Ga perlu lama-lama kok, 10 menit pun cukup. Tentu disesuaiin juga sama usia anaknya ya. Makin besar anaknya, rentang atensi makin lama, waktu baca bisa dibuat lebih panjang. Kalau anaknya masih belum bisa lama-lama, lebih baik sesi bacanya dibuat singkat (3-4 menit) tapi lebih sering.  Bagi orang tua yang kerja, bacain anak cerita di waktu sebelum tidur bisa jadi quality time yang buat makin lengket lho. Aktivitas baca akan jadi menyenangkan karena sama-sama mama papa tersayang. Bacain ceritanya yang menarik, pakai intonasi nada, mimik wajah, dan bahasa tubuh yang hidup. Sama anak sendiri ini, ga perlu jaim hehe... Untuk anak usia dini, kegiatan baca bersama dan dongeng itu jadi stimulasi yang bagus banget buat perkembangan bahasanya. Anak bisa belajar banyak kosa kata, struktur kalimat, dan pengetahuan tentang macam-macam hal. Ga cuma baca, bisa juga kita kembangin dengan pertanyaan-pertanyaan seputar cerita, atau minta anak ceritain kisah dengan bahasanya sendiri. Hal ini bisa ningkatin konsentrasi, kemampuan ekspresi diri, dan mendorong kesukaan anak sama buku. 


Permudah akses anak ke buku
Sediain deh pojok baca di rumah. Buku-buku Ara itu saya taroh di satu kotak di sudut ruangan, jadi dia dengan gampang bisa milih-milih dan ambil sendiri apa yang ingin ia baca. Kadang dia minta bacain buku yang sama berulang-ulang. Bosen juga sih, tapi sebenarnya pengulangan itu bisa buat anak prediksi plot dan lebih paham alur cerita. Terus, kemana-mana saya pasti bawa buku. Di mobil ada buku, di tas Ara juga ada buku. Jadi kalau pas pergi dan harus nunggu (misal ke restoran tapi makanan belum datang, atau Ara nemenin saya ke bank), dia bisa isi waktu dengan baca. Untuk anak yang mulai banyak tanya-tanya, bisa juga kita fasilitasi dengan buat buku kumpulan pertanyaan dan jawaban. Jadi tiap kali anak nanya, misal”apa sih hewan yang larinya paling cepat?”, ”kenapa bisa ada pelangi?”, ”berapa lama sih pergi dari Indonesia ke Amerika?” kita ajak sama-sama untuk cari informasi dari buku atau browsing di internet, lalu print / catat jawabannya di buku. Tambahin deh gambar-gambar biar lebih menarik.  


Buat agar anak nikmati waktu baca
Biar anak senang baca, konten bacaan perlu sesuai sama apa yang disukai anak. Anak suka pesawat, cari buku soal pesawat. Anak suka binatang, cari buku-buku tema binatang. Anak suka sejarah, cari buku yang bahas tentang budaya negara-negara. Untuk anak usia dini, cari buku yang banyak gambar dan sedikit tulisan, stimulasi indera-inderanya (warna-warna cerah, ada suara, ada ragam tekstur yang bisa disentuh), plus ada rima atau kalimat repetitif yang mudah diprediksi dan diingat. Buku board book atau buku kain sangat cocok karena lebih tidak mudah robek. Selain konten, perlu diperhatiin juga level kesulitan bacaan. Agar anak nikmati waktu baca, jangan pilih buku yang terlalu sulit dicerna dan anak butuh usaha keras buat pahami isinya. Kalau terlalu sulit, jadinya anak sudah malas baca duluan. Ga apa-apa lho baca komik, atau novel, atau majalah. Ga selamanya anak harus baca buku pengetahuan atau ensiklopedia. Apalagi sekarang sudah banyak juga buku yang kombinasiin pengetahuan dengan penyajian yang menarik, tinggal ortu pinter-pinter dan rajin-rajin cari buku yang bisa bangkitin rasa tertarik anak. Perlahan-lahan, kalau anak sudah terbiasa baca, baru deh tingkatin kompleksitasnya. Panduan umumnya, kalau dalam satu halaman ada 5 kata atau lebih yang anak ga tahu artinya, berarti buku itu di atas kemampuan anak. Akan sulit bagi anak untuk baca mandiri dan nikamti waktu baca, jadi lebih baik ditemani ^^



Ortu wajib jadi model
Orang tua harus jadi model buat anak. Pastiin tiap hari anak lihat kita terlibat dalam aktivitas baca, mau itu baca koran, majalah, novel, atau buku pelajaran. Gimanapun, anak itu kan peniru ulung ^^ Nah tapi, ini terkait juga nih sama value yang dianut masing-masing keluarga. Akan sulit terbangun budaya baca, kalau memang orang tua ga anggap baca itu sebagai hal yang penting. Mungkin ada yang berpikir “ah, buat apa sih baca buku? Ribet..mending nonton tv atau diskusi ma temen, atau nanya om google.” Kalau sudah begitu, ya beda persoalan lah ya.

Di sisi lain, mungkin ada juga yang bingung, ”sebenarnya sih mau jadiin baca aktivitas sehari-hari, tapi ortu dua-duanya kerja..pengasuh/eyang ga bisa baca/ga ngerti karena bukunya dalam bahasa Inggris...gimana dong?” hm.. kalau situasinya begini, mungkin perlu effort sedikit dari ortu. Ortu bisa buat rekaman kaset dari buku tertentu, dan pengasuh/ eyang hanya tinggal muterin aja sambil nemenin anak baca. Kasih sinyal di rekaman itu untuk cue kalau harus balik halaman. Bisa jadi, malah si pengasuh atau eyang sekalian belajar hehehe...



Latih otak untuk jadi bi-literate
Maksudnya bi-literate disini itu, latih otak untuk baca bacaan cetak (print reading) dan bacaan online (screen reading). Sebenarnya kan baca itu memang ga harus dari buku ya. Buku hanya salah satu sumber informasi. Tapi, buat saya tetap penting untuk ngembangin kebiasaan baca buku cetak. Penelitian-penelitian tentang pengaruh teknologi pada perkembangan otak dan kebiasaan baca nunjukin kalau generasi saat ini (anak-anak yang sudah terpapar dengan dunia digital), otak mereka lebih terbiasa untuk baca cepat (skimming) dan cari kata-kata kunci saja, daripada fokus pada detail uraian dan tenggelam dalam cerita layaknya saat kita baca buku cetak. Saat kita baca artikel-artikel online, umumnya artikel cenderung lebih pendek, plus ada banyak link dan iklan. Ternyata… hal ini bisa nurunin daya konsentrasi dan buat orang mudah lompat-lompat dalam berpikir. Nah, saat harus baca buku yang butuh atensi lebih lama dan plot cerita terbangun lebih lambat, banyak yang jadinya cepat lelah dan tidak sabaran.  Pas saya baca penelitian ini, itu ngena banget. Saya ngerasa sekarang ini, karena waktu yang saya pakai untuk browsing dan screen reading lebih banyak, pas saya lagi baca buku novel atau buku cetak lainnya, bawaannya mau baca cepat saja. Ga lagi tiap kata dan kalimat saya baca secara rinci.. ya itu tadi, jadinya skimming. Alhasil banyak detail-detail yang kelewat, atau saya jadinya cuma baca saja tapi ga gitu paham artinya apa dan harus baca ulang kalimatnya. Tapi....kan  ga bisa dipungkiri juga kalau sekarang jaman digital. Maka dari itu, kita yang perlu latih otak kita dan anak-anak kita, untuk jadi bi-literate. Seimbangkan waktu untuk print reading dan screen reading. 


Membaca itu penting, tapi lebih penting lagi untuk bangun minat baca anak. Yuk, mulai dari keluarga kita ^^