Monday, February 2, 2015

Surat Cinta untuk Ara

Ara sayang...

Selamat ulang tahun ya nak
Tidak terasa sudah dua tahun usiamu

Mama masih ingat dengan jelas dua tahun lalu, bulan Januari tanggal 17, Jakarta lagi tergenang terus mama kontraksi dan akhirnya usaha nembus banjir ke rumah sakit. Mana papamu waktu itu lagi mau ke Bandung. Eh ternyata sama suster dibilangnya ini kontraksi palsu dan disuruh pulang lagi!

Dari kejadian itu, mama jadi semakin tak sabar mau ketemu kamu. Baru deh tanggal 3 Februari kontraksi lagi, and now it’s all the way through! Siang-siang mama sudah di rumah sakit, awalnya masih santai dan bisa ketawa-ketawa…lama-lama tekanan darah meninggi sampai 170. Suster sampai menyangka mama minum ramuan apa gitu namanya, apalagi pas mama muntah-muntah juga. Setelah cek urin ternyata protein positif, itu istilah medisnya preeclampsia, dokter pun memutuskan untuk operasi Caesar. Tidak sampai satu jam kemudian….tangisanmu sudah membahana di ruang operasi!

Kami memberimu nama Arka Mecca Raissa Dharmawan. Arka yang berarti cahaya, Mecca untuk Mekkah, Raissa mewakili nama papa mama (Rakhmat dan Orissa), Dharmawan mengikuti jejak papamu. Doa kami, semoga kamu dapat menjadi orang yang berguna dan menyebarkan kebaikan dimana pun kamu berada, dengan tetap memegang teguh imanmu.

Kami memanggilmu dengan sebutan Ara. Seperti kembang Ara yang bunganya tertutup, mama papa ingin kamu bertumbuh dengan kecantikan dalam diri. Kembang Ara tidak peduli dengan kecantikan luar dan perhatian semu, dalam kesederhanaannya ia memberi manfaat bagi lingkungannya. Nama Ara, yang punya origin dari bahasa Arab, juga berarti ‘opinionated’. Semoga kamu memiliki kemampuan untuk berpikir dan kemauan mengejar apa yang kamu inginkan, tidak hanya serta merta mengikuti arus. Tapi ingat juga untuk ‘be considerate’ ya. Bukan hanya asal bicara yang tidak punya dasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, apalagi hanya untuk menyakiti orang lain.

Selama dua tahun ini, mama papa sering takjub melihat perkembangan kamu. Dari kamu yang cuma bisa menggeliat dan menangis, kini bisa mengungkapkan apa yang kamu mau dengan lancar dan tegas, suka menyanyi, banyak tanya mulai jago bantah dan ngeles (buat mama papa mesti putar otak terus), dan alhamdulillah mulai bisa baca doa makan dan tidur plus kalimat syahadat dan Al-Fatiha..kamu juga sudah bisa lari dan lompat kesana kemari plus semakin mandiri dalam banyak hal, termasuk ambil ipad dan utak-atik sendiri cari video/ games walau kamu tahu harusnya tidak boleh nonton kecuali lagi jamnya @_@ 

Terima kasih ya… selama dua tahun ini, kamu mengajarkan mama papa bagaimana rasanya mencintai tanpa pamrih. Kami hanya ingin kamu merasakan kenyamanan, kebahagiaan, dan kecukupan melebihi kami…

Terima kasih, karena kamu sudah mengisi hari-hari kami dengan keceriaan, kepolosan, dan kelucuanmu yang senantiasa mengundang senyum dan tawa kami..

Terima kasih, karena kamu tidak terlalu banyak menuntut (atau belum ya? :D). Kamu mau makan apa yang disediakan (well tidak selalu sih), mau pakai baju yang dibelikan, mau main dengan mainan yang ada, dan mau ikut mama kesana kesini tanpa banyak protes..  

Di sisi lain…..

Maafkan kami ya… kalau terkadang perhatian kami teralih dari kamu dan lebih melekat pada laptop atau handphone, sampai kamu perlu protes dan berteriak “Itu ga usah, tutup tutup..Ayo main aja sama Ara..”

Maaf ya… mama suka masih kurang telaten mengurus kamu. Tidak sesabar eyang dan oma opamu kalau lagi waktu makan, dan jarang sekali masak buat kamu (thank God ada mba Atun dan mba Muni @_@)

Maaf ya… kalau mama papa masih sulit mengerem nafsu makan sehingga sering jajan, yang sebenarnya uangnya bisa lebih dimanfaatkan untuk dana pendidikanmu

Maaf ya… mama papa masih belum bisa jadi role model yang patut buat kamu dalam hal ibadah

Mama papa akan terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik untuk kamu,
karena kami sangat sayang padamu

Mungkin kami tidak akan memenuhi semua permintaanmu
Mungkin kami akan membiarkanmu jatuh, merasakan sakit, dan menangis
Mungkin kami akan marah padamu dan menetapkan konsekuensi yang membuatmu sebal pada kami

Namun ketahuilah, dan percayalah…

Selama kami diberi usia dan kesehatan..

Kami akan mendidikmu menjadi pribadi tekun dan tangguh untuk mencapai cita-citamu
Kami akan ada di sampingmu dan menemanimu di masa sulit dan kegagalanmu
Kami akan memaafkanmu, membuka hati, dan memberi pelukan kami untukmu

We love you
You love us
We are happy family
With many great hugs and kisses from us to you

Won’t you say you love us too ^^

Monday, January 12, 2015

Ga boleh! Itu punyaku!



Ada yang pernah post poster ini di path, pas banget rasanya sama Ara akhir-akhir ini yang lagi agak ‘posesif’. Posesif sama mamanya, posesif sama rumahnya, posesif sama mainan-mainannya. Misalnya aja nih ya, waktu lagi kruntelan dan papanya mau ikutan, dia bilang “Ini mama Ara, papa ga boleh pinjem” (puk puk papa). Waktu ada tamu datang ke rumah, diprotes sama dia “Ini rumah Ara, om ga boleh masuk”. Kebayang kan kalau ada yang mau pinjem mainannya? “Ga boleh! Ini kan punya Ara…” Tapi terus kalau dia lihat mainan punya temannya yang dia suka, bisa jadi lupa sama apa yang lagi dia mainin dan minta yang lagi dipegang temannya (kadang malah langsung rebut uupsss). Giliran temannya ganti yang lain, lah dia ikutan mau itu juga. Hahaha…Klasik!

Kalau lagi adain playdate sesama toddler, memang harus expect bakal ada episode rebut-rebutan atau dorong-dorongan demi mainan. Yah namanya juga toddler, completely normal. Selain ke mama papa atau pengasuhnya, mereka juga mulai punya attachment  ke barang-barang. Ayo siapa yang anaknya kemana-mana harus bawa boneka atau guling atau bando kesayangan? Kemampuan untuk bangun kelekatan ini bagian dari tahap perkembangan emosi yang sehat kok, jadi jangan buru-buru dianggap sesuatu yang buruk. Apa lagi ya yang buat batita sulit sharing? Hmmm… Mereka masih egosentris, belum bisa lihat sudut pandang dan kebutuhan orang lain. Yang mereka tau cuma apa yang mereka mau. Mereka mulai paham konsep kepemilikan, tapi belum cukup matang untuk bedain ada barang miliknya, milik orang lain, dan milik publik yang bisa dipakai sama-sama. Mereka juga lagi masa-masanya ingin nunjukin ke’aku’annya dan suka ngetes batasan (“apa yang akan terjadi kalau aku begini begitu ya?”).

So adjust your expectation. Berharap toddler buat sharing itu kayak kita berharap mereka bisa baca buku atau tulis namanya sendiri. Bukannya ga mungkin sama sekali sih, tapi susaahhhh….Sharing itu bukan tugas yang sederhana. Untuk bisa sharing, anak harus punya sense of self dan paham kepemilikan, anak harus lebih dulu ngerasa kalau apa yang mereka butuhin udah terpenuhi dan baru bisa pikirin orang lain, anak harus ngerti arti giliran dan kenal waktu (“baru sebentar atau sudah lama ya aku pakai ini?”), plus anak mesti ngembangin kesabaran dan kontrol diri untuk nunggu dan ga asal rebut.    

Buat toddler, kita bisa expect mereka bermain paralel, ada di ruang yang sama dan mungkin sebelahan, tapi masing-masing sibuk sendiri. Sharing butuh empati,  yang mulai muncul di usia 3-4 tahun dan semakin berkembang di usia 5-6 tahun. Sebelum itu, anak cenderung berbagi karena memang dikondisikan begitu oleh orang dewasa.

Kalau memang toddler belum bisa sharing, mesti tetap diajarin ga? Pastinya! Kayak segala hal lain, kalau kita mau mereka jadi anak yang ……. (isi sendiri) ya harus diajarin dari kecil dan konsisten.

Jangan paksa anak buat sharing kalau memang dia belum mau. Tanya dulu “ra, temennya boleh ga pinjem mobil-mobilan Ara?” kalau dia jawab “ga boleh” ya hargai itu. Jangan direspon “ih kok Ara pelit sih”. Bilang aja “oh Ara belum mau pinjemin ya. Nanti kalau udah mau bilang ya, seru juga loh main sama-sama.” Kalau dipaksa, dia bisa mikir kalau kebutuhan dan keinginan dia ga sepenting anak lain. Itu malah nanti jadi buat dia ngerasa ga secure dan kesel. Tunggu aja sampai dia mutusin sendiri untuk kasih pinjam temannya. Sebaliknya, misal Ara mau pinjem punya temannya, saya akan minta dia ijin dulu. “Ini bukan punya Ara, jadi harus tanya dulu. Kalau ternyata ga boleh dipinjem, Ara ga boleh marah ya. Tadi juga kan Ara ga mau pinjemin mobil-mobilan Ara dan ga dipaksa kan?” So they know it works both ways. Nah kalau udah dikasih pinjam temannya, saya juga harus pastiin Ara ga monopoli dan barangnya ga dianggap ‘hak milik’ sama dia. Gitu juga kalau main di tempat publik. Saya harus nekenin bahwa ada aturan sosial yang harus dia ikuti. “Ini bukan punya Ara ya, jadi harus gantian. Kalau Ara mau pakai lagi, nanti bisa setelah kakak ini main..oke?” Yup, jadi anak yang lebih besar bukan berarti harus selalu ngalah loh.  

Pas playdate, ibu-ibunya (atau bapak-bapak) memang sebaiknya punya pandangan yang sama soal sharing. Jangan sampai nih, misalnya, X main ke rumah Y, terus karena ibunya X punya pikiran kalau “tiap anak harus sharing, apalagi tuan rumah” dia biarin aja tuh X ambil dan mainin macam-macam mainan Y..ga pakai nanya-nanya dulu dan udah gitu lama lagi pakainya. Tiap kali X liat Y mainin sesuatu terus mau, ibunya nurut dan ambil langsung dari Y (yang ga berdaya) sambil bilang “kita sharing ya, mainnya gantian oke?” Giliran ibunya Y minta balik, ibunya X jawab “tapi anaknya masih seneng nih, sebentar lagi ya..” Wkwkwk.. itu mah bukan belajar sharing, tapi X lagi dipupuk benih-benih egoisnya, berasa semua keinginannya harus dapat. Duh jadi keinget dulu sempat kesal banget  sama ibu-ibu yang cuek banget padahal anaknya monopoli mainan dan buat beberapa anak nangis karena ga mau gantian (cerita lengkap disini sharing vs calistung). Untung teman-teman saya yang biasa playdate bareng sepaham.

Biar lebih smooth, ada baiknya sebelum playdate, yang jadi tuan rumah lakuin persiapan. Ajak anaknya milih mainan mana yang mau disimpan biar ga dipegang-pegang temannya, dan mana yang boleh dipakai sama-sama. Kalau anak udah tenang karena tau barang kesayangannya ‘aman’, hopefully dia lebih bisa santai untuk sharing. Bisa juga kita minta anak yang mau datang ke rumah untuk bawa mainannya sendiri. Anak kecil suka tergoda kalau liat mainan baru dan yang bukan punya dia. Kalau saling tergoda, bisa jadi lebih gampang untuk dorong mereka buat sharing. Teknik lain, bisa juga pakai timer. Saat bunyi, itu tandanya mesti tukeran / ganti mainan, supaya tiap anak punya kesempatan coba main macam-macam mainan. Siapin juga mainan yang  bisa dipakai sama-sama (lego atau masak-masakan), walau ga jamin juga kalau piecesnya banyak terus mereka akan ga rebutan sama sekali.

Playdate itu bisa jadi ajang observasi buat ortu dan arena belajar buat anak. Kita bisa liat apa anak kita itu seringnya jadi tukang rebut, jadi korban, atau mau berbagi? Anak perlu bimbingn untuk belajar sharing…belajar bahwa kalau mereka jadi tukang rebut, lama-lama ga ada yang mau main sama mereka…belajar kalau mereka ga mau mainan mereka pindah tangan terus, maka perlu belajar bilang ‘ga’ atau ‘nanti dulu’… belajar kompromi, kerja sama, belajar kalau sharing itu bisa buat waktu bermain bisa jadi lebih menyenangkan (daripada berantem terus malah ga bisa main sama sekali kan?). Tapi misal masih rebutan juga, ortu bisa ambil mainannya dan simpan sementara. Tapi ada kalanya juga gpp kok kita biarin mereka sebentar untuk coba selesaiin konflik itu sendiri. Amati dulu, ga langsung coba nengahin  (kecuali situasi udah menjurus bahaya). Sometimes young children can surprise and amuse us.  

Supaya lebih terbiasa sharing, anak juga mesti liat dari orang-orang sekitarnya. Ortu harus jadi panutan (old news :D). Kalau kita punya makanan, tawarin ke dia. Kalau dia mau pakai kacamata kita, kasih aja tapi minta dia untuk ijin dulu. Kasih penjelasan kalau kita lagi sharing makanan dan mau kasih pinjam barang kepunyaan, karena ingin buat sesuatu yang baik dan menyenangkan orang lain. Main exchange game. Tanya ke anak apa kita boleh pinjam mainan dia, dan sebagai gantinya dia juga boleh pinjam atau mainin barang kepunyaan kita (fair enough right?). Bagi dia, bisa jadi krincingan itu sama berharganya dengan hp atau cincin kita.

Kasih pemahaman ke anak tentang kepemilikan, mana yang punya dia, punya mama papa, punya publik..dan apa artinya itu. Ini tapi kadang saya masih suka lupa sendiri. Contohnya ya, pas mau rearrange tempat simpan boneka atau mainannya dia, suka ga bilang sama Ara (berasa punya saya sendiri soalnya), atau kalau mau pakai laptop suami, saya main ambil terus ga ijin (karena mikirnya pasti boleh). Alhasil Ara (yang ternyata sangat observer), protes “Itu tempatnya ga disini mama, itu kan punya Ara” atau “itu kan punya papa, mama ga boleh pakai”. Heeeee, kena batunya deh saya. Mungkin dia bingung karena di satu sisi saya nyuruh dia selalu ijin atau bilang dulu kalau mau ambil barang orang, tapi sayanya ga gitu. Anak seusia Ara memang masih sulit melihat bahwa aturan tidak selalu hitam putih, dan memang belum saatnya sih. Jadi sayanya yang mesti aware apa yang saya ajarin ke dia, dan make sure she sees that her parents do it too.  

Kesimpulannya, jangan paksa anak buat sharing, tapi kondisikan situasi dan pupuk karakter anak jadi anak yang suka berbagi. Di samping cara-cara di atas, metode lain yang selalu jadi andalan saya ya buku cerita. ^^ Sekarang lumayan banyak kok buku-buku pengembangan karakter yang bagus-bagus, tinggal kitanya aja rajin-rajin cari. Tips supaya anak minat baca buku bisa dibaca disini




Thursday, December 11, 2014

Anak Malas Baca Buku??

Senin lalu sempat diwawancara singkat sama reporter Kompas TV, ditanya soal faktor apa yang bisa jadi sebab anak sekarang jadi suka malas baca buku.

Hm... imo, alasan utama anak bisa jadi kurang suka baca ya karena lingkungan terdekatnya ga contohin itu. Kalau orang tua, kakak, sepupu, pengasuh, atau siapapun yang sering anak lihat lebih banyak habisin waktu buat nonton tv, denger radio, main games, atau ngobrol.. daripada baca buku..ya wajar juga kan kalau anak ga biasa baca? Sekolah-sekolah di Indonesia juga belum banyak yang terapin gerakan baca, misalnya dengan dorong anak nuntasin sekian buku bacaan dalam 1 tahun dan isi reading log. Kurangnya minat baca buku bisa juga karena anak anggap aktivitas baca itu bosenin dan buat capek pikiran. Baca kurang diliat sebagai pengisi waktu luang yang nyenengin, karena diasosiasikan dengan tuntutan belajar atau akademis. Sebagian orang tua yang nuntut anak untuk bisa baca terlalu dini dan lebih fokus pada ngembangin kemampuan bacanya, bukan bentuk minat bacanya. Lanjut lagi, anak bisa jadi kurang suka baca buku ya karena perkembangan teknologi dan banyaknya alternatif kegiatan lain yang dianggap lebih menarik. Banyak anak yang anggap buku kurang asyik, karena ga kasih efek seperti saat main games di gadget/ alat elektronik atau main di arena permainan.

Lalu…apa ya yang bisa orang tua lakukan buat ningkatin minat baca anak?  


Baca cerita sama-sama
Mulai dari keluarga, mulai dari rumah. Jadiin kegiatan baca sebagai bagian dari rutinitas keseharian. Ga perlu lama-lama kok, 10 menit pun cukup. Tentu disesuaiin juga sama usia anaknya ya. Makin besar anaknya, rentang atensi makin lama, waktu baca bisa dibuat lebih panjang. Kalau anaknya masih belum bisa lama-lama, lebih baik sesi bacanya dibuat singkat (3-4 menit) tapi lebih sering.  Bagi orang tua yang kerja, bacain anak cerita di waktu sebelum tidur bisa jadi quality time yang buat makin lengket lho. Aktivitas baca akan jadi menyenangkan karena sama-sama mama papa tersayang. Bacain ceritanya yang menarik, pakai intonasi nada, mimik wajah, dan bahasa tubuh yang hidup. Sama anak sendiri ini, ga perlu jaim hehe... Untuk anak usia dini, kegiatan baca bersama dan dongeng itu jadi stimulasi yang bagus banget buat perkembangan bahasanya. Anak bisa belajar banyak kosa kata, struktur kalimat, dan pengetahuan tentang macam-macam hal. Ga cuma baca, bisa juga kita kembangin dengan pertanyaan-pertanyaan seputar cerita, atau minta anak ceritain kisah dengan bahasanya sendiri. Hal ini bisa ningkatin konsentrasi, kemampuan ekspresi diri, dan mendorong kesukaan anak sama buku. 


Permudah akses anak ke buku
Sediain deh pojok baca di rumah. Buku-buku Ara itu saya taroh di satu kotak di sudut ruangan, jadi dia dengan gampang bisa milih-milih dan ambil sendiri apa yang ingin ia baca. Kadang dia minta bacain buku yang sama berulang-ulang. Bosen juga sih, tapi sebenarnya pengulangan itu bisa buat anak prediksi plot dan lebih paham alur cerita. Terus, kemana-mana saya pasti bawa buku. Di mobil ada buku, di tas Ara juga ada buku. Jadi kalau pas pergi dan harus nunggu (misal ke restoran tapi makanan belum datang, atau Ara nemenin saya ke bank), dia bisa isi waktu dengan baca. Untuk anak yang mulai banyak tanya-tanya, bisa juga kita fasilitasi dengan buat buku kumpulan pertanyaan dan jawaban. Jadi tiap kali anak nanya, misal”apa sih hewan yang larinya paling cepat?”, ”kenapa bisa ada pelangi?”, ”berapa lama sih pergi dari Indonesia ke Amerika?” kita ajak sama-sama untuk cari informasi dari buku atau browsing di internet, lalu print / catat jawabannya di buku. Tambahin deh gambar-gambar biar lebih menarik.  


Buat agar anak nikmati waktu baca
Biar anak senang baca, konten bacaan perlu sesuai sama apa yang disukai anak. Anak suka pesawat, cari buku soal pesawat. Anak suka binatang, cari buku-buku tema binatang. Anak suka sejarah, cari buku yang bahas tentang budaya negara-negara. Untuk anak usia dini, cari buku yang banyak gambar dan sedikit tulisan, stimulasi indera-inderanya (warna-warna cerah, ada suara, ada ragam tekstur yang bisa disentuh), plus ada rima atau kalimat repetitif yang mudah diprediksi dan diingat. Buku board book atau buku kain sangat cocok karena lebih tidak mudah robek. Selain konten, perlu diperhatiin juga level kesulitan bacaan. Agar anak nikmati waktu baca, jangan pilih buku yang terlalu sulit dicerna dan anak butuh usaha keras buat pahami isinya. Kalau terlalu sulit, jadinya anak sudah malas baca duluan. Ga apa-apa lho baca komik, atau novel, atau majalah. Ga selamanya anak harus baca buku pengetahuan atau ensiklopedia. Apalagi sekarang sudah banyak juga buku yang kombinasiin pengetahuan dengan penyajian yang menarik, tinggal ortu pinter-pinter dan rajin-rajin cari buku yang bisa bangkitin rasa tertarik anak. Perlahan-lahan, kalau anak sudah terbiasa baca, baru deh tingkatin kompleksitasnya. Panduan umumnya, kalau dalam satu halaman ada 5 kata atau lebih yang anak ga tahu artinya, berarti buku itu di atas kemampuan anak. Akan sulit bagi anak untuk baca mandiri dan nikamti waktu baca, jadi lebih baik ditemani ^^



Ortu wajib jadi model
Orang tua harus jadi model buat anak. Pastiin tiap hari anak lihat kita terlibat dalam aktivitas baca, mau itu baca koran, majalah, novel, atau buku pelajaran. Gimanapun, anak itu kan peniru ulung ^^ Nah tapi, ini terkait juga nih sama value yang dianut masing-masing keluarga. Akan sulit terbangun budaya baca, kalau memang orang tua ga anggap baca itu sebagai hal yang penting. Mungkin ada yang berpikir “ah, buat apa sih baca buku? Ribet..mending nonton tv atau diskusi ma temen, atau nanya om google.” Kalau sudah begitu, ya beda persoalan lah ya.

Di sisi lain, mungkin ada juga yang bingung, ”sebenarnya sih mau jadiin baca aktivitas sehari-hari, tapi ortu dua-duanya kerja..pengasuh/eyang ga bisa baca/ga ngerti karena bukunya dalam bahasa Inggris...gimana dong?” hm.. kalau situasinya begini, mungkin perlu effort sedikit dari ortu. Ortu bisa buat rekaman kaset dari buku tertentu, dan pengasuh/ eyang hanya tinggal muterin aja sambil nemenin anak baca. Kasih sinyal di rekaman itu untuk cue kalau harus balik halaman. Bisa jadi, malah si pengasuh atau eyang sekalian belajar hehehe...



Latih otak untuk jadi bi-literate
Maksudnya bi-literate disini itu, latih otak untuk baca bacaan cetak (print reading) dan bacaan online (screen reading). Sebenarnya kan baca itu memang ga harus dari buku ya. Buku hanya salah satu sumber informasi. Tapi, buat saya tetap penting untuk ngembangin kebiasaan baca buku cetak. Penelitian-penelitian tentang pengaruh teknologi pada perkembangan otak dan kebiasaan baca nunjukin kalau generasi saat ini (anak-anak yang sudah terpapar dengan dunia digital), otak mereka lebih terbiasa untuk baca cepat (skimming) dan cari kata-kata kunci saja, daripada fokus pada detail uraian dan tenggelam dalam cerita layaknya saat kita baca buku cetak. Saat kita baca artikel-artikel online, umumnya artikel cenderung lebih pendek, plus ada banyak link dan iklan. Ternyata… hal ini bisa nurunin daya konsentrasi dan buat orang mudah lompat-lompat dalam berpikir. Nah, saat harus baca buku yang butuh atensi lebih lama dan plot cerita terbangun lebih lambat, banyak yang jadinya cepat lelah dan tidak sabaran.  Pas saya baca penelitian ini, itu ngena banget. Saya ngerasa sekarang ini, karena waktu yang saya pakai untuk browsing dan screen reading lebih banyak, pas saya lagi baca buku novel atau buku cetak lainnya, bawaannya mau baca cepat saja. Ga lagi tiap kata dan kalimat saya baca secara rinci.. ya itu tadi, jadinya skimming. Alhasil banyak detail-detail yang kelewat, atau saya jadinya cuma baca saja tapi ga gitu paham artinya apa dan harus baca ulang kalimatnya. Tapi....kan  ga bisa dipungkiri juga kalau sekarang jaman digital. Maka dari itu, kita yang perlu latih otak kita dan anak-anak kita, untuk jadi bi-literate. Seimbangkan waktu untuk print reading dan screen reading. 


Membaca itu penting, tapi lebih penting lagi untuk bangun minat baca anak. Yuk, mulai dari keluarga kita ^^





Tuesday, October 21, 2014

It's about time! Look who's talking!

Ara: Ini apa ini? (Tunjuk lantai)
Opa: Ini lantai
Ara: Ada apanya nih? (Tunjuk noda hitam di lantai)
Opa: Ada kotorannya
Ara: Apa itu kotoran?
Opa: Hmmm....apa ya..yang buat jadi ga bersih..yang ga kita inginkan
Ara: Apa itu yawawaninan (maksudnya niruin ucapan opanya)
Opa: Waduh..gimana neranginnya? (sambil garuk-garuk kepala)
Ara: (liatin opanya)
Ara: (mungkin mikir *ah opa lama jawabnya...ganti pertanyaan deh..lalu berdiri dan ambil sumpit) Ini apa nih?

---------------------------------

Itu salah satu percakapan Ara sama opanya. Ara si ceriwis, sampai kadang dia suka dikira udah 3 tahun, walau dia baru akan ulang tahun kedua Februari nanti. Ara memang doyan nanya-nanya, doyan nyanyi, doyan nyuruh, mulai belajar nego, dan yang terbaru dia lagi suka main boneka sambil buat cerita sendiri dengan macam-macam skenario.  

Lihat anak belajar bicara itu ga pernah berhenti buat saya takjub. Dari yang bisanya cuma nangis, terus ngomong terbata-bata karena ga bisa nemuin kata yang tepat padahal mungkin di otaknya udah tau mau bilang apa,  sampai akhirnya sekarang dia udah bisa diajak ngobrol dan ekspresiin kemauannya dengan sangat vokal.

”Mama..Ara mau kue”
 ”Ga, Ara ga mau mandi!”
 ”Ara mau main sepeda lihat ayam”
”Ara mau gendong mama sambil bawa balon minion”
”Ara mau nonton pooh...satu? satu?”
”Kita main coret-coret yuk”

Tapi sedihnya.. belakangan ini lagi sering nemuin kasus speech delay. Makanya terus saya jadi kepikiran ingin nulis seputar ini.

Sebagai orang tua, selain momen langkah pertama anak, biasanya yang ditunggu-tunggu banget juga adalah momen pas anak mulai ngomong. Iya ga? Saya sih iya. Sayangnya, belum semua ortu kasih stimulasi yang dibutuhkan untuk mendorong anak bicara. Atau sebaliknya, malah lakuin hal yang justru ngehambat. “Ah, masa sih ortu sengaja mau buat anaknya lambat ngomong?” Yah mungkin bukannya sengaja sih..tapi….kasih anak nonton tv (atau main ipad, tablet, video di hp) berjam-jam sehari itu ga akan bantu anak cepet ngomong kalau ga didukung sama interaksi langsung secara intensif. And yes, it includes baby first, baby Einstein, baby brain, Disney junior, and other so called baby programs.

Ada yang suka nanya gimana caranya ngajarin Ara supaya banyak omong. Biasanya saya cuma bilang, “Ara ngikutin mamanya ini, mamanya cerewet soalnya hehehe..”  Eh tapi bener deh, sebenarnya stimulasi untuk dorong keterampilan bicara anak itu sederhana dan ga butuh banyak biaya kok (kecuali untuk buat beli buku, bisa dibilang gratis!).

First and for mosttalk talk talk talk talk talk…. Ngomong aja terus-terusan. Kemampuan pendengaran bayi udah mulai berkembang sejak dalam kandungan, dan waktu lahir sudah seperti orang dewasa. Beda sama indera penglihatan yang butuh beberapa bulan untuk jadi setajam orang dewasa. Semakin sering kita ajak ngomong, semakin banyak yang terekam di otak anak. For me, there’s no such thing as talking too much with your baby, you just can’t go wrong with it. Di awal-awal memang kita kayak ngomong satu arah aja, dan mungkin ada orang tua yang ngerasa konyol untuk ngomong dan heboh sendiri sementara bayinya datar-datar aja. Beberapa orang mungkin butuh effort lebih, karena susah keluar kalimat-kalimat spontan secara natural. But that effort will be worth it. Percaya deh, walau kayaknya bayi ga ngerti apa-apa, mereka belajar kok sebenarnya. Tapi ya memang mereka butuh waktu belajar yang lebih lama daripada orang dewasa. Di tahun pertama hidupnya, bayi mungkin bisa butuh beberapa minggu untuk benar-benar paham kata-kata yang mereka dengar setiap hari. Nah itu aja kata yang didengar tiap hari, kalau jarang-jarang diajak ngomong bisa-bisa lebih lama lagi.

Apa aja yang diomongin? Apaan aja bisa kok. Saya selalu kasih narasi hal-hal yang Ara lakuin “Ara lagi lihat apa? Itu gambar bunga ra..bagus ya. Warnanya merah, terus ada daun-daunnya yang warna hijau. Kalau bunga asli yang ada di taman, wanginya harum loh. Kita nyanyi yuk, lagu Kebunku.” Saya juga suka narasiin apa yang saya atau orang-orang di sekeliling lakuin, misalnya ”Wah papa habis mandi nih ra. Seger banget tadi, mandinya pakai air dingin. Kalau mandi, juga pakai sabun, supaya badannya jadi bersih dan wangi. Sekarang papa mau pakai baju. Masuk dari kepala, terus tangan kanan, tangan kiri, turunin deh. Coba liat ada gambar apa nih ya di kaos papa?”  Ga cuma saya, papa, oma opa, yangti dan yangkung Ara juga kompakan untuk bernarasi.  Mba di rumah juga saya ajarin gitu. Sekarang ini, Ara juga jadi kebiasa deh narasiin sesuatu yang dia lakuin atau yang dia liat. Tanpa diminta, dia suka bilang sendiri ”Ara pakai baju merah”, ”Oma potong pepaya buat opa” , ”Yangti boboan di kasur”, dll.

Selain frekuensi ajak ngomongnya, intonasi nada bicara kita itu juga penting. Be animated! Pakai nada, melodi, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah yang rada heboh. Bahkan awal-awalnya, ini lebih penting daripada konten omongan kita. Cuek aja lah kalau dibilang hiperbolis ^^ Kalau keabisan ide mau cerita atau mau ngomongin apa, ambil aja majalah atau buku terdekat. Bacain deh tuh, dijamin bayi masih tertarik juga. Ngeliat kitanya, bukan tulisannya hehehehehe... Mau majalah Time ”Eh ra ra.. tau ga? Lagi ada pelantikan presiden baru loh... Ara tau ga presiden itu apa? Preeee...siiii...deen..... Itu orang nomor satu di negara Indonesia, yang ngurus semua-semuanya. Nah presiden yang baru namanya Jokowi. Jokowi! Jokowi!” atau brosur restoran ”Ra ada restoran baru buka nih di deket rumah kita. Katanya jual dimsum all you can eat. Hmmmmm... yummyyyyy... dimsum itu biasanya dikukus. Kalau masak itu ada juga yang digoreng, seng oseng oseng... waaahhh, dan ternyata harganya ga terlalu mahal. Hore!!” semuanya sah-sah aja.

Kalau lagi mau ajarin kata baru, misalnya bola, bakal lebih cepet nyantol kalau dikenalin dengan benda konkritnya dan dalam konteks. Jadi daripada pakai flashcard (kartu bergambar), ya mending kasih obyek aslinya. Dan daripada sekedar nunjukin ke dia ”Ini bola ra. Boooo...laaa...”  mendingan anaknya diajak main ”Ara lagi main apa itu ya? Oh lagi main bola ya. Boooo….laaa…. Iya Ara lagi tendang-tendang bola. Bola bentuknya bundar yah, dan bisa buat pantul pantul juga. Boing! Boing! Boing!”  Saya dulu beli flashcard, tapi pada akhirnya yang saya pakai cuma yang gambar-gambar binatang aja (karena agak susah ya kasih lihat aslinya, kecuali kucing yang sering keliaran depan rumah, sama burung dan ayam piaraan tetangga :D). Sisanya (macam kartu obyek rumah tangga, warna, bentuk, buah-buahan dan sayur mayur) akhirnya ga terpakai, karena saya lebih prefer langsung kasih liat benda aslinya.

Pas mau kenalin kata baru, penting buat kasih penekanan dengan intonasi nada, kasih petunjuk visual, kalau perlu tambah dengan gerakan dan dipadu dengan nyanyian. Intinya, semakin banyak indera yang dilibatkan, semakin cepat anak belajar dan semakin kuat ingatannya. Sama seperti kalau kita dengar kata ‘mobil’ , kita bisa kan ya ngebayangin bentuknya, berasa dengar bunyi mesinnya, bayangin bau wangi mobilnya, ngerasain empuknya jok mobil, dan seolah ada sensasi goyang ketika mobil berjalan. Betul? Itu karena otak kita sudah punya memori semuanya itu. Jadi misal kita mau ajari anak kata ’piring’, biarin dia pegang piring asli untuk eksplorasi bentuk dan bahannya, serta dengar bunyi yang timbul kalau terdenting alat makan. Lalu waktu makan sambil bilang ”Ara makanannya ditaruh di piring ya. Ini namanya apa? (sambil tunjuk piring) Yup betul. Ini piiiii....ringgggg.... ” Dengan cara ini, bayi pasti lebih cepet paham konsepnya, dibanding yang cuma dikasih liat gambar piring, atau pas waktu makannya cuma nyuapin tapi ga diajak ngomong apa-apa bayinya. Ga semua kata atau benda akan kita ajarin secara sadar ke anak, tapi ternyata mereka nangkep loh. Amazing memang ya. Kadang tau-tau Ara ngomong suatu kata, dan memang bener maksudnya ngacu sama hal yang dia sebut itu, dan saya bertanya-tanya ”wah kapan dia belajar kata itu? Kapan saya ngajarin ya? Atau siapa ya yang ngajarin? Denger dari mana ya dia?”

Waktu Ara baru belajar bicara, kayak semua bayi lain, pastinya dia bicara sepatah-patah (’mi’ untuk ’minum’, ’wa’ untuk ’bola’).... terus juga pakai satu kata untuk banyak hal (’au’ bisa artinya ’jatuh’, ’lampu’, ’kasur’)..... dan lakuin generalisasi (semua yang bulat dibilang bola, walau sebenarnya itu kelereng, roda, bulan). Kalau seperti ini, yang saya lakuin adalah koreksi tanpa terlalu besar-besarin atau sampai ngebuat percaya diri Ara hilang. Jadi misal Ara bilang ’wa..wa..’ sambil nunjuk bola, saya koreksi dengan kata yang benar, ”Ara mau minta apa? Oh mau bola. Yuk kita main lempar-lempar bola.”  Misal dia bilang bola padahal nunjuknya roda, koreksi juga. ” Kalau yang ini roda. Rrrrroooo...da.. Mirip ya ra sama bola? Iya sama-sama bulat sih ya soalnya. Gpp salah kan namanya belajar ya. Nanti lama-lama pasti bisa bedain. Kalau bola itu untuk dimainin, kalau roda, itu untuk bantu pindahin sesuatu. Nih liat ya..”   

Ngomong sama bayi, bukan berarti harus ikut-ikutan bahasa bayi. No motherese. Sering ga denger orang ngomong kayak gini kalau lagi ngadepin bayi ”cayang.. kenyapa nangis? Cini yuk mimik cucu dulu yuk.. bial kenyang, teyus enyak deh bobonya” terus biasanya nadanya pitch tinggi gitu hehehe... Nah itu yang namanya motherese. Kesannya memang lucu ya, tapi sebenernya kurang bagus untuk perkembangan bahasa. Saya biasanya pakai bahasa biasa kayak waktu lagi ngomong sama orang dewasa. Bilang aja ”sayangnya mama kenapa nangis? Yuk kita minum susu kedelai yuk. Nanti kalau perutnya kenyang habis minum susu, Ara bobonya lebih nyenyak.” Biar Ara lebih ’ngeh’ sama apa yang diomongin, tinggal tempo bicaranya aja diperlambat dan artikulasi diperjelas.

Tiap hari, salah satu kegiatan wajib itu adalah baca buku cerita. Buat saya buku itu investasi yang penting banget. Sejak Ara lahir udah saya bacain buku, dan alhamdulillah Ara jadi suka baca. Setiap hari sekarang malah dia yang suka minta untuk dibacain cerita. Awalnya mungkin bayi ga bisa tenang untuk dengerin cerita sampai habis. No problem.Ga usah ikutin story line yang ada di buku juga gpp banget. Gantinya bisa ajak anak main tebak-tebakan gambar. “Si monyet makan apa ini ya? Oh iya! Makan pisang! Pisangnya mana ya? Tunjuk ayo coba tunjuk..”  Kalau anak belum tau, bisikin jawabannya dan biarin mereka yang sebutin keras-keras.

Practice makes perfect. Dorong supaya anak pelan-pelan mau gunain kata-kata untuk utarain apa yang dia mau. Misal Ara rentangin tangan minta gendong, jangan langsung gendong. Tahan dulu sambil bilang “Ara mau minta gendong mama? Bilang deh, mama…..ara minta geeeeennnn….dong! gen…donggg”. Lihat kemampuan anak, mungkin di awal-awal dia cuma baru bisa ikutin kata ‘ong’ nya aja, it’s perfectly fine. Pelan-pelan nanti dia bisa bilang ‘dong’, ‘endong’, ‘gendong’, ‘mau gendong’, sampai akhirnya kalimat lengkap ‘Ara mau gendong sama mama’. Di situasi lain juga gitu, pas dia minta makan, minta diambilin sesuatu, atau waktu dilatih untuk bilang ’tolong’ dan ’terima kasih’. Sebelum dia ucapin katanya, barangnya agak saya tahan dulu. Oh ya, sekali-sekali kasih pertanyaan ke anak yang jawabannya bukan ya atau tidak, tapi pilihan, supaya dia perlu ngomong untuk kasih tau pilihannya. "Ara mau makan ayam atau ikan?", "Kamu mau pakai baju yang warna kuning atau biru?", "Ara mau main tempel-tempel atau masak-masakan?" 

Di samping ajak ngomong, kitanya juga harus gantian untuk dengar bayi ngomong. Cooing (uu..ooo..ah…) is talking. Babbling (ma..ba..da..) is talking. Jabbering (menya menya menya, cabeca beca beca..hajipaw hajipaw) is talking. Jangan dianggap non sense semata karena itu usaha anak buat ngomong, harus direspon. “Kamu lagi ajak ngomong papa ya? Mau cerita apa sih? Senang ya tadi diajak jalan-jalan ke taman?“  Dengan kita kasih giliran untuk bicara, bayi belajar seni percakapan. Mereka pun akan ngerasa kalau omongan mereka berharga untuk didengerin, kalau apa yang mereka ucapin itu dianggep penting sama orang lain. Ini bakal buat mereka lebih terdorong untuk terus berkomunikasi. Kasih mereka 'reward' (ditepukin, tunjukin ekspresi girang, bahkan 'sekedar' direspon itu juga reward loh). Bayanginnya gini aja, kalau kita ngajak orang ngomong tapi selalu dicuekin, lama-lama pasti kita bakal jadi malas dan milih untuk diem. Betul ga? Nah, jangan sampai kita buat bayi jadi males untuk bersuara. 

Gimana dengan televisi (dan tablet, dan video, dan ipad)? Apa bener ga boleh sama sekali? Well.. kalau dari rekomendasi para ahli memang anak di bawah 2 tahun itu sebaiknya ga dikasih nonton sama sekali. Tapi buat saya ini susah sekali, karena saya dan suami pun belum bisa lepas dari gadget. Kami sih sejak Ara lahir udah jarang banget nonton televisi (film), dan biasanya untuk itu nunggu Ara bobo. Tapi kita masih lihat televisi untuk nonton berita, dan masih sering buka tablet, hp, dan laptop buat kerja.  Jadilah Ara juga penasaran pengen tahu apa sih yang sering dilihat mama papanya. Jalan tengahnya, ya dengan batasi waktu nonton. Saya juga pilih acaranya dan sebisa mungkin temani dia nonton. Program-program edukasional buat bayi itu bisa ajarin anak konsep (huruf, warna, berhitung, kosa kata baru), tapi perkembangan bahasa dan komunikasi itu baru akan terjadi melalui interaksi. Screens are not interactive. People are. Ada penelitian yang nunjukin kalau dvd edukasional bayi itu ternyata ga terlalu bantu anak belajar kata, kalau digunakan sebagai media utama. Untuk detail penelitiannya bisa dibaca disini. Dari penelitian lain juga keliatan (melalui brain scan), kalau anak yang dengar paparan kata lebih banyak dan sering itu akan gunain lebih banyak kapasitas otak mereka untuk belajar bahasa. Kesenjangan antara dua kelompok anak (yang sering diajak ngomong dan ga) makin terlihat waktu usia prasekolah, dari jumlah kosa kata dan keekspresifan bahasanya. 

“Ri..gw juga dah lakuin tuh sama kayak lo, tapi kok anak gw masih senyap aja ya?” Hmmm…misal seperti itu, sabar aja ya pak..bu.. Ada kalanya anak maunya nyerap dulu. Perkembangan bahasa itu juga ada dua macam, reseptif (pemahaman) dan ekspresif (pengungkapan). Misal anak belum ngomong tapi dia paham apa yang orang lain bilang (bisa dikasih instruksi ‘ambil boneka’, ‘tepuk tangan’, bisa tunjuk bendanya kalau ditanya ‘mana mobil?’ dll) berarti kemampuan bahasa reseptifnya sebenarnya  berkembang. Selama area perkembangan lainnya oke, dan memang stimulasinya cukup, tinggal tunggu waktu aja. Anak kan beda-beda juga. Ada yang lebih cepet ngomongnya tapi motorik ga terlalu oke, atau sebaliknya, motorik oke tapi masih malu-malu ngomongnya. Nanti kalau ‘kran’ nya udah dibuka, bisa tiba-tiba langsung deras deh aliran kata-katanya. 

Tapi... misal ada gap bulan yang cukup jauh antara perkembangan anak dengan tahapan perkembangan yang seharusnya, ada baiknya untuk cek ke klinik tumbuh kembang ya, jadi misalkan perlu penanganan khusus (ikut terapi wicara) bisa lebih cepat. Silahkan lihat tabel indikator tumbuh kembang anak 0-3 tahun disini.

Ini dulu ya yang bisa saya share. 
Now go talking to your child ^^

Monday, October 6, 2014

Goodbye without (so much) tears ^^

Selagi anak belajar buat kenal lingkungannya, ga jarang lho muncul rasa takut dan kecemasan, misalnya terhadap monster, gelap, badut, dokter, binatang, pesawat, lift, atau lainnya. Hal ini sangat wajar karena mereka masih belum terlalu bisa bedain mana yang nyata dan mana yang ga, dan belum terlalu paham cara kerja benda-benda di sekelilingnya. Jangan-jangan mereka mikir lift itu makan orang! Hehe... Nah di antara berbagai kecemasan itu, yang rasanya hampir pasti akan dialami semua anak itu adalah kecemasan akan perpisahan (separation anxiety). Akan ada masa-masa anak kok kayaknya ngekorrrr mulu kemana kita pegi, kita ga keliatan dikit aja nangis, kita ke kamar mandi sebentar aja sampai digedor-gedor. Puncaknya, pas orang tua harus kerja dan ninggalin mereka di rumah, atau pas nganter mereka ke sekolah. Bisa-bisa nangis kejer :D

Hari ini saya baru aja dari preschool tempat saya kerja sebagai psikolog konsultan. Preschool ini belum terlalu lama buka, dan hari ini adalah hari pertama dimana anak-anak ga boleh lagi ditemenin sama orang tua ataupun pengasuhnya. Bisa dibayangin ya kondisinya gimana? Tangisan dimana-manaaaaa hwaaaaaa.....Ada yang nangis kejer di awal sampai guling-guling, tapi cuma sebentar dan setelah itu bisa main dengan tenang. Ada yang nangisnya di awal waktu sekolah, tengah-tengah sudah diem, tapi eh mendekati waktu pulang sekolah malah balik nangis lagi (mungkin buat dia rasanya lama banget kok ga pulang-pulang ya). Ada juga yang baru nangis di pertengahan, mungkin gara-gara liat temennya kenapa nih pada nangis semua. Ada yang nangisnya on and off. Nangis, terus bisa dialihin perhatiannya jadi diem, tapi pas keinget nangis lagi, terus tenang lagi waktu didistrak, muter-muter gitu aja siklusnya. Bahkan sampai ada yang ketiduran saking capek nangis. Fiuhhh....


Apa ya yang kira-kira bisa dilakuin orang tua supaya anak lebih gampang atasi kecemasannya? Beberapa tipsnya nih ^^

ü  Talk, talk, talk
Sebelum hari H (pertama kali ninggalin anak kerja, atau pertama kali anak harus belajar di sekolah tanpa ditemani), jangan bosen-bosen buat sounding. Buat semacam kalender di rumah, dan kasih tanda kapan harinya pas anak mulai harus berpisah sama ortu/pengasuh. Tiap hari, ajak anak liat kalendernya dan ingetin lagi. Yakinin, kalau dia bakal seneng-seneng di sekolah/ di rumah. Tanggapi perasaannya, kasih kata-kata yang nenangin, bisa juga dengan relate ke waktu lain dia bisa atasi rasa takut akan sesuatu. Misalnya, “Mama papa tahu adek mungkin takut yah kalau ga ada mama atau mba. Tapi coba deh inget-inget pas waktu lain adek takut, kayak takut berenang pertama kali. Eh ternyata pas adek sudah mau coba, malah adek suka ya sekarang berenang.”

ü  Baca cerita yang temanya perpisahan (dan pertemuan kembali)
Banyak kok buku-buku yang punya tema ini, kayak Llama Llama Misses Mama (Ann Dewdney), The Kissing Hand (Audrey Penn), Good-Bye Book (Judith Viorst), Benjamin Comes Back (Amy Brandt), atau Mama Always Comes Home (Karma Wilson). Misal ga nemu di toko buku, bisa beli online atau baca gratisan di www.wegivebooks.org. Bisa juga cari di youtube, ada yang versi audio visualnya. Yang jadi poin penekanan di cerita-cerita ini, bahwa memang ada kalanya anak harus pisah dengan orang tua atau pengasuh, but they do come back.

ü  Visualisasi rutinitas sekolah/rumah
Kita dapat buat semacam buku cerita sendiri (atau semacam visualisasi aja sih), yang isinya gambar-gambar tentang sekuens kegiatan anak. Kalau di sekolah, sekuensnya bisa circle time, waktu belajar, waktu makan snack, dan waktu penjemputan. Kalau di rumah, sekuensnya bisa waktu mandi pagi, waktu main, waktu makan siang, waktu tidur siang, waktu mandi sore, waktu makan malam, waktu ketemu mama papa. Buat anak yang belum punya sense of time, visualisasi dan patokan waktu berdasarkan kegiatan ini akan bantu banget. Anak jadi bisa punya antisipasi dan struktur, jadi lebih gampang deh untuk atasi kecemasannya karena bisa ngebayangin  kalau waktu ketemu makin dekat.

ü  Buat ritual perpisahan
Ciptain ritual perpisahan (kalimat atau gerakan atau nyanyian spesial), buat jadi transisi yang fun. Tau film Parent Trap ga? (jadul banget sih nih referensi filmnya, yang main Lindsay Lohan jaman masih kecil). Nah disana ada tuh ritual gerakan buat tiap kali ketemu sama pengasuhnya. Jadi sebelum pisah sama anak, dan pas waktu ketemuan lagi, lakuin deh ritual ini. Ajak anak role play situasi pas pisah dan ketemu, supaya makin siap.

ü  Jangan sembunyi-sembunyi
Saat beneran udah waktunya, tenangin anak, lakuin ritual perpisahan, terus segera pergi (dont prolong goodbye time). Jangan pergi diam-diam, karena malah bisa buat anak cemas karena ga tau kapan kita pergi. Nex time, yang ada dia malah makin clingy. Kalau anak nangis, sabar-sabar dan kuatin diri biar ga tergoda buat balik lagi.

ü  Perpisahan gradual
Pas hari H, sediaian waktu transisi sekitar 30 menit. Pakai teknik jam dinding untuk gentle reminder, “Nanti kalau sudah jam 8, jarum pendeknya di sini (tunjuk ke angka 8), sudah waktunya mama pergi kerja ya.“ Bisa juga pakai teknik jam weker “Nanti kalau alarmnya bunyi, artinya sudah waktunya adek masuk kelas, mama papa dan mba pulang. Nanti balik lagi jemput adek.”  Ingetin tiap 10 menit, dan makin deket waktunya makin sering ingetinnya, 5 menit atau 3 menit sekali.

Poin-poin di atas bisa buat bantu atasi kecemasan anak di setting rumah pas ortu perlu ninggalin anak kerja, atau di setting sekolah pas anak udah harus masuk kelas dang a boleh ditemenin lagi. Buat setting sekolah, ada beberapa tips tambahan yang bisa dilakuin ortu.
ü  Libatin anak untuk siapin barang-bawang bawaan ke sekolah
Ini bisa kasih antisipasi positif buat anak, dan kasih kesan kalau anak sudah cukup besar untuk dikasih tanggung jawab siap-siap, dan berarti cukup besar juga untuk belajar sendiri di kelas. Sesekali kasih kebebasan buat anak nentuin mau pakai baju yang mana ke sekolah (untuk sekolah yang ga pakai seragam), atau nentuin mau bawa makanan apa.

ü  Foto guru dan teman-teman
Untuk anak yang bener-bener mau masuk sekolah baru, kita bisa bantu dia buat adjust  ke lingkungan baru dengan ajak lihat-lihat sekolah dari beberapa hari sebelumnya. Cara lain,  siapin foto guru dan teman-teman sekelasnya, trus sering-sering kasih liat ke anak deh supaya lebih familiar.

ü  Bawain benda kesayangan
Benda kesayangan bisa jadi penenang buat anak, kayak boneka, mainan, atau selimut favoritnya. Bisa juga anak dibawain foto keluarga yang dapat ia lihat-lihat kalau kangen. Pas udah waktunya masuk kelas, bilang ke anak “Coba kasih lihat foto-foto kita ke bu guru dan teman-teman.“ Bisa jadi anak malah excited dan perhatiannya kealih dari perpisahan.

Last but not least....kitanya sebagai orang tua mesti coba untuk tetap tenang, karena gimana kitanya pastiiii akan ngaruh ke anak. Kalau kita tenang dan ga terlalu besar-besarin saat perpisahan, anak juga biasanya jadi lebih santai. Kerasa deh bedanya anak yang ortunya santai  sama yang ortunnya cemas (jangan-jangan yang ga siap itu ortunya? Hehehe...). Percaya juga anak punya resiliensi kok buat ngatasin ’masalah hidup’nya dia ini, jadi jangan khawatir kalau anak bakal jadi trauma ya. Pertama kali pisah, ortu harus antisipasi adanya rengekan dan jejeritan. Itu normaalll banget. Jangan terus gara-gara anak nangis, jadi balik lagi, atau nurutin anak kalau dia ga mau sekolah besoknya. Kalau kayak gitu terus, malah jadi lama-lamain proses adaptasinya. Dari pertama kali pisah sampai anak bisa bener-bener tenang ngadepin perpisahan, bisa makan waktu harian, mingguan, atau bulanan, tergantung sama temperamen anak dan proses yang dilakuin ortu dan pihak sekolah untuk nyiapin anak. Satu hal yang pasti, fase ini bakal terlewati kok. Percaya sama anak dan percaya sama diri sendiri. Kalau semua cara di atas udah dicoba dan ternyata masih ga berhasil juga, ikutin kata temen saya: 10S! Alias sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar! ^^


Tuesday, September 30, 2014

What kind of parents are you?

What kind of parents are you?

SITUASI 1: Anak 3 tahun lagi main-mainin bola. Dia lempar-lempar dan coba masukin ke keranjang basket mini yang memang ditaroh di ruang keluarga. Suatu saat salah sasaran dan kena gelas kesayangan anak di atas meja, pecah gelasnya.

Ortu A: “ADDEEEKKK!!!!!! Kan mama udah bilang berkali-kali kalau main ati-ati! Denger ga sih?! Ampun deh ini anak nakal bener sih, susah banget sih dinasehatin. Coba itu gelas jadi pecah kan. Kamu nyusahin mama aja, bahaya tau. Kamu mau kakinya luka? Udah sana masuk kamar (sambil dorong anak dengan kasar).  Ga jadi mama beliin es krim!”

Ortu B: ”Aduh sayang, awas-awas jangan disana nanti kena pecahan. Maafin mama lupa tadi naroh gelas di situ, ga langsung dibawa ke dapur abis adek minum tadi. Jadi kena bolanya adek deh. Cup cup sayang jangan nangis. Adek mau apa? Oh mau gelas kayak gitu lagi? Oke oke..nanti mama beliin lagi ya, kita cari yang  sama persis ya.”

Ortu C: ”Aduh adek.. mainnya lebih hati-hati dong, apalagi kalau di dalam rumah. Sekarang gelas adek pecah kan jadinya, berarti adek tidak punya lagi gelas Pooh ya.  Sini bolanya mama simpan, kita beresin dulu ini. Tapi karena banyak pecahan, nanti adek bisa luka. Jadi mama beresin dulu pecahan-pecahan gelasnya, nanti adek bantu buang ke tempat sampah aja. Deal?”

Ortu D: ”Mba..adek pecahin gelas tuh. Tolong beresin. Si adek suruh main kamar lain dulu aja waktu kamu beres-beres.”


----------------------------------------------------------------------------------------------------

SITUASI 2: A usia 8 tahun, sedang antri dokter dan di ruang tunggunya ada mainan-mainan. Ia main pesawat-pesawatan, lalu ganti ke puzzle. Ga berapa lama B datang dan ambil pesawat-pesawatan yang tadi dimainin A. A langsung rebut dan bilang ”Ga boleh. Aku belum selesai mainnya. Aku cuma mau main puzzle sebentar kok terus main pesawat lagi.” B ga terima, dan tarik-tarikan sampai akhirya sayap pesawatnya patah.

Ortu A: “A! Main yang bener kenapa sih? Heran..ga bisa ya kalau ga pake berantem kalau main? Udah sini diem, duduk! Awas kamu ya, kalau ga bisa dikasih tau besok-besok ga mama beliin mainan lagi!”

Ortu B: “A mau main pesawatnya ya? B, kasih pinjem ya ke A, kan kamu udah besar…ngalah ya sama adek? Ga mau? Hmmm, ya udah A..nanti mama beliin lagi ya pesawat-pesawatan yang lebih bagus dari ini. A main ini aja dulu nih yang lain banyak.”

Ortu C: ”A, itu kan bukan mainan punya A. Ini punyanya pak Dokter, dipinjemin buat main sama-sama. Jadi mainnya harus gantian ya. Itu sekarang sayapnya patah, harus bagaimana dong? Nah iya bener, A nanti harus minta maaf sama pak Dokter. Dan..nanti kamu pilih 1 mainan kamu buat gantiin pesawatnya, itu namanya tanggung jawab.”

Ortu D: (terokupasi baca majalah, anggap A dan B toh nantinya akan diem sendiri)
----------------------------------------------------------------------------------------------------

SITUASI 3: C (14 tahun) bawa pulang tugas dari sekolah, diminta untuk buat project  tentang berbagi kebaikan.

Ortu A: ”Ini ada waktu 5 hari buat kerjain kan. Tiap malam laporan ke mama pas mama pulang kerja. Kalau ga ada kemajuan, Sabtu ga usah pergi ke rumah temen! Inget ga project lalu kamu dapat nilai jelek, gara-gara malas belajar kan? Ikutin kata mama biar pinter, belajar yang bener.”

Ortu B: ”Wah kita punya waktu 5 hari nih buat bikin projectnya. Tugas terakhir kan nilai kamu kurang bagus ya, sekarang mama bantuin buat ya biar bisa dapat nilai yang lebih tinggi.”

Ortu C: ”Kita buat plan yuk. Kamu mau buat project yang seperti apa? Coba kamu pikir beberapa ide, coba googling, nanti kita diskusi mana yang kira-kira paling kamu suka dan bisa dilakuin. Nanti tiap malam kita bahas sama-sama ya, mama liat kemajuan kamu sampai mana.”

Ortu D: ”Kamu kan sudah besar, bisalah pikir ide sendiri. Di internet juga banyak bahan buat bantu.”


----------------------------------------------------------------------------------------------------

Kalau kita sebagai orang tua di ketiga situasi tadi, kira-kira reaksi kita seperti ortu yang mana ya?
Apakah seperti ortu A, yang gampang teriak-teriak main ancam? 
Apakah seperti ortu B, yang cenderung menuruti keinginan anak?  
Apakah seperti ortu C, yang bersikap tegas namun tanpa pakai kekerasan?  
Apakah seperti ortu D, yang ga terlalu peduli sama anak? 

Pada dasarnya, ada 4 gaya pengasuhan, berdasarkan kombinasi dua dimensi yaitu kontrol dan kehangatan.
  


Ortu A gayanya cenderung otoriter (authoritarian), kontrol tinggi tapi tidak terlalu hangat. Selalu ingin ngontrol anak, menuntut, tapi ga mau libatin anak dalam buat keputusan, dan ga buka ruang bagi anak untuk nanya, kasih masukan, atau nego aturan. Komunikasi cenderung satu arah. Because I said so! Do what I say! Titik. Dampak jangka panjangnya, anak cenderung kurang punya inisiatif, bisanya ikut-ikutan dan tergantung sama orang lain, diliputi rasa takut atau kemarahan terpendam. Ia bisa jadi anak yang rendah diri dan pencemas, atau sebaliknya jadi agresif, berontak, dan sneaky ’asal ga ketauan aja’. Hubungan dengan orang tua cenderung kurang dekat dan kaku, anak jarang diberi kesempatan ekspresiin dirinya.
 



Ortu B tipe permisif, hangat namun kurang kontrol. Tipe ini kurang memberi aturan dan batasan perilaku bagi karena sangat ingin menjaga hubungan baik dengan anak. Ortu juga punya kepercayaan bahwa kebebasan sepenuhnya akan menghasilkan anak kreatif dan percaya diri. "Whatever you say honey ..." Dampak jangka panjangnya, anak cenderung kurang mampu mengontrol dirinya, egois, dan manja. Ia biasa hidup di lingkungan yang semua keinginannya dipenuhi, padahal dunia nyata tidak seperti itu. Akibatnya sulit untuk coping saat terjadi hal-hal di luar keinginannya. Hubungan dengan ortu dekat, jarang ada pertengkaran, dan berpusat pada kebutuhan dan kemauan anak.


Ortu tipe C bergaya autoritatif, kontrol dan kehangatan sama tinggi. Tipe ini paham kalau perlu kasih aturan dan batasan buat anak, tapi ga main asal kontrol. Anak dikasih penjelasan kenapa ada yang boleh dan ga boleh. Anak juga boleh urun rembuk dan ortu suportif biar anak jadi mandiri. Prinsipnya "lets figure it out together...."  Ortu tipe ini nerapin disiplin positif (lengkapnya bisa dibaca di post disiplin positif ini). Dampak jangka panjangnya, anak punya self-esteem yang baik, bisa kontrol perilakunya, bisa lihat sudut pandang orang lain, dan kompeten secara sosial. Hubungan anak dengan ortu hangat dan terbuka, anak bisa kasih tau pendapat dan keinginannya tanpa takut, tapi juga sadar kalau ortunya ga akan main bilang oke aja. 



Ortu tipe D adalah ortu yang neglect (kontrol dan kehangatan sama rendahnya). Tipe ini lebih berpusat sama dirinya sendiri, kurang tertarik dengan apa yang terjadi pada anak, dan menganggap anak bisa berkembang tanpa bimbingan. Anak bebas mau ngapain aja, ga ada aturan. "Whatever, I dont care." Hubungannya cenderung dingin, jarang ada komunikasi antara orang tua dan anak, masing-masing urus kehidupannya sendiri-sendiri. Dampak jangka panjangnya, anak dapat merasa terabaikan dan ga diinginkan, hingga self-esteemnya pun rendah.


Ga ada orang tua yang sempurna, tapi saya yakin kita semua pasti mau yang terbaik buat anak-anak kita. Gambar berikut ini merangkum hasil penelitian tentang efek pola asuh terhadap perkembangan anak di berbagai aspek.



Jadi..ingin anak kita jadi seperti yang mana?

We, as parents, can control our parenting styles. 
We, as parents, have a very huge part in how our children will turn out. 

Seperti yang ditulis Dorothy Law...


It's all up to us, dear parents!